Ketika Mengalami “Musibah” Saat Traveling

officialnomaden_BWWqMqhlXBw
I am strong !

Traveling lekat dengan pengalaman dan kenang-kenangan indah, bisa lewat foto-foto yang akan diunggah di media sosial atau lewat kejadian dan momen yang tak terlupakan. Namun bagaimana jika saat ngetrip kita justru mengalami musibah, bencana, atau kecelakaan yang sebenarnya berusaha kita hindari? Well, gue pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali dalam satu waktu.

Koq bisa? Yes! Musibah tak pernah pilih-pilih sehingga para korban hanya bisa berujar “namanya juga musibah, kan gak ada yang tau”. Gue bahkan pernah menceritakan kisah malang ini dalam suatu workshop storytelling dan fasilitator menanggapinya dengan “duh..den koq lu apes banget sih?!”

Bukan hanya itu, waktu tragedi ini menimpa gue, teman-teman gue pun semua berkomentar “apes banget sih luh”, “kena suwe lu den”, “multiple karma kayaknya, hahahha”.Β Sebagai korban gue hanya bisa pasrah, dan malah kejadian ini memberikan pelajaran bahwa traveling tak selamanya indah.

Oh ya, sebelum kisah ‘multiple karma’ ini gue juga pernah mengalami kejadian tak mengenakkan. Contohnya longsor di Bromo ditambah gerimis tipis yang membuat gue gagal lihat sunrise di Pananjakan. Atau ketika kaki gue jatuh nyusruk di Pulau Sebesi padahal besok subuh mau trekking ke Krakatau #shittttt. And of course, cerita bencana beruntun gue ini terjadi di lokasi lain.

Tanpa banyak basa-basi gue akan menuturkan salah satu momen tak terlupakan dalam hidup gue ini, beserta tips-tips bila kalian (suatu hari nanti #amitamitsih) mengalami kejadian serupa menurut versi masing-masing.

This is my story..

Cerita kemalangan dan bencana ini terjadi pada akhir Juni 2017 saat trip ke Semarang-Jepara-Karimunjawa bersama teman-teman sesama backpacker, tepat saat libur lebaran. Sejatinya gue adalah salah satu orang yang menghindari liburan di high season karena cost yg cenderung mahal. Tapi karena lagi pingin jalan-jalan, yowislah pergi aja dengan bajet super minim.

dsc09520

Sebenarnya trip ini memang sudah penuh drama. Dari tiket kapal yang sulit didapatkan, elf untuk pulang ke Jakarta yang batal kami sewa karena ada peserta yang cancel, bahkan ada yang ketinggalan pesawat karena jadwal keberangkatan dari pulau Karimunjawa ke Jepara (dan belum ke Semarang) yang molor. For me, ada drama tersendiri yang membuat gue kapok dan akhirnya memutuskan bahwa “GUE GAK AKAN PERNAH LAGI JALAN-JALAN SAAT HIGH SEASON!!!” tentunya ada pengecualian jika ada sponsor atau ada yang membiayai perjalanan gue. Wkwkwwk.

All right, sebelum trip ini pengeluaran gue cukup banyak dengan harus membayar ini-itu. But thanx God dengan duit sisa gue masih bisa beli tiket kereta Jakarta-Semarang seharga Rp 255.000 untuk kelas bisnis. Sejujurnya bagi gue harga tersebut cukup mahal, karena prinsip gue adalah naik kereta kalau bisa jangan lebih dari Rp 200.000, backpacker banget kan, hahahha. Tapi its okay lah, harga tersebut sudah cukup murah ditambah kelas bisnis pula.

Cerita berlanjut kala gue menghubungi CP dari trip ini yang bernama Acil. Skip, skip, skip tanya tentang trip segala macam, Acil bilang kalau beberapa orang berencana sewa elf untuk pulang ke Jakarta. Ada 10 orang yang menyatakan minat, termasuk gue. Dengan biaya sewa Rp 3 juta all in, per orang harus membayar Rp 300.000. Yah bolehlah daripada gak bisa pulang.

hrvinawo_BW9tjBjnKKt

Drama terjadi ketika menjelang hari H. Beberapa peserta ada yang cancel, kebetulan yang batal itu adalah yang ikut sewa elf. Dari 10 orang, tiga menyatakan batal, beberapa peserta lain ada yang sudah dapat tiket kereta meski dengan perjuangan berdarah-darah (tahu sendiri lah, pulang pas arus balik sob). Karena cost yang sudah tinggi, diputuskan bahwa kami batal sewa elf. Ketika gue tanya berapa ongkos naik bus dari Semarang ke Jakarta, katanya sekitar tiga ratus ribuan. Hhmmmm.. okelah, mesti siapin duit buat beli tiket nih.

