1.762 Km

kereta-api_20171130_104824

Saat menulis artikel ini, bulan Februari sudah mendekati akhir. Dari jatah 28 hari yang dimilikinya hanya tersisa empat hari lagi. Gue teringat akan sebuah perjalanan dan petualangan setahun silam dimana gue melintasi tanah Jawa demi mendaki ke puncak Gunung Bromo.

No! I won’t telling you about my trip to Bromo! Ini adalah kisah perjalanan kala melintasi pulau Jawa dari barat ke timur dengan menunggangi si ular besi, apalagi kalau bukan naik kereta api #TutTutTut. Kebetulan beberapa hari lalu gue juga baru saja mengkhatamkan sebuah buku berjudul Aleph karangan Paulo Coelho. Buku ini menceritakan perjalanan sang penulis kala melintasi Moscow sampai Vladivostok dengan kereta Trans-Siberia. Jarak tempuhnya gak main-main, 9.288 km!

So, tiba-tiba hati gue tergelitik untuk menulis kisah ini. Kisah perjalanan dengan salah satu rute terpanjang KAI. Kereta yang gue tumpangi adalah KA Matarmaja, rangkaian kereta yang melewati jalur pantura dan melintas di kota-kota besar seperti Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, kemudian berbelok melintasi jalur selatan melewati Solo, Madiun, Blitar hingga ke Malang.

Titik awal keberangkatan adalah Stasiun Pasar Senen di Jakarta dan pemberhentian terakhir adalah Stasiun Malang dengan jarak tempuh 881 km dan waktu tempuh selama kurang lebih 16-17 jam. Karena naik-turun di dua stasiun tersebut dan menggenggam tiket pulang-pergi (PP), jadilah gue menempuh jarak 1.762 km, dan yang paling penting, perjalanan kali ini adalah solo trip! #fiiuuhhhh

PROLOG

Oke, seperti cerita gue sebelumnya kalau gue bekerja di perusahaan jadul yang hari sabtu masih tetep ngantor. Kerja setengah hari dari jam 8 sampai jam 1, tapi waktu efektif kerja cuma dari jam 08.30 – 11.00, selebihnya kita disuruh duduk bengong nungguin kantor, Zzzz #kansialan.

Dengan waktu “kabur” yang sangat minim itu gue akhirnya mencoba mensiasatinya. Jadi hari sabtu gue cuti, tapi karena naik kereta api berjam-jam lamanya dan waktu habis di jalan, jadilah hari jumat gue kerja setengah hari, siangnya langsung ke stasiun, lalu hari senin gue masuk kantor siang, kerja setengah hari lagi. Bener-bener perjuangan bingits demi jalan-jalan, wkwkwkkwk.

Kurang lebih tiga minggu sebelum hari H gue uda beli tiket Matarmaja. Kenapa Matarmaja? Ya karena murah, namanya juga backpacker, HAHAHHA. Oke, jadi gue sampai di Malang jam delapan pagi, besok sorenya gue langsung cuss balik ke Jakarta. Yowislah, wong cuman ke Bromo doank koq, jadi tripnya bener-bener dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Segala persiapan gue lakukan demi petualangan kali ini. Maklum, ini pertama kalinya juga gue naik kereta sampai belasan jam. Sayangnya gue malah melupakan persiapan dan perbekalan penting dalam perjalanan (apa itu? baca terus ya). Dan bagaimana cerita perjalanan gue bersama Matarmaja? Silakan scroll lebih lanjut…

IMG_0957

Terjebak bersama keluarga cemara Depok

Karena sudah packing sehari sebelumnya, setelah pamit di kantor gue langsung cuss menuju stasiun Pasar Senen kurang lebih 45 menit sebelum keberangkatan. Gate dibuka dan setelah mengantri akhirnya gue bisa duduk di dalam gerbong. Anyway, tempat duduknya meski tidak disekat oleh penyangga tangan, bisa memuat tiga orang. Mau badan kurus atau gemuk pokoknya dipaksa harus muat. Selain itu kita juga duduk berhadap-hadapan (namanya juga kelas ekomoni). Jadilah satu “ruang” duduk itu jika full akan berisikan enam orang.

