24 Jam di Magelang: Tersesat, Kehujanan, Sampai Trekking Sendirian

officialnomaden_BaWmuIIl5Z5

“Sometimes you just need a break. In a beautiful place. Alone. To figure everything out.” – Anonymous

Sebenarnya ini adalah kali kedua gue melakukan solo trip atau traveling seorang diri. Bedanya, solo trip ini hanya berlangsung singkat karena merupakan trip “tambahan”. And honestly, ini juga pertama kalinya gue ke Magelang.

Dulu, pariwisata Magelang cuma punya Candi Borobudur sebagai destinasi yang menjual. Sekarang pemkab setempat gencar mempromosikan pariwisatanya sehingga muncul destinasi baru seperti Ketep Pass, Desa Candirejo, Rumah Doa Bukit Rhema, Punthuk Setumbu, Hutan Pinus Kragilan, Sungai Progo (rafting), dll.

Ok, lets start the journey. Gue berangkat dari kota Jogja sekitar jam 11 siang lewat dikit. Dengan estimasi waktu tempuh sekitar 1 jam-an gue bakal sampe kabupaten Magelang jam 1 (ngaret-ngaret dikitlah). So, gue juga bisa langsung check-in di hotel yang ud gue booking via Tr*vel*ka untuk berisitirahat. Btw, jadwal kereta pulang gue adalah keesokkan harinya jam 5 sore. Karena harus mulangin motor sewaan di tempat gue nginep di Jogja jadi setidaknya siang-siang gue uda harus balik buat balikin motor plus makan siang dan beli oleh-oleh buat gebetan.

Dengan waktu yang kurang lebih hanya 24 jam. Gue harus pinter-pinter bagi waktu buat eksplor maksimal wisata disana. Tujuan utamanya adalah melihat sunrise di Candi Borobudur (via Hotel Manohara yang harganya setara ngegembel 2 hari di Bandung). Selain itu gue juga mau ke Gereja Ayam, Desa Candirejo, Hutan Pinus Kragilan, Rafting sungai Progo sama kulineran (banyak maunya ya). Am i success ? Well, just read this story below.

img_20171006121413_59d711256453c

Solo riding ke Desa Wisata Borobudur

Berbekal motor colongan sewaan dan Google Maps, gue berangkat dan memulai petualangan dengan solo riding. Kalo lihat dari peta sih, gue lewat jalur utara melewati Sleman-Perbatasan-Muntilan. Untungnya jalur yang gue lewatin uda bagus meski sedikit macet di daerah Sleman.

Setelah sampai di perbatasan dengan gapura bertuliskan “Selamat Datang di Jawa Tengah”, ternyata gue disambut dengan….hujan yang deras. Awalnya cuman gerimis biasa, makin lama makin gede. Dan gebleknya gua malah hajar aja padahal di motor ada jas hujan #efeklupa #efekterlalusemangat. Alhasil sweater dan celana gue basah kuyup, tapi kurang lebih di sisa perjalanan tiba-tiba sang mentari bersinar terang dan angin bertiup kencang dan ketika sampai di Desa Wisata Borobudur, outfit gue uda kering kaya habis di-dry cleaning. Wkwkwk.

Ngegas motor kira-kira sejam lebih akhirnya gue sampai di Desa Wisata Borobudur. Tapi karena men-set tujuan di Google Maps adalah Candi Borobudur, jadilah gue dibawa menuju kesana padahal sebenarnya gue mau ke hotel. Utak-atik HP, ternyata hotelnya uda kelewat (meski gak jauh-jauh amat). Akhirnya gue ke hotel dulu buat check-in, mandi dan istirahat sebentar. Hayati lelah mbak abis jadi kang ojek.

Btw, gue booking kamar di De Borobudur Hotel dengan harga sekitar kurang dari Rp 100.000 (manfaatin promo Trav*loka). Dengan harga sekian gue dapet kamar yang bisa buat dua orang dengan fasilitas kamar mandi di dalam, wifi dan kipas angin. Gue juga dapet welcome drink segelas teh manis hangat (lumayan daripada lumanyun). No TV dan AC karena buat gue hotel ya cuman buat numpang istirahat doank. Hanya ada kipas angin, tapi asli deh, karena cuaca disana cukup sejuk jadi gak berasa gerah atau kepanasan. Oiy, gue sempet foto-fotoin kamar hotelnya tapi sayangnya fotonya hilang sama HPnya juga. Jadi yang mau lihat hotel ini dan fasilitasnya gugling aja ya. Recomended koq buat backpacker.

