Eksotisme Kampung Portugis

2018-01-21-18-42-50

Pertama kali gue ketemu dan kenal sama Mbak Ira Lathief adalah saat trip ke Cirebon Juni tahun lalu. Di trip yang diinisiasi oleh suatu komunitas tersebut, Mbak Ira Lathief dengan bangga mengenakan t-shirt berwarna merah bertuliskan Jakarta Food Traveler sekaligus mempromosikan tour organizer miliknya dengan dagangan utama “keliling kota Jakarta”.

Honestly, gue menanggapinya (dalam hati tentunya) dengan skeptis.

“Orang Jakarta masa jalan-jalannya malah ke Jakarta. Dan pake tur pula. Zzzz…”

Tapi setelah mem-follow instagramnya gue sering melihat bahwa tur keliling Jakarta ini ternyata peminatnya cukup banyak. Mulai dari turis asing, ekspatriat, turis dari luar kota sampai orang Jakarta sendiri yang menurut cerita Mbak Ira rata-rata berasal dari kalangan menengah ke atas.

Mengapa dagangan keliling kota Batavia ini bisa laris manis? Well, saat ini memang sudah banyak bertebaran tour organizer untuk mengeksplorasi keindahan ibukota dan tidak terpusat hanya di Monas, TMII, Ancol atau Kota Tua saja. Mereka mengeksplor sudut-sudut terpencil, bahkan yang terpinggirkan dari ibukota. Sebut saja tur Pecinan Glodok atau Chinatown, Pasar Baru alias Little India, tur ke Sunda Kelapa, Cilincing, tur ke rumah-rumah ibadah, dll.

Belakangan ini gue memang tertarik untuk melihat sudut-sudut lain di kota dimana gue dilahirkan dan dibesarkan. Jangan sampai sebagai orang Jakarta gue malah nggak tahu wisata di kota sendiri. Kebetulan pada awal tahun lalu gue mencari wisata berbau Portugis dan ingin mencicipi egg tart (maklum, masih belum bisa move on karena gagal ke Macau #AAARRRGGHH!!!).

Searching punya searching, ketemulah sama tur Jakarta Food Traveler (atau memang sudah ditakdirkan berjodoh) yang akan mengadakan wisata jalan-jalan alias walking tour ke Kampung Tugu yang juga sering disebut sebagai Portugese Village dengan biaya tur sebesar Rp 60.000 + konsumsi kuliner lokal Rp 40.000. And i’m proudly present, this is my first trip on 2018! Wkwkkwkwk.

Kebetulan Januari-Februari ini cuaca sedang tak bersahabat. Hujan terus mengguyur. Mau treking ke bukit atau gunung takut kesamber gledek #amit2. Mau mencari vitamin sea, laut butek gara-gara hujan, ditambah ombak juga tinggi, terlalu bahaya jika naik kapal laut dan pahit-pahit bisa terluntang-lantung di pulau karena gak bisa pulang. Bogor atau puncak uda biasa, Bandung uda bosen. Yowes lah, cari trip yg anti mainstream, dan pilihannya adalah mengunjungi “Kampung Portugis“. YES!

P_20180121_111010_vHDR_On

***

“Eh si Deny… gile uda mau nyampe setahun koq lu baru ikut tur gue?”

Begitulah respon Mbak Ira saat ketemu gue dan kaget juga kalau ternyata gue akhirnya ikut turnya. Sebenarnya belum nyampe setahun juga sih. Dihitung-hitung baru tujuh bulan lah semenjak trip ke Cirebon kemarin. Hahaha.

Btw, Kampung Tugu ini berada di antara dua kecamatan, yakni Kecamatan Koja dan Kecamatan Semper. Mengapa disebut Kampung Portugis? Karena disinilah banyak tinggal keturunan Portugis yang dibuang oleh Belanda dari Malaka (Malaysia) ke Batavia dan tinggal di hutan dan rawa-rawa. Mereka hidup sebagai budak alias tawanan perang sampai Belanda membebaskan mereka dengan syarat pindah keyakinan dari Katolik, yang merupakan agama mayoritas dianut oleh bangsa Portugis, menjadi Protestan, agamanya orang Belanda, serta mengubah nama mereka menjadi agak sedikit londo.