My swimming smartphone and i lost my eyeglass

Kita tinggalkan sejenak cerita mengenai tiket pulang ke ibukota. Gue akan menceritakan awal mula bencana yang menimpa secara bertubi-tubi. Dimulai pada hari ke-3 trip dimana kami masih hoping island dengan mengunjungi pulau tak berpenghuni di Karimunjawa, Pulau Cemara Besar. Hamparan pasir putih, laut nan biru dengan gradasi tosca membuat kami serasa di pulau pribadi. Ada yang main air, foto-foto narsis, sampai menikmati ikan bakar di pinggir pantai.

lattyynt_BWZ5jR_n7a8_1

Ada cerita menarik, jadi salah seorang teman kami yang bernama Dede (cewek lho ya) ngambek gara-gara gak diajak foto, hahhahhaha. Jadilah selama kami di pulau dia cembetut terus. Bahkan saat foto rame-rame dia terkesan seolah malas ikut. Kebetulan pulau ini tidak memiliki dermaga, jadilah kapal harus ‘parkir’ sekitar 100 meter dari bibir pantai. Kemudian kami berjalan menuju pulau dengan air setinggi pinggang orang dewasa.

Bencana dimulai. Setelah puas mengeksplor pulau pribadi ini kami berjalan menuju kapal. Kebetulan gue berada paling belakang bersama Dede si Princess Ngambek #wkwk. Yah demi menyenangkan hati dia biar gak cemberut dan muka ditekuk terus akhirnya gue berbaik hati untuk melakukan sesi fotografi.

“Eh de, foto dulu coba… gayanya begini.. nah begitu..”

Setelah itu, raut wajahnya agak sedikit lempeng dan gak mengkerut lagi. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju kapal dan…..sekonyong-konyong atau langkah kaki gue lagi oleng kebawa arus (jangan lupa, kami berjalan melewati air setinggi pinggang), tiba-tiba gue jatuh dan kejebur #byurrrr. Kebetulan gue tidak bawa tas atau dry bag dan hanya menggenggam HP. Jadilah HP gue ikut ‘tenggelam’.

Gue pun mencoba bangun, dan Dede juga baru nyadar kalau gue jatuh.

“Eh lu kenapa???!!” tanyanya sedikit kaget.

“De.. hp gue.. hp gue..!!!” yang tak lepas dari pegangan meski gue jatuh.

“Jiaaahhhh… ada banyak foto-foto kita kan d hp lu,” pekiknya.

Kami pun langsung membuka casing, melepas baterai supaya tidak konslet. Walaupun HP itu sudah mati. Di tengah kepanikan itu gue menyadari sesuatu.

“Lho? Kacamata gue mana ya????” kata gue tiba-tiba sambil memegang my face dimana tak ada kacamata yang biasanya selalu terpasang.

“Lah, kacamata lu hilang???” tanya Dede lagi.

Jadilah gue dan Dede sibuk mencari-cari kacamata. Kita ngubek-ngubek pasir. Sampai naik ke daratan lagi dan cari di pinggir pantai. Oh iya, kebetulan sebelum pulang gue di foto oleh Dwi dimana dalam salah satu pose gue melepas kacamata. Mungkin gue kelupaan naroh di pasir dan tersapu ombak. Sudah dicari-cari tapi hasilnya nihil.

dsc087081

Teman-teman yang sudah sampai di kapal melihat kami dengan kebingungan sampai salah satu ABK menghampiri kami yang sibuk mencari. Ada juga bapak-bapak dengan istri dan anaknya dari kapal yang baru saja sampai dan bertanya apa yang kami cari. Ketika tahu kami mencari kacamata, jadilah mereka ikut membantu kami bersama mas ABK yang juga ikut ngubek-ngubek pasir di pinggir pantai.