Borobudur, mantan 7 Keajaiban Dunia

Habis mandi dan ngaso bentar gue mau langsung cabut ke Borobudur. Sebenarnya sih mau ke Hotel Manohara buat booking paket sunrise, tapi di perjalanan gue melihat awan-awan mulai mendung, semendung bajet di kantong gue #eh. Lalu gue berpikir, bisa jadi mau hujan nih, apalagi tadi pas baru masuk Jawa Tengah uda hujan deres.

img_20171006121430_59d711361c7e2

Tiba-tiba saja otak gue seperti langsung mendownload aplikasi kalkulator meski tanpa akses ke Apple App Store atau Google Play Store.

“Ke Hotel Manohara bayar sekitar 300-400 ribuan buat lihat sunrise. Tapi kalo misalkan besok subuh hujan mau liat sunrise apaan..”

“Kalo masuk Borobudur tiket biasa harga cuman 40 ribu.. yah sama-sama aja sih intinya ke Borobudur juga..”

Honestly gue gak permasalahin bayar sampe 400 ribu cuma demi lihat sunrise, asal worthed! Kalau misal gua bayar dan paginya hujan, otomatis gua rugi dan gak tau ada garansi (semacam ganti rugi lah) apa ngga. Ditambah gue sempet gugling juga dan baca pengalaman bule yang nyobain Borobudur Sunrise tapi malah hujan ditambah (katanya) pihak operator juga tidak memberikan informasi prakiraan cuaca dan hanya berorientasi sama duit aja (FYI, harga paket untuk bule itu 2x lipat). Jadi yang mau lihat sunrise di Borobudur mendingan nonton Dunia Dalam Berita dulu yah.

Setelah parkir motor sambil mikir di jalan, akhirnya gue memutuskan untuk ke Borobudur saat itu juga. Persetanlah dengan sunrise, bajet gue juga mulai menipis sih. Wkwkwkwkkwk. Bayar tiket Rp 40.000 dan meskipun itu hari Senin ternyata Borobudur masih tetap ramai, meski gak serame weekend atau libur panjang yang lebih mirip pasar.

Gue pun mulai mengeksplor setiap sudut dari candi Buddha terbesar di Indonesia itu. Ada beberapa turis asing yang dipandu oleh guide lokal dan hebatnya mereka bisa berbicara menggunakan bahasa ibu turis tersebut. Jadi bukan sekedar cuap-cuap bahasa Inggris aja. Salah satu cara jitu nih buat menarik wisatawan mancanegara kesini.

Karena gua solo trip jadi agak susah buat minta tolong fotoin. Sampai di bagian atas dimana banyak stupa naluri narsis gue pun keluar. Setelah clingak-clinguk akhirnya gue minta tolong sama petugas yang berjaga di sekitar candi buat fotoin. Tapi asli deh, di atas rame banget. Nyari spot yang sepi susah dan gue juga gak enak minta tolong fotoin terus. Hasil foto gue juga banyak orang yang jadi backgroundnya #kamprettt. Namun berkat kecanggihan teknologi kekinian gue bisa “membersihkan” mereka dari foto dan inilah hasilnya.

officialnomaden_BbX-BVQlt6N

Anyway, Borobudur pernah masuk ke dalam “7 Keajaiban Dunia” karena arsitekturnya sarat nilai sejarah yang kuat. Jangan lupa, pemerintah dan kementerian pariwisata juga telah menetapkan “10 Bali Baru” dimana Candi Borobudur adalah salah satu diantaranya. Jadi, Borobudur kini telah menjadi destinasi prioritas dan pariwisata unggulan agar wisman gak cuma ke Bali melulu.

Sekitar satu setengah jam gue mengeksplor Borobudur dan memutuskan pulang sekitar jam 4 sore. Waktu pulang cuaca sudah mulai mendung apalagi jalur keluar juga jauh banget. Pengunjung diarahin ke lapak-lapak para pedagang di sekitar candi. Disini kita bisa beli suvenir, makanan, baju, dll yang berhubungan dengan Borobudur. Tujuannya sih bagus buat memberdayakan pedagang dan produk lokal. Sayangnya, banyak pedagang yang menawarkan dagangannya dengan nada sedikit memaksa. Bahkan ada satu, yang meski uda gue cuekin tapi masih ngintilin jalan sekitar 15 meter. Buset deh.

img_20171006121507_59d7115bda4cd

Karena sedikit laper gue mau cari jajanan aja dan ketemulah sama ibu-ibu pedagang pentol. Beli goceng dan makan sambil jalan, tiba-tiba… zzzrrrrrrssshhhhhhh.. hujan deras turun sodala-sodala. Gue menepi di salah satu kios yang lagi tutup toko, nikmatin pentol ditemani hujan, sendirian sambil teringat akan kenangan.. ngenes amat yah. Hahahahaha.