Enaknya, kita bisa mengobrol dengan penumpang lain (barangkali dapet teman baru, rekan bisnis atau jodoh). Tapi gak enaknya, badan kita langsung “mati gaya”, bergerak juga susah, lempengin kaki aja mesti permisi dulu. Belum lagi kalau ada yang lagi makan, yang makan risih diliatin terus, yang nontonin juga jadi ngiler.

Kebetulan posisi tempat duduk gue ternyata berisikan rombongan keluarga besar. Tepat di depan gue ada mas-mas berusia sekitar 40-an, dia mengaku berasal dari Depok dan sedang dalam perjalanan menuju Malang. Usut punya usut, jadi saudaranya (entah adik atau kakaknya #lupa) menikah dengan orang Malang. Dan keluarganya datang semua buat acara seserahan. Total ada 17 orang yang berangkat dengan membawa seserahan, seperti roti buaya, baju, dll.

Lalu si Mas Depok (untuk lebih mudah dalam penokohan, sebut saja dia demikian), memperkenalkan keluarganya. Di sebelahnya duduk ayahnya, lalu ada cowok keturunan Arab keling (muka Arab, tapi suwer badannya geseng) berpostur tinggi kerempeng yang menggendong batita, yang adalah adik iparnya Mas Depok.

Istrinya si Arab keling juga ikut tapi dia duduk tepat di belakang gue, tapi lakinya ini sering mondar-mandir di dalam gerbong. Lalu ada ibunya, saudaranya, omnya, tantenya, dll. Singkat kata gue terjebak dalam sekumpulan keluarga cemara versi Depok ini.

Btw, tadi gue bilang dalam satu ruangan akan diisi oleh enam orang. Entah bagaimana ceritanya, dari sekian banyaknya penumpang dalam gerbong, ruangan kami hanya diisi oleh empat orang. Selain Mas Depok dan bapaknya, sesekali omnya, kakeknya atau Arab keling, ada juga orang asing selain gue, yakni Mas Madiun (dia gak terlalu banyak ngomong. Kenapa gue panggil begitu karena dia sempat ngomong di telepon kalau sedang dalam perjalanan pulang kampung ke Madiun).

Perjalanan dimulai. Waktu menunjukkan jam tiga sore lebih sedikit. Saat kereta perlahan-lahan maju dan meninggalkan stasiun, gue langsung deg-degan. Ah, siapapun yang hendak berpetualang pasti merasakan apa yang gue rasakan. Perasaan senang, excited, dan kegembiraan meluap-luap, yang hanya muncul sesaat kemudian digantikan oleh perasaan jemu mengingat lamanya perjalanan kali ini.

Gue dan Mas Depok memulai percakapan remeh temeh. Asal, pekerjaan, tempat tinggal, dsb. Sesekali kami main dan becanda sama anaknya Arab keling yang tanpa sengaja menendang pipi gue waktu dia lagi digendong #hadeuuhhh. Tiba-tiba bapaknya Mas Depok membuka sesuatu. Yup, sesuatu yang terlupakan oleh gue, ransum!

Karena menganut prinsip irit, terkadang gue menahan lapar di perjalanan sambil berharap kemurahan hati teman-teman seperjalanan yang bawa banyak cemilan #wkwkwk. Mentok-mentok paling makan popmie di jalan aja deh. Tapi gue lupa kalau gue pergi sendirian, dan ini adalah kereta api dimana tak ada rest area untuk berhenti, numpang pipis atau makan #SHHIITTT.