Namun seperti mencari jarum di tumpukkan jerami. Akhirnya gue nyerah, Dede sendiri merasa tidak enak hati dan masih bersikeras mau mencari bahkan mengatakan suruh aja kapalnya pergi biar kami masih disini sampai kacamatanya ketemu (entah serius atau ngga, tapi kalau dipikir-pikir horor juga sih di pulau tak berpenghuni kaya gini #wkwk). Kami memutuskan untuk berhenti mencari, saat naik ke kapal dijelaskan bahwa kacamata gue hilang dan HP gue kecemplung.

FYI, yang hilang adalah kacamata minus, dan minus gue mencapai 700 kiri-kanan. So, jika tidak menggunakan kacamata otomatis gue akan “buta” karena penglihatan yang samar dengan minus setinggi itu. Gebleknya, gue bisa kelupaan bawa kacamata cadangan. Padahal biasanya tiap kali ngetrip gue selalu bawa meski gak pernah dipake juga.

Anehnya, entah pemandangan yang terlampau indah. Saat di pulau tersebut, my sight really clear like a crystal. Pandangan gue bener-bener jernih. Seperti gak pakai kacamata. Mungkin kacamata gue ketinggalan di pasir dan tersapu ombak saat gue difoto sama Dwi. Atau mungkin memang jatuh saat gue kepleset. Yang jelas gue hampir tidak menyadari kalau kacamata gue hilang.

dsc09323

Well, di siang hari sih pandangan cukup jelas. Tapi kalau sudah malam hari, errrrrr…. better dituntunlah. Ketika kami sampai di dermaga dan kembali ke homestay, hari sudah mulai gelap, dan gue pulang sambil dirangkul dan dituntun oleh Fahrul. Hhuufffftttttt….

Tragedi Jaket Baru dan Wingko Babad

Pulang dari Karimunjawa sebagian besar dari kami memutuskan untuk extend di Semarang dengan berbagai alasan. Ada yang karena ketinggalan pesawat, ada pula yang tidak dapat tiket bus. Sebagian ada yang beruntung masih bisa mendapatkan tiket kereta di tengah arus balik yang crowded.

Gue sendiri sebenarnya sudah punya plan tersendiri. Seperti yang gue katakan, bajet gue sangat tipis dan ternyata sudah hampir habis saat di Karimunjawa. Kabar baiknya, gue belum (ambil) gaji(an). Dan kabar buruknya, gue masih kerja di perusahaan zaman old karena gaji masih dikasih cash pake amplop. Ckckckck. My plan is, gue mau mencoba menghubungi orang kantor supaya gaji gue ditransfer dan gue bisa beli tiket pulang. But you know lah, HP gue modar dan tak menyimpan nomor kantor, ditambah kacamata gue hilang. Surely, saat itu gue sempet merasa frustrasi and desperate pake bangetttt!

Di Semarang, gue booking homestay bareng William di Jalan Indraprasta. Teman-teman lain ada yang menginap di hotel, ada pula di hostel dormitory. Layaknya kids zaman now, kami jalan-jalan mulai dari ke Lawang Sewu malem-malem biar uji nyali, nongki di Kedai Blendoek dan Simpang Lima serta kulineran (which is semakin menguras dompet gue).

dsc09570_1

Tragedi kembali terjadi keesokan harinya. Gue, William, Jojo dan teman William yang lagi mudik di Semarang (lupa namanya) dan kebetulan ketemu disana memutuskan untuk sarapan soto ayam dan lanjut nongkrong di sekitaran kota tua atau Little Netherland.

Setelah brunch, kami melewati toko Wingko Babad Cap Kereta Api. William dan Jojo memutuskan untuk masuk dan membeli oleh-oleh. Karena gak beli, gue hanya duduk di bangku toko sembari melepas jaket karena cuaca sangat panas dan gerah. Dan jujur saja, saat itu pikiran gue lagi kalut memikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang.

Selesai membeli oleh-oleh, kami berempat langsung menuju Tekodeko Koffiehuis untuk ngopi (kami duduk di lantai dua). Sambil ngobrol-ngobrol, kemudian gerombolan cewek-cewek datang. Mereka tak jadi ngopi dan memutuskan untuk kulineran karena kebetulan hari itu adalah hari terakhir festival kuliner (entah apalah namanya).