Setelah reda, gue keluar dari kawasan Candi buat ambil motor karena parkirnya di seberang. Perjalanan ke hotel gak nyampe 10 menit dan setelah sampai hotel, hujan deras turun sampai malam. Mungkin karena efek lelah dari perjalanan tadi siang dan langsung jalan-jalan ke Borobudur gue langsung tidur pulas sampai jam setengah 9. Bangun-bangun perut keroncongan. Untung di seberang ada yang jual nasi goreng dan kawan-kawannya. Jadilah gue pesen mie godog, terus balik buat lanjut bobo ganteng.

Tomorrow and Plan A, B, C

Sebenarnya planning awal gue kemarin adalah, bayar paket sunrise di Hotel Manohara dan lanjut jalan-jalan ke Desa Candirejo. Karena cuaca dan dompet kurang bersahabat, jadilah gue kemarin hanya ke Borobudur aja. Borobudur sunrise sudah gagal, artinya gue mesti punya rencana cadangan. Pengennya sih ke Punthuk Setumbu tapi entah kenapa badan koq mager amat yah. Jam setengah 5 pagi gue ngintip dari kaca jendela.

“Lahhh… koq langit mendung yah, wah gagal lagi nih mau liat sunrise..” (bergumam)

Akhirnya gue berbaring sampai jam 6 pagi dan ku tengoklah lagi itu jendela, cuaca masih berawan kelam. So, what’s the plan? Akhirnya gugling-gugling dan ketemulah destinasi yang menarik. Purwosari Hills. Sebenarnya sih ini tempat untuk melihat sunrise. Karena gagal menyaksikan sang surya terbangun jadinya gue pengen cari pemandangan yang segar-segar aja. Apalagi Purwosari Hills masih terlihat menarik meski sudah daylight.

Daripada ngabisin waktu di hotel gue pun langsung cabut. Ngikutin google maps, gue diberi dua jalur pilihan. Agak lupa sih lewat jalur mana, tapi kalo gak salah lewat jalur utara. Perjalanan cukup berliku, ngelewatin kawasan Borobudur sama pasar yang lumayan rame. Tiba-tiba gue dibawa ke jalur yang aneh, atau mungkin itu memang jalurnya. Jadi gue melewati dusun dan rumah-rumah penduduk setempat lengkap dengan kebon-kebonnya, malah seperti mau masuk ke hutan.

officialnomaden_BaD_9w8lj6A.jpg

Dan setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai di titik Purwosari Hills (menurut mbah Gugel). And You know what? Disitu bener-bener sepi. Gak ada tanda-tanda kehidupan turisme seperti tempat parkir atau loket karcis. Hanya semacam lahan warga dimana ada bedeng dan sumur tapi menurut google maps disinilah titik itu. Setelah sempet bingung muncullah mas-mas dari balik pohon (sumpah kalo misalkan malam-malam dengan suasana sunyi gue juga bakal kaget lihat orang muncul dari balik pohon).

“Mas.. mas.. mau nanya donk. Ini desa Purwosari bukan ya?” tanya gue dengan nada bingung.

“Oh iya bener mas.”

“Kalo tempat buat lihat sunrise itu dimana ya?”

“Naik dari sini juga bisa koq.” (Sambil nunjukin arah jalan)

Oke, saya taro motor disini gakpapa kan ? Aman kan?”

“Iya aman mas.”

“Oke, makasih mas.”

Dan ternyata…. jalur trekking yang gue lewatin sepertinya bukan jalur resmi. Tapi kalau dilihat dari kontur tanahnya yang seperti sudah terbentuk jalan setapak, sepertinya jalur ini sudah pernah dilewatin sebelumnya. Dan akhirnya, gue trekking sendirian! Sumpah ya, rasanya garing banget. Gue pernah tersesat dan kehilangan jejak teman-teman gue pas trekking ke Bukit Sikunir, tapi meski sendirian at least disana masih rame dan banyak orang. Nah kalo ini, gue bener-bener alone. Damn!