Sambil ngobrol, si bapak mengunyah nasi putih dan ayam goreng. Kereta berhenti di stasiun Cirebon Prujakan, Mas Madiun langsung melompat keluar, gue pikir dia mau ke toilet. Ternyata kereta berhenti cukup lama disini. Beberapa orang terlihat turun, ada juga penumpang yang baru naik. 10 menit kemudian, Mas Madiun datang dengan kantong plastik berisi nasi bungkus dan air minum. WHAATTT??!! Beli dimana dia??!! Mau nanya uda kepalang tanggung, tar gue keluar beli nasi kereta malah jalan, kan berabe urusannya.

Okelah, ternyata kereta ini berhenti di beberapa stasiun, ada yang sebentar, ada yang sampai lama. Dan lagi-lagi gue melihat adegan yang menelan ludah. Melihat Mas Madiun makan (gak pake nawar-nawarin pula, at least ke teman-teman sebangkunya) dengan lahap. Perjalanan dilanjutkan, dengan obrolan-obrolan singkat, sesekali ke toilet, atau duduk dengan berbagai macam gaya dan posisi agar pantat tidak tepos.

majapahit

Makan “Bakso” di kereta

Karena ini adalah perjalanan pertama gue naik kereta selama berjam-jam, jadi ada beberapa hal yang baru gue sadari selama perjalanan. Misalnya, saat beranjak bangun menuju toilet gue melihat salah satu kerabat Mas Depok memakai mukena lalu sholat sambil duduk (jujur, ini pertama kalinya gue melihat orang sholat sambil duduk).

Lalu ketika gue sengaja berdiri di lorong pintu masuk dekat toilet karena lelah duduk berjam-jam, ada seorang ibu yang meminta permisi karena ingin sholat di lorong itu (dan gue bertanya-tanya dalam hati apa dia tahu dimana arah kiblat). Sebagai nonmuslim, tentu ini di luar ranah gue. Pernah suatu kali gue bertanya sama teman kantor bagaimana jika dia ingin menunaikan ibadah sholat saat di kereta, dia bilang “dimana arah kereta melaju, disanalah arah kiblat”.

Ketika kereta berhenti di stasiun Semarang Tawang, beberapa pria turun untuk sekedar melepas lelah, meski hanya berdiri di samping gerbong. Ada yang menyalakan rokok (karena di dalam kereta dilarang merokok), ada yang mengobrol, atau ada yang mencari ransum. Gue pun ikut keluar mencari angin, yang kemudian menyadarkan gue lagi akan “kelupaan” gue berikutnya, sebungkus rokok.

Karena tahu di kereta gak boleh ngerokok, jadi gue berniat membeli rokok setelah tiba di stasiun Malang. Sebenarnya gampang-gampang aja kalau mau dapet rokok gratisan. Tinggal dekati salah satu dari mereka, yang lagi smoking tentunya, ajak-ajak ngobrol dan setelah rokoknya habis dan masih mau ngisep lagi pasti dia akan nawarin, disitulah kesempatan emas datang #wkwkwkk #mentalbokekpacker. In fact, cara ini sangat jitu dan tiap kali ngetrip gue selalu dapet free smoking baik dari teman perjalanan, supir, pemilik homestay, dll #hohoho.

Entah kenapa saat itu gue gak mood buat ngajak ngobrol siapapun. Hanya ingin menapaki kota Lumpia meski hanya sesaat dan gak kemana-mana pula. Kereta kalau berhenti lama biasanya ada pengisian ulang air, penggantian petugas seperti pramugara/pramugari, polsuska dan kondektur. Setelah kereta berangkat, dimulailah kembali ritual membosankan selama duduk di kereta.

Mas Madiun sudah tidur, posisinya emang pewe karena di pojokan, dengan wajah ditutup buff. Entah jam berapa setelah tidur ayam dan lewat tengah malam saat kereta berjalan, Mas Depok bertanya kepada saudaranya dimana gerbong restorasi. Ternyata untuk menuju gerbong restorasi kami harus melewati dua gerbong.