Petaka terjadi ketika kami membayar bill dan beranjak pergi. Setelah ambil tas gue kebingungan dimana jaket gue. Bahkan gue sampai naik lagi ke lantai dua tapi gak menemukan jaket gue. Mencoba mengingat-ingat ternyata jaket gue lepas saat mereka beli oleh-oleh di wingko babad. Dengan langkah seribu kami kembali ke toko tersebut yang untungnya tidak terlalu jauh. Mencari di bangku dimana gue menaruh jaket, namun sudah raib.

Gue pun bertanya kepada pelayan di toko dan jawaban mereka adalah:

“Maaf, kalau di bangku kami tidak tahu…”

“$@^>}=^$#*@%^@%%… SHHHIIIIITTTTT…!!!!!!”

Entah apa yang harus gue katakan, tapi di satu sisi gue gak bisa menekan mereka karena ini adalah keteledoran gue sendiri. Tak lama kemudian, gue baru sadar kalau gue kelupaan mengambil handuk dan sempak yang gue cuci di homestay Jalan Indraprasta #Alamakkk.

officialnomaden_BWxPfWMFX77

Cerita diakhiri dengan bertemu grup cewek-cewek, dimana gue menceritakan kisah kemalangan gue (lagi) dan tanggapan mereka beragam. Ada yg iba, ada yang memberi saran, atau kesel karena gue teledor dan apes terus. Setelah itu, dianterin naik motor sama Tatik, salah satu teman kami yang wong asli Semarang, gue kembali ke homestay untuk mengambil handuk dan sempak yang anehnya dua benda itu tidak hilang. Zzzzz…

Dompet yang benar-benar kempes

Sedari pulau Karimunjawa sepertinya banyak di antara kami yang mengalami masalah pelik soal finansial. Ada yang bajetnya terbatas dan syukur-syukur masih kebeli tiket bus, ada yang menunggu transferan dari ortunya buat beli tiket pesawat, ada pula yang sampai nebeng pulang ikut temannya meski harus berdesak-desakan dengan barang bawaan di mobil. Opsi terakhir inilah yang mau gue coba peruntungannya.

Masih ingat Dede yang ngambek di pulau itu? Well, dia punya teman yang kebetulan lagi di Semarang karena mengikuti kegiatan di wihara. Katanya, dia mau mencoba nebeng pulang sama temannya itu naik mobilnya dengan mengganti uang bensin sebesar Rp 100.000. Gue pun bertanya apa masih ada slot buat gue. Meski sedikit enggan, akhirnya ia mencoba membantu dengan menanyakan ke temannya lebih dulu.

Lewat perantara HP William, gue bertanya apakah gue bisa ikut nebeng dan jawabannya adalah “TIDAK BISA” karena sudah banyak barang bawaan dan si Dede pun juga dipaksa-paksain biar muat. Dia bertanya gimana gue pulang dan hanya gue jawab lihat nanti saja #longestsighhhh. Oh yaaahhh, mungkin inilah yang bikin pikiran gue kacau dan melayang-layang sehingga gue kehilangan jaket denim yang baru saja gue beli itu di Wingko Babad.

dsc08846

Kembali ke cerita gue dan Tatik yang mengambil handuk dan sempak gue yang tertinggal. Gue yang uda mulai desperate akhirnya bertanya pada Tatik apakah gue bisa menginap di rumahnya. Dia bilang rumahnya kecil dan saat ini ada banyak saudaranya disana karena masih dalam momen lebaran.

Melihat gelagat yang kurang beres akhirnya dia bertanya,

“Udah den, mendingan sekarang kamu cerita yang sebenarnya aja masalah kamu apa..”

Dengan berat hati akhirnya gue menceritakan semuanya. Bahwa bajet gue habis, duit yang tersisa di dompet tinggal sedikit. Gue juga bercerita perihal gaji yang tertahan di Jakarta dan juga rencana gue seandainya tidak terjadi musibah seperti HP mati gara-gara kecemplung dan kacamata hilang.

“Yah gue tahulah, mau minjem duit pun juga kaga enak. Mana ada sih yang mau minjemin duit ratusan ribu sama orang yang baru kenal,” kata gue dengan nada pasrah.

“Ya udah den, ayuk kita ketemu yang lain dulu dan cari jalan keluarnya”, jawab Tatik.