Tanah agak sedikit becek, plus banyak akar-akar pohon dan bebatuan. Lumayan capek juga gue mesti perhatiin jalan karena kalo (amit-amit) sampe jatoh gak bakal ada yang nolongin gue juga. Sempet parno juga sih, gimana ya kalo misalkan gue tersesat atau dibikin nyasar sama “penghuni” disana. Ah whatever lah, yang penting kita sopan aja dan tujuan kita juga baik koq.

Setelah penuh perjuangan. Akhirnya gue sampai di atas. Yeeyyyy! Gue melihat ada semacam lapak buat berteduh dan dari jauh terdengar suara-suara anak muda yang sedang trekking sambil bercanda dan ketawa-ketiwi. Dari sini gue bisa melihat lanskap pemandangan alam yang indah. Langit biru, dengan kabut di sekitar gunung merapi dan merbabu ditambah siluet Borobudur dari kejauhan. Gue pun duduk untuk istirahat, foto-foto dan menikmati pemandangan alam yang indah. Sebenarnya sih gue belum berada di puncak dan harus sedikit naik ke atas lagi. Namun diatas ramai oleh pengunjung, ditambah pemandangan disana sepertinya juga gak jauh berbeda dari yang gue lihat sekarang.

Gue melihat beberapa orang turun lewat jalur seberang. So, emang bener kalo ternyata jalur yang gue lewatin bukan jalur resmi. Setelah 15 menit, gue memutuskan untuk turun. Yang pertama gue harus mengejar waktu ke destinasi berikutnya ditambah cacing-cacing di perut mulai berteriak. Yup, gue lewat jalur tak resmi itu lagi dan perjalanan turun ternyata lebih melelahkan. Huufftttt.

Mencari Cinta di Gereja Ayam

Setelah turun dan ambil motor lalu dokumentasi sejenak dari jalur ‘istimewa’ tersebut, destinasi berikutnya adalah Rumah Doa Bukit Rhema alias Gereja Ayam. Mengapa? Karena gue mau mencari Cinta disana. Si Cinta Dian Sastro maksudnya seperti di film Ada Apa Dengan Cinta? 2. Haha.

img_20171006102532_59d6f7ace4bab

Kebetulan jarak dari Purwosari Hills ke Gereja Ayam tak jauh. Tapi jalurnya lumayan ekstrim juga sih, lewatin pinggir parit plus jembatan dengan akar dan pohon besar di kanan-kirinya (sayang lupa foto). Kurang lebih 15 menit, akhirnya sampai di parkiran menuju Bukit Rhema. Setelah parkir dan naik ke atas, ternyata Gereja Ayam dan Punthuk Setumbu satu jalur. Jadi mereka yang habis hunting sunrise di Punthuk Setumbu pulangnya bisa langsung eksplor Gereja Ayam.

Jalan lurus ke Punthuk Setumbu, kalau ke arah kanan ke Gereja Ayam. Tak jauh dari sana ada loket dan bayar sebesar Rp 15.000. Ternyata dari loket masih harus jalan ke atas lagi. Sampai di atas, akhirnya kita bisa melihat bangunan dengan bentuk moncong burung yang terkenal itu (karena sejatinya bentuk bangunan gereja adalah burung merpati, namun oleh penduduk setempat disebut ayam hingga terkenal sampai sekarang). Hari itu pengunjung lumayan banyak meski itu adalah hari selasa.

img_20171006102400_59d6f7504831e.jpg

Btw simpan karcismu karena akan dicek lagi oleh petugas di pintu masuk bangunan untuk ditukar dengan snack gratis di lantai 2, dan jika ingin berdoa bisa ke lantai basement. Gue sempet bingung karena di dalam ruangan terdengar alunan musik bernuansa gospel. Pas gue tanya petugas apa lagi ada acara di dalam, ternyata memang setiap hari mereka menyetel lagu-lagu ini. Di tengah ruangan terdapat aula yang besar dengan bangku panjang untuk pengunjung beristirahat. Disana juga dipajang foto-foto dokumentasi ketika Gereja Ayam mulai dibangun.