Buat yang belum tahu, gerbong restorasi adalah gerbong khusus yang sengaja di-set menyerupai kantin, dengan harga makanan dan minuman yang membuat dompet meringis. Di jam-jam makan, pramugari akan melewati setiap gerbong dengan membawa nampan untuk menawarkan makanan mulai dari nasi goreng, nasi kuning, popmie, kopi, teh atau snack.

Karena perut sudah keroncongan akhirnya gue ikut Mas Depok ke restorasi. Disanalah akhirnya gue melihat pemandangan manusia-manusia yang menggelepar seperti ikan asin yang dijemur. Di antara banyaknya barang bawaan, ada banyak orang yang mulai tertidur. Beberapa menghalangi jalan karena kakinya menjorog keluar ke tengah gerbong.

STASIUN

Setelah sampai, ada satu ruangan kecil seperti dapur khusus. Mas Depok memesan kopi. Karena lapar gue akhirnya memesan mie instan dalam cup yang menjadi makanan sejuta umat dalam perjalanan.

“Mbak ada popmie gak?”

“Gak ada, habis mas. Adanya bakso.”

“Bakso?” (Gue sedikit bingung)

“Iya, bakso mas”, katanya lagi menegaskan seolah gue belum pernah makan bakso.

Iya, gue tahu bakso. Tapi gak tahu kenapa gak muncul bayangan bakso apa yang disajikan dalam kereta begini.

“Berapa mbak?”

“IDR 20K” (sengaja gue tulis begini, tahu kan cara bacanya gimana dalam bahasa Indonesia?)

“Ya udah boleh deh mbak”, kata gue pasrah sambil nelen ludah.

Popmie di restorasi harga bisa ceban (Rp 10.000), ini harga dua kali lipat dari popmie. Tapi di kereta makanan memang sangat mehong. Nasi goreng, yang menurut gue porsi cewek diet, harganya Rp 30.000, padahal kenyang juga kaga, ditambah label “fresh from the oven” karena bukan dimasak langsung di kuali tapi sudah dimasak entah dimana, dibungkus dalam kotak dan kalau ada yang mau pesan tinggal dihangatkan.

Kembali ke bakso. Setelah memesan, si mbak membuka cup lalu memotes mie instan (mie yang biasa kita beli di minimarket itu lho) menjadi empat bagian. Menutupnya lalu memasukkannya ke dalam microwave.

“Tunggu 10 menit ya mas”, kata si mbak sambil menerima selembar uang berwarna hijau yang gue sodorkan.

Gerbong restorasi di Matarmaja gak jauh berbeda dengan gerbong penumpang, terutama tempat duduknya yang masih menganut paham “3×3“. Beberapa dirombak dan diganti dengan ruangan tertutup tempat petugas menaruh peralatan-peralatan dinas atau untuk sekedar beristirahat. Saat itu, ada beberapa pramugara yang tertidur, ada juga dua-tiga bapak-bapak (yang sepertinya penumpang) sedang duduk menyendiri.

10 menit berlalu, gue yang sedari tadi berdiri di dekat pintu dapur akhirnya disodorkan cup yang berisi “bakso” itu, lengkap dengan alat makan seperti sendok, garpu, tissu, dan juga tiga sachet kecil berisi saus, sambal dan kecap manis yang sudah dipotong tepinya agar mudah dibuka.

Saat cup dibuka, aroma bakso langsung semerbak. Baunya sama seperti kita membuka panci abang tukang bakso pangkalan. Aromanya benar-benar menggoda di dinginnya malam dan perut keroncongan ini. Sedikit mengaduk, di dalam cup terdapat mie, satu bakso halus, satu bakso urat dan satu potong tahu. Dan meskipun makanan instan, tapi tampilan dan rasanya seperti bakso dan tahu sungguhan (tahu sendirilah, sayur dan daging makanan instan tampilan dan rasa benar-benar ala kadarnya).