Tawaran tersebut diterima oleh masyarakat kampung tugu sehingga mereka disebut kaum mardijkers, atau orang-orang yang merdeka. Pada prosesnya tak semua keturunan Portugis menetap di kawasan tugu, sebagian ada yang pindah ke Tangerang, Bandung, Papua sampai ke Belanda. Masyarakat Portugis sebelum dibuang ke Batavia juga telah kawin campur dengan penduduk lokal seperti bangsa melayu, india, jawa dan maluku. Karena itu keturunan Portugis saat ini memiliki perawakan yang lebih mirip orang Indonesia timur meski wajah khas Eropa masih sedikit tersisa (sebagian bahkan ada yang bermata biru).

Meski demikian, keturunan Portugis di Kampung Tugu mayoritas masih menganut agama Kristen Protestan. Ditambah asimilasi dengan budaya lokal menghasilkan suatu budaya baru baik dari musik maupun kuliner, salah satunya adalah keroncong tugu. Dan gue sendiri pun baru ngeh kalau musik keroncong itu berasal dari sini #keplakjidat.

P_20180121_103305_vHDR_On

Nama Kampung Tugu sendiri berasal dari kata Por-TUGU-Ese. Namun ada juga sejarahwan yang mengatakan kata Tugu berasal dari ditemukannya prasasti tugu tak jauh dari tempat ini. Yah apapun namanya tempat ini tetaplah kampung Portugis. (Dan selesai sudah pelajaran sejarah dari gue #ffiuuhhh).

***

Meski gue tinggal di Jakarta Utara, ternyata Kampung Tugu berada jauh di timur utara Jakarta. Karena posisi gue di barat jadilah perjalanan cukup memakan waktu. Untunglah tur diadakan pada hari minggu dimana jalanan terasa lenggang. Tahu sendirilah daerah tugu berada di sekitar Tanjung Priok dan Cilincing yang menjadi sarang kontainer. Kalau hari biasa banyak kontainer lewat dan macet, serem dan ngeri cuy lewatnya.

P_20180121_101722_vHDR_On

Beruntung Google Maps gak bikin gue nyasar. Meski datang telat 10 menit dari jadwal, ternyata tur belum dimulai #budayangaret. Sejatinya tur dimulai jam 09.00 dengan first spot Gereja Tugu, namun karena kebaktian ke-2 sudah dimulai jadilah tempat ini akan menjadi spot terakhir.

Kami berkumpul di Sekolah Tugu Bakti yang berada tepat di belakang Gereja Tugu. Setelah kumpul, perkenalan dan briefing, walking tour kami dimulai dengan mengunjungi rumah masa depan berukuran 2×1 alias…kuburan.

“Eeeerrrr.. gue bayar Rp 100.000 buat jalan-jalan ke kuburan”, begitu pikir gue dalam hati sambil tertawa geli.

Tetapi inilah salah satu keunikan Gereja Tugu dimana terdapat pemakaman tepat di belakangnya. Makam ini sendiri juga istimewa karena hanya keturunan Portugis atau yang memiliki silsilah dari sejarah Kampung Tugu saja yang dimakamkan disini. Mayoritas adalah kuburan dengan nuansa Kristen dari bentuk makam maupun batu nisan dengan nama-nama marga Portugis seperti Salomons, Abrahams, Quiko dan Michiels.

 

Tak jauh dari gereja, kami melanjutkan perjalanan ke Gang Kurus, atau lebih tepat disebut jembatan kecil yang menghubungkan rumah penduduk menuju Gereja Tugu. Ada sebuah sungai yang pada masa kolonial sering dilewati oleh Belanda karena transportasi perahu dan sampan saat itu masih sering digunakan. Namun sungai tersebut kini hanya menjadi saluran air saja dan telah berwarna keruh dan pekat.

 

Tur dilanjutkan dengan penjelasan dari guide bahwa kampung tugu meski berasal dari komunitas Kristen namun tinggal dalam ruang lingkup betawi muslim. Karena itulah warga keturunan Portugis disini juga sering menyebut diri sebagai orang betawi atau betawi kristen. Keberagaman tidak menyebabkan friksi di antara warga sekitar. Masyarakat membaur, saling menerima dengan rasa toleransi yang tinggi.

Kemudian kami mengunjungi salah satu sesepuh, yakni Oma Deni (seriously, selain nama gue pasaran, ternyata ada juga cewek yang pake nama ini). Oma Deni meski bukan orang asli Tugu tetapi ia telah menikah dengan orang Tugu dan tinggal menetap disini sejak tahun 60-an. Kini, Oma Deni yang adalah orang Surabaya keturunan Ambon, masih aktif melayani pesanan katering untuk makanan-makanan khas Tugu.