Penasaran dengan bagian basement yang menjadi ruang untuk berdoa gue pun langsung turun ke bawah. Benar saja, disini terdapat bilik-bilik untuk berdoa bagi umat nasrani. Dan di sebelahnya terdapat musala dimana umat muslim bisa menunaikan ibadah solat disana. Wah, benar-benar rumah doa bagi semua umat. Salah satu bentuk toleransi yang patut ditiru. Ada pula plakat bertuliskan sejarah berdirinya Rumah Doa Bukit Rhema (Foto-fotonya pernah gue posting disini).

img_20171006102448_59d6f780adaab

img_20171006102504_59d6f790c8781

img_20171006102416_59d6f76045521

img_20171006102517_59d6f79d6a718

Puas melihat bagian basement, gue lanjut ke atas ke bagian mahkota biar kaya Rangga dan Cinta. Hahaha. Menelusuri tangga, di setiap lantai tergambar mural-mural di dinding dengan tema yang berbeda-beda. Sangat menarik. Sampai di atas alias bagian mahkota kita bisa melihat pemandangan indah, bukit menoreh, punthuk setumbu dan Candi Borobudur dari kejauhan. Sayang, di atas ada keluarga yang sok eksis dan lama banget disana. Jadinya gue cuma sebentar di atas lalu turun lagi.

Setelah kelalang-keliling, gue akhirnya ke lantai dua di bagian belakang gedung untuk mengambil snack gratis. Ternyata bagian belakang alias ekor dari Gereja Ayam sudah dirombak menjadi kafetaria. Hhhmm.. nih bangunan sudah tidak perawan lagi karena kalau lihat di Google bagian ekor masih alami. Dan snacknya adalah singkong goreng pake sambel. Agak aneh sih menurut gue makan singkong pake sambel tapi selama masih enak ya sudahlah. Mereka juga menjual nasi kucing dan sate jeroan. Berhubung perut sudah lapar sekalian aja deh makan disana. Untuk minuman, ternyata harus naik lagi ke lantai 3. Disana tersedia wedang ronde, kopi, teh, susu, dll. Oh iya, harga makanan cukup terjangkau. Cuman minumannya aja yang sedikit mahal (meski bagi gue masih tergolong standar), karena mereka menggunakan mesin pembuat minum modern.

Dan menu brunch gue adalah: nasi kucing dengan lauk ayam suwir, singkong goreng pake sambel dan wedang ronde. Anyway, desain exterior dan furniture kafetaria ini minimalis namun modern. Bangunan semi terbuka dan gue bisa melihat pemandangan hijau bukit menoreh yang memanjakan mata, a good eye-theraphy for me. Makanan dan minumannya sih murah, tapi pemandangannya yang mahal.

img_20171006102543_59d6f7b7787e1

officialnomaden_BZh59WmlrY2

Kembali ke Jogja dan moral cerita

Karena sudah hampir siang, gue memutuskan untuk pulang ke hotel. Setelah bersih-bersih dan mengemas barang gue check out dari hotel sekitar jam 11. Perjalanan balik ke Jogja memakan waktu sekitar 1,5 jam (menurut Google Maps).

Dalam perjalanan, ternyata gue kembali mendapat salam perpisahan berupa hujan yang deras #again. Ada sedikit cerita konyol, di tengah hujan deras tersebut dan mencoba menempuh jalan si gugel berisik banget.

“Turn right..” (padahal jalan masih lurus)

“Turn right..” (hhmm..ini jalan kan ke kiri. Koq dia nunjuk ke kanan)

“Turn right..” (asli bawel banget, rasanya pengen gue gampar. Apa lagi error nih maps)

“Turn right..” (sabar kampret. Koq tiba-tiba ksl y)

“Turn left..” (pas gue belok ke kanan sesuai jalurnya. Wah somplak nih gugel).

Dan beneran deh. Hujan derasnya cuman sebentaran doang atau mungkin hanya daerah itu yang hujan. Lalu cuaca kembali cerah dan gue pun sampai dengan selamat sentosa (dan baju yang basah langsung kering dengan sendirinya). Kembali ke kota Jogja. Yiipppyyy..! Bye-bye Magelang… Semoga kapan-kapan bisa kesini lagi.

Pesan moral dari cerita ini adalah… belajar fleksibel karena planning trip gue sama realita di lapangan jauh berbeda. Siapin juga rencana cadangan dan persiapan maksimal mulai dari akomodasi sampai transportasi. And the most important thing is.. try to get lost bcoz that’s the true meaning of solo traveling. Solo trip adalah belajar mengenal diri kita sendiri, bagaimana membuat keputusan dan mengukur batas kemampuan diri. Jadi, cobalah untuk menepi sejenak dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan.

Selamat bersolo trip kawan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s