Rasanya bener-bener enak! Ditambah saus, sambal dan kecap bikin tambah uwenak tenan, maknyos! (mungkin karena gue laper). Saat sedang menyantap bakso itulah tiba-tiba di hadapan gue muncul kondektur dan dia langsung duduk di depan gue.

“Eh, makan pak”, kataku sedikit kaget sambil terus mengigit bakso.

“Sip!” Sahutnya sambil mengacungkan jempol.

Kami mulai mengobrol, dan dia bertanya gue naik dari stasiun mana dan mau kemana. Anyway, karena kereta ini melakukan perjalanan berjam-jam jadilah petugasnya berganti-ganti saat berhenti di stasiun tertentu, salah satunya kondektur.
Berbeda dengan kondektur umumnya yang sering gue lihat saat naik kereta. Badan tegap, tinggi, dengan usia sekitar 50-an. Kondektur satu ini badannya kurus dan sedikit lebih pendek, wajahnya juga terlihat muda, usianya sekitar 40-an, potongan rambutnya juga bukan cepak.

Gaya kepemimpinannya cenderung santai dan egaliter. Karena tak lama setelah ia duduk datang petugas kebersihan, duduk di sebelahnya sembari memberikan laporan, dan dia hanya menjawab “Sip. Santai aja”. Si petugas kebersihan pun beranjak dan menjawab formalitas “Siap, laksanakan” dengan raut muka bosan.

Kembali lagi ke bakso #wkwkwk. Setelah menghabiskan bakso “yang sangat enak di Matarmaja” tersebut dengan lahap, gue undur diri dari sang kondektur, dan kembali ke peraduan. Perut kenyang, hati senang. Entah kenapa baru kali itu gue merasa uang Rp 20.000 yang gue keluarin bener-bener worthed.

Meskipun dengan uang segitu gue bisa beli dua mangkok bakso dengan jumlah mie atau bakso lebih banyak, untuk takaran suatu perjalanan panjang, satu cup berisi bakso itu adalah ransum tak terlupakan. Bahkan gue masih bisa mengingat setiap gigitan dan rasanya masih tertinggal di lidah meski sudah setahun berlalu #lebay.

maxresdefault

Akhirnya sampai di Kota Apel

Gue pernah melihat di instastory seorang teman yang pergi ke Malang naik kereta. Demi membunuh waktu dia bawa tablet dan menonton film selama perjalanan. Tapi saat itu dia naik kereta eksekutif yang jelas lebih nyaman daripada kelas ekonomi. Sebenarnya gue pengen bawa buku sebagai teman perjalanan, tapi urung dilakukan karena tas sudah penuh #alibi. Meski sudah mengatur playlist lagu yang akan didengar lewat earphone, tapi setelah satu jam gue kembali jenuh.

Gue mencoba tidur tapi gak bisa, alhasil hanya tidur ayam sejam sekali. Berjam-jam di kereta benar-benar mati gaya! Meskipun setidaknya “ruangan” kami cukup lega karena hanya disesaki oleh empat orang, tetapi kami tetap gak bisa bobo ganteng. Mas Depok sesekali pindah agar ia bisa tiduran di bangku yang kebetulan kosong, bergantian sama Arab keling. Bapaknya tidur pulas meski dengan gaya duduk. Mas Madiun sepertinya sudah sampai Hongkong.

Kereta berhenti di beberapa stasiun. Saat sampai di stasiun Madiun, jiwa di seberang gue sepertinya sudah balik dari Hongkong. Dia mengemas barang, mengambil tas dan tersenyum pada kami lalu pergi. Masih ada stasiun-stasiun berikutnya. Nganjuk, Kertosono, Kediri, Tulungagung dan terus berjalan sampai ke timur menelusuri terowongan gelap panjang yang terkenal itu (setidaknya begitulah cerita yang gue dengar dari teman-teman yang naik Matarmaja).