Anyway sebelum gue diantar Tatik ke homestay, grup cewek-cewek memutuskan untuk jalan-jalan ke Kampung Pelangi, sementara yang cowok ke Sam Poo Kong. Adegan berikutnya adalah curhatan nan ngenes gue di hadapan para cewek, yang kembali melihat gue dengan iba. Tatik setelah berdiskusi dengan Linda (Yes, she is my savior! Dialah sang juruselamat gue) akhirnya memutuskan untuk membantu gue. Mereka menelepon ke agen tiket dan mencari bis pulang ke Jakarta malam itu juga.

officialnomaden_BWmkx5Gl7bd

Tiket pulang ke Jakarta naik berkali-kali lipat karena momen arus balik. Tiket yang masih tersedia adalah bus eksekutif dengan harga Rp 450.000 (asli, shock gue sama harganya). Linda meminjami gue uang Rp 500.000 dengan pesan gue membereskan semuanya dulu, seperti betulin HP, kacamata, dll, habis itu baru ganti kalau sudah ada duitnya. Oh well, gue sangaaattt sangaaatttttt sanggaatttt bersyukur bertemu Linda dan Tatik.

Hampir saja ketabrak bus

“Den, kayaknya banku bocor deh..”

Di tengah perjalanan menuju pool bus PO. Haryanto di Jalan Siliwangi, Semarang, Tatik yang nganterin gue kesana merasakan kalau ban motornya kempes dan bocor. Btw pool bis tersebut berada tepat di depan minimarket Alfamart, Tatik pun memutarbalik motornya ke seberang jalan dimana ada tukang tambal ban tak jauh dari sana.

Sambil nunggu ban ditambal, gue kambali curhat tentang cerita ngenes gue untuk kesekian kalinya. Tatik masih berusaha memberikan support sambil berbagi kisah bahwa dia juga pernah mengalami musibah (menurut versinya) saat naik gunung. Hari sudah menjelang malam, and well tanpa kacamata penglihatan gue pun mulai samar-samar jika sudah gelap.

“Den, nanti kamu nyeberang ya ke pool. Puter baliknya jauh ini dan kasihan Linda uda nungguin aku di Panandaran.”

Eeerrrr… sejujurnya dalam hati gue mau bilang “duh pliss, gue jalan kaga keliatan nih. Anterin gue keq sampe depan”. Tapi gue sadar kalau Tatik sudah amat sangat membantu gue dan gak mungkin gue masih minta bantuan lagi, even untuk hal kecil seperti biar gue gak nyeberang. Dari tukang tambal ban, kami berjalan sekitar 100 meter. Tatik sengaja berhenti di kanan jalan raya, atau tepat di separator pemisah jalur. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan pelukan hangat dimulailah tantangan ini.

Saat itu sudah malam, sekitar jam tujuh. Acil katanya sudah menunggu di depan Alfamart dan sekarang gue harus menyeberang kesana. Entah gue berdoa sebelum nyeberang atau ngga dan hanya mengandalkan sorot lampu yang menandakan kendaraan, gue mencoba menyeberang. Setelah ragu-ragu gue langsung melompat.

“PPPPPPPPOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMM….!!!!!!!!!!!!”

Terdengar bunyi klakson yang panjang dan nyaring, jelas klakson tersebut adalah peringatan! Banyak motor yang mencoba lewat dengan kencang, meski grogi gue melambaikan tangan dan, Puji Tuhan, mereka memberi jalan biar gue bisa nyeberang.

Ya, gue hampir saja ditabrak! Entah oleh bus atau truk gandeng, yang jelas kendaraan yang sangat besar sampai klaksonnya terdengar nyaring. Dengan gontai gue jalan menuju Alfamart dimana akhirnya gue bertemu Acil.

dsc087832_1

“Huhhhh.. gue hampir ketabrak tadi,” kata gue sambil naruh tas di bangku.

“Hahhhh, seriusan. Kapan?!!” tanya Acil dengan sedikit panik.

“Itu tadi yang bunyi klakson panjang itu,” jawab gue.

“Ohh.. bunyi klakson tadi gara-gara lu nyeberang??!! Tapi lu gak apa-apa kan. Gila, kalo sampe lu ketabrak sih gue bakal telepon Julian dan anak-anak suruh mereka kesini,” katanya lagi masih dengan nada panik.