 

Perjalanan dilanjutkan ke rumah Ibu Ena untuk bersantap siang. Anyway, di depan halaman rumah Bu Ena dibangun bale-bale yang biasa digunakan oleh pemain musik keroncong untuk “mini konser”. Di pojokan terpajang alat-alat musik keroncong. Lalu ada sebuah meja kecil, dimana sudah dipersiapkan kuliner yang kami pesan sebelumnya.

Oh ya, dengan biaya Rp 40.000 peserta tur mendapatkan one package kuliner khas Kampung Tugu seperti:

  • Pisang Udang. Mirip dengan kue nagasari atau kue pisang karena adonannya sama. Bedanya, isiannya adalah udang, pepaya muda dan bawang goreng. Disebut kue pisang, namun tidak memakai pisang, hanya daunnya saja sebagai pembungkus. Biasanya kue pisang udang adalah teman ngopi. After one bite, rasanya bueennerr-buennerr endeuusss. Ada manis dan gurih-gurih gitu, maknyosss!
  • Ketan unti. Kue ini biasanya disajikan saat berduka atau ada yang meninggal. Ketan diberi topping parutan kelapa dan gula merah. Kurang lebih sama dengan ketan yang dijual di pasaran, hanya saja lebih bercitarasa manis.
  • Apem kinca. Kalau dengar kata kinca gue jadi inget kinca duren. Namun menurut Bu Ena, saus kinca untuk kue apem ini tidak menggunakan duren (karena duren lagi mahal, apalagi belah duren #eh). Karena dari kecil keluarga gue suka bikin kinca duren sebagai cocolan roti tawar. Makanan ini bikin gue baper dan bernostalgia. Hahaha.
  • Portuguese egg tart. Ini dia yang gue incer. Sebenarnya egg tart bukanlah makanan khas Tugu. Tapi karena citarasa Portugis yang kental dan sering dijual di kawasan bekas koloni Portugis (seperti Macau #uhuk), egg tart akhirnya “dibawa” untuk melengkapi sajian kukiner khas Kampung Tugu. Rasanya? Hhhmm.. sepertinya gue mesti nyobain yang di Macau #sigh.

 

Selain ke-4 kue khas tersebut. Bu Ena juga menjual makanan khas Tugu lainnya yang bisa dipesan jika ingin makan berat (tentunya harus bayar lagi). Makanan tersebut adalah:

  • Pindang Serani. Kata serani berasal dari Nasrani yang merupakan agama yang dianut oleh warga Kampung Tugu. Berbeda dengan pindang umumnya, meski sama-sama menggunakan ikan bandeng, warna kuahnya cenderung hitam. Ini karena bumbu-bumbu seperti asam, serai, jahe, kunyit, cabe, bawang merah dibakar terlebih dahulu (bukan ditumis) sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas.
  • Gado-gado siram. Dari segi isian tak jauh beda dengan gado-gado umumnya. Perbedaanya ada pada bumbu kacang yang bukan diulek, tapi dimasak kemudian disiram ke atas sayuran dan lontong.

 

***

Kedatangan bangsa Portugis ke Kampung Tugu menyisakan peninggalan sejarah dan budaya turun temurun. Salah satunya adalah musik keroncong. Dahulu, keroncong dinyanyikan sebagai hiburan untuk melepas lelah setelah pulang bekerja. Dengan alat musik seperti ukulele, masyarakat tugu memainkan keroncong dengan lagu-lagu berbahasa Portugis. Kata keroncong sendiri berasal dari bunyi “crong, crong” dari ukulele yang kemudian dilafalkan menjadi keroncong.

Saat kami berkunjung ke rumah Bu Ena, terlihat beberapa alat musik khas keroncong seperti macina, prounga, jitera hingga selo. Dalam kunjungan kami berikutnya ke rumah salah satu anggota orkestra Keroncong Tugu, Arthur James Michiels, kami sempat disuguhkan sebuah lagu keroncong yang bisa membuat orang berdansa (meski tidak semua berdansa karena jaim).

 

Pak Arthur juga menjelaskan tentang Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) dimana kini hanya menyisakan enam marga saja (Abrahams, Andries, Cornelis, Michiels, Broune dan Quiko). Selain itu, masyarakat kampung tugu juga masih melaksanakan tradisi Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi yang sudah melekat sejak zaman nenek moyang dan masih dilestarikan.