“Yaudahlah. Untung gue gak kenapa-napa. Gak usah dibahas lagi dan ini cuman lu yang tahu.”
(But sorry, akhirnya malah gue yang membongkar cerita ini di blog. Haha)

Anyway, gue sama Acil sengaja datang duluan untuk membayar tiket yang sudah dibooking via telepon. Setelah itu muncul Hervina, William dan Pingkan yang akan naik bus di pool ini juga meski kami berbeda bus dan jurusan. Gue sama Acil satu bis dengan tujuan Pulo Gebang, Hervina menuju Bogor, sedangkan Pingkan dan William ke Pulo Gebang juga tapi bisnya beda dengan kami.

Adegan berikutnya adalah bus datang, kami hampir tertidur sepanjang perjalanan sampai melewatkan makan tengah malam. Esok paginya, kami sampai di Pulo Gebang dan masih harus naik commuter line. Gue sama Acil berpisah di stasiun Manggarai karena dia menuju Lenteng Agung sedangkan gue ke Duri. Sampai di Duri, gue naik bajaj dan pulang ke rumah (kadang gue masih ketawa kalau ingat naik bajaj sendirian). Sampe rumah yang pertama kali gue lakukan adalah membongkar lemari dan mencari kacamata. Fiuhhhh.. senang rasanya akhirnya bisa “melihat” lagi.

Keesokan harinya gue masuk kantor (hari selasa) dengan sedikit ocehan bahwa masuk kantor setelah libur lebaran adalah hari senin kemarin, lalu mengambil gaji sambil bercerita tentang kemalangan gue yang ngenes abis pas liburan. Menggunakan HP kantor, gue video call Linda dan Tatik, lalu menceritakan kejadian “hampir ditabrak pas nyeberang”, tak lupa meminta nomor rekening Linda. Yah sekaligus memberi kabar bahwa everything is OK, meski terkena musibah bertubi-tubi gue berhasil melewatinya dan kini gue baik-baik saja.

All is well.

***

dsc09428

Musibah memang bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, tak peduli waktu dan tempat. Disini gue akan merangkum beberapa tips untuk menghindari hal-hal seperti yang gue alami.

  • Persiapkan bajet lebih. High season identik dengan apa-apa serba mahal, termasuk untuk liburan. Kesalahan gue adalah sebenarnya bajet gue sudah tipis tapi masih mencoba memaksakan, ditambah berspekulasi yang malah dirusak oleh “bencana” yang datang.
  • Pastikan sudah punya/pegang tiket pulang pergi. Oh ya, awalnya kita memang berencana sewa elf, tapi karena batal jadilah kami harus mencari tiket pulang masing-masing. Sekali lagi, gue berspekulasi akan mendapatkan tiket bus dengan harga murah which is really impossible. Seharusnya gue langsung hunting tiket tapi malah menunda-nunda. Well, di trip sebelumnya gue selalu beli tiket PP baik kereta, bus atau pesawat. Entah kenapa kali ini gue malah “lupa” beli tiket pulang. Anggap saja, mungkin biar gue bisa ceritain lewat blog ini.
  • Prepare for the worse and the worst. Gue pernah baca di blog seorang travel blogger yang mengatakan bahwa ia selalu membawa dua buah dompet, dompet yang sering digunakan sehari-hari dan dompet khusus jalan-jalan yang hanya berisi barang penting seperti kartu identitas, kartu debit dan uang cash secukupnya. Hanya untuk jaga-jaga bila kita dicopet atau kecolongan di tengah jalan. Kita harus mempersiapkan segala hal demi kemungkinan terburuk. Salah satu kesalahan gue adalah “lupa” membawa kacamata cadangan (yang biasanya selalu gue bawa). Dan kenapa HP gue bisa kejebur, padahal gue uda ingat untuk bawa sarung hp anti air tapi ketinggalan di rumah. Hhhhhhhuufftttt.. pelajaran berharga deh.
  • Tetap tenang. Masalah boleh ada. Jika kita punya masalah, itu juga membuktikan bahwa kita masih hidup dan selama masih hidup artinya masih ada jalan keluar. Pikiran gue yang kalut malah membuat gue gagal fokus dan susah berkonsentrasi. Alhasil gue malah “lupa” dimana menaruh jaket yang akhirnya harus gue ikhlaskan (buat yang nemu jaket denim warna biru di Wingko Babat Cap Kereta Api di Semarang tanggal 2 Juli 2017 jam 13.00 WIB, semoga jaketnya bisa jadi berkah dan bermanfaat untukmu). So, jangan lupa untuk tetap tenang di tengah badai cobaan. Pengalaman ini pun menjadi pelajaran berharga ketika gue sedang mengalami masalah yang lebih berat di hari-hari berikutnya.

Ketika musibah terjadi saat traveling, awalnya kita akan merasa kaget, takut dan cemas. Tetapi cobalah untuk tetap tenang. Carilah solusi dan jalan keluar. Jangan menganggap ini sebagai kesialan atau ketidakberuntungan, tetapi jadikanlah sebagai pengalaman berharga agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

Sejujurnya saat menulis artikel ini gue sempat berhenti berkali-kali, membuat draft sampai tiga kali dengan mencoba menghapus beberapa kalimat. Sampai-sampai gue berpikir “masa iya sih gue harus nyeritain keburukan gue sendiri”. Tapi memang sepertinya gue harus menceritakan kisah ini, apalagi ini sudah menjadi trip yang unforgettable buat gue pribadi. Sharing is caring, biarlah kisah ini bisa menjadi inspirasi, hikmah atau penyemangat bila sewaktu-waktu kalian mengalami musibah.

Every journey has their own story. Maybe its not always happy but its still your journey. Just tell everyone about the best part of it, even in a worst moment..

Advertisements

35 thoughts on “Ketika Mengalami “Musibah” Saat Traveling

    1. Iya mbak, nyeberang ke Karjaw dari dermaga Kartini pas ombak lagi tinggi jg bahaya..
      Ternyata ada jg yah yg merasakan trip penuh drama selain saya. Haha..

      Like

    1. Hahaha.. Iya kak, setelah trip ini akhirnya ngerasain juga trip yg disponsorin dengan fasilitas hotel berbintang dan makan di resto + masih dapat fee uang saku..
      Tapi ya ini pas ada kerjaan sebagai blogger sih. Hahhaha..

      Like

  1. Ini teledor yang berujung keapesan. Di satu sisi aku turut prihatin bang untuk keapesannya. Semoga lain kali ga apes lagi. Cerita abang juga bisa jadi pembelajaran untuk aku agar lebih teliti dan hati-hati, karena btw aku juga orangnya suka ceroboh dan pecicilan.
    Di sisi lain cerita ini kan udah terjadi nih, boleh kali ya aku ketawa dikit, ehh banyak deng. Abisnya kocak sih wkwk

    Liked by 1 person

    1. Wkwkwkw.. Pas nulis dan mencoba mengingat-ingat kejadiannya saya jg suka ketawa koq. Antara apes, ngenes tapi emang kocak jg sih..

      Like

  2. Kalo buat yang berkacamata seperti saya, mungkin bawa kacamata cadangan adalah ide yang juga bagus.
    BTW, Wingko Babat Mulyono (Cap Kereta Api) adalah langganan saya kalo ada di Semarang. Jaraknya gak terlalu jauh dari Stasiun Tawang.

    Liked by 1 person

    1. Yup, saya jg biasanya selalu bawa. Entah kenapa kemaren bisa lupa. Mungkin karena berpikir everything is gonna be okay.. Eh ternyata… πŸ˜…πŸ˜…

      Masih di sekitaran kota tua, saya dan tmn2 ngopi2 di tekodeko yg gak jauh dari sana..

      Like

  3. Berhubung sudah kejadian jadi tidak apa apa ya kalau saya ketawa baca ceritanya.
    Tapi kalau pas ngalamin sendiri ketika kehabisan dana hadeuh bisa nangis bombay deh..
    Every journey have they own story , setuju banget.
    And its a part of your life journey..

    Liked by 1 person

    1. Hahahha.. Bisa dibilang kemarin emang modal nekat mbak. Biasanya saya jg spare duit lebih buat jaga2..
      Jadinya bajet tipis + kena musibah yah hampir modar deh..

      Like

    1. Waduh, turut berduka buat hpnya mbak..
      Oiy, hp saya yg kecemplung itu sempat masuk ICU (tempat servis). Namun “dokter” menyatakan sudah wasalam dan tak bisa di-“hidup”-kan lagi meski sudah berganti rumah sakit..😒😒

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s