Rabo-Rabo berasal dari kata rabo, dalam bahasa Portugis yang artinya ekor. Acara ini dilaksanakan setahun sekali dalam rangka perayaan natal dan menyambut tahun baru. Tradisi ini merupakan ajang silaturahmi warga keturunan Portugis dimana satu keluarga mendatangi keluarga lainnya, dengan alunan musik keroncong yang disambut dengan minuman.

Dari satu keluarga yang didatangi harus ada minimal satu anggota keluarga yang mengekor atau mengikuti rombongan untuk mengunjungi keluarga lainnya dan begitu seterusnya. Setelah semua keluarga berkumpul, pada kunjungan keluarga terakhir (biasanya keluarga tetua atau sudah sepuh) akan diadakan jamuan makan besar.

Ada pula tradisi Mandi-Mandi yang diadakan pada minggu pertama atau seminggu setelah tahun baru. Layaknya lebaran, masyarakat tugu saling maaf-maafan dengan mencoreng wajah satu sama lain menggunakan bedak cair. Tahun lalu, tradisi ini diikuti oleh Xanana Gusmao, mantan perdana menteri Timor Leste. Warga keturunan Portugis di seluruh dunia memang memiliki rasa kekerabatan yang kuat, salah satunya adalah Timor Leste dimana disana ada banyak warga keturunan Portugis.

***

P_20180121_132710_vHDR_On

Kunjungan terakhir kami adalah Gereja Tugu. Sebuah gereja tua yang didirikan sebagai tempat ibadah warga kampung tugu. Berbeda dengan gereja protestan yang dibangun oleh Belanda dengan arsitektur kubah, gereja ini dibangun dengan gaya Portugis dengan atap berbentuk kerucut. Sebenarnya ini bukanlah gereja pertama warga keturunan Portugis, setelah sempat berpindah-pindah gereja dengan berbagai alasan, kini Gereja Tugu menjadi rumah ibadah kaum mardijkers yang diresmikan pada tahun 1748 dan masih digunakan sampai saat ini.

 

 

P_20180121_130234_vHDR_On

Di samping bangunan gereja juga ada sebuah lonceng. Namun lonceng yang asli kini disimpan di rumah bergaya betawi di depan gereja yang menjadi tempat tinggal pendeta. Gereja Tugu berada di bawah sinode GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat). Melihat interior gereja dari dalam, sangat terlihat bangunan gereja bergaya klasik dengan bangku panjang dari kayu jati. Ada juga sebuah ruangan di bagian belakang yang menjadi tempat pendeta dan majelis berdoa sebelum memulai ibadah. Disana juga terdapat foto-foto para pendeta yang menggembalakan jemaat kampung tugu mulai dari zaman kolonial sampai zaman now.

***

Mengapa saya ikut walking tour ke Kampung Tugu? Sejatinya ada banyak sejarah dan budaya tersembunyi di kota Jakarta. Dengan masifnya perkembangan zaman, modernisasi dan industrialisasi membuat cagar-cagar budaya dan peninggalan sejarah ini mulai tergerus, terpinggirkan dan terlupakan.

Bersyukur kini banyak bermunculan tour organizer keliling kota Jakarta dengan guide yang profesional dan berpengalaman yang bukan hanya mengajak berkeliling saja tetapi menjelaskan seluk-beluk destinasi tersebut. Well, kalau bukan karena Jakarta Food Traveler gue gak mungkin bisa mencicipi kuliner khas Kampung Tugu racikan Bu Ena, bertemu Pak Arthur dengan musik keroncongnya yang legendaris, sampai mengunjungi Gereja Tugu yang sarat sejarah.

Ada banyak keindahan kota Jakarta yang tersembunyi, ada cerita dibalik peristiwa yang tidak kita tahu. Biarlah wisata kreatif Jakarta ini bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga menjadi edukasi untuk menjaga dan mencintai kebudayaan dan sejarah dari kota keberagaman ini.

Terima kasih kawan untuk waktu yang indah ini, dan sampai bertemu kembali di tur Jakarta selanjutnya..

IMG-20180121-WA0110IMG-20180121-WA0097IMG-20180121-WA0031

Advertisements

11 thoughts on “Eksotisme Kampung Portugis

    1. Ada koq, di pinggiran Jakarta utara dan hampir terlupakan ini..
      Kalo suka sejarah pasti suka museum. Krna lbh suka sejarah+budaya jadinya saya lbh suka k tempat sperti kampung tugu ini. Hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s