Ada hal menarik ketika kami sampai di stasiun Blitar. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Matahari sudah menyingsing. Tepat saat itu muncul si mbak yang menawarkan bakso di restorasi, datang sambil membawa nampan berisi POPMIE!!!

“Yang sarapan.. yang sarapan.. popmienya.. silakan..”, serunya berkeliling.

Eerrrrr… seinget gue pas gue mau pesan popmie dia bilang habis. Ini popmie darimana???? Apa mungkin saat kereta berhenti di stasiun ada petugas mampir ke AlfaMidi beli sekardus popmie???

Dengan mata “terkesima” gue melihat si mbak pramugari. Sempet terbesit rencana iseng buat beli popmie tapi sekedar nanya doank sih dan gak jadi beli, pengen tahu gimana reaksinya jika melihat orang yang baru saja dikadalin dengan sabda “Popmie habis..” itu. Tapi gue urungkan. Namanya juga prinsip orang dagang, kalau bisa jual yang mahal, kenapa harus kasih yang murah.

Hanya sedikit orang yang turun melempengkan badan di Blitar. Kereta melanjutkan perjalanan lagi, gue hampir sampai di ujung jalan, di tempat tujuan. Kereta melewati stasiun Malang Kotalama dan sebentar lagi kami sampai di Malang.

Dengan wajah penuh daki dan keringat yang kering, gue mulai merapikan barang bawaan, yang sebenarnya hanya berupa tas daypack saja tanpa embel-embel lain. Si Mas Depok masih tertidur. Dari speaker terdengar pengumuman rangkaian KA Matarmaja telah tiba di tujuan akhir, penumpang dipersilakan meninggalkan kereta dengan memeriksa kembali barang bawaan dan berhati-hati di jalan.

Saat itu bapaknya Mas Depok juga sibuk mengemas barang-barangnya. Yang ada hanya kakek yang sudah sepuh, salah satu kerabatnya dimana kami sempat sesekali ngobrol. Sambil keluar gue mengucapkan salam perpisahan serta menjabat tangannya.

“Duluan ya pak. Semoga lancar acaranya.”

“Iya, makasih dek. Hati-hati ya.”

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Kota Malang sudah siap menyambutku. Namun ini baru setengah dari perjalanan panjang.

Back to Jekardah, misteri Gunung Kawi dan tidur 11 jam

Selesai sudah petualangan di Bromo, dan saatnya kembali pulang ke ibukota tercintah, Jekardah. Ternyata teman satu jeep gue naik Matarmaja juga, pulang-pergi jadwalnya sama pula. Tapi pas pergi kita beda gerbong dan belum saling mengenal. Kalau sekarang sudah kenal dan kebetulan kita satu gerbong. Merry, Eka dan Airin, cewek-cewek syariah asal Depok yang menemani gue dalam perjalanan kali ini.

ka-malang

Kebetulan gue masuk gerbong duluan dan tempat duduknya berada di pojokan, tepat di belakang toilet dan pintu masuk sehingga formasi bangkunya adalah “3×2“. Di ruangan itu ada mas-mas berkepala plontos berkacamata yang sibuk telponan. Saat gue duduk dan naroh tas, dia ngeliatin terus dengan sorot mata tajam. Tapi sepertinya dia bukan duduk disitu, melainkan tepat di belakang gue atau ruangan sebelah.

Tak lama setelah duduk, muncul dua orang yang ternyata adalah teman si Mas Botak, satu berperawakan tinggi, satu lagi agak kurus. Yang tinggi itu ternyata teman sebangku gue, duduk di seberang dan langsung memulai percakapan sampai kereta mulai berjalan.

“Mau kemana mas?” tanyanya.

“Pasar senen mas.”

“Oohhh.. habis ngapain mas di Malang?” interogasi berlanjut.

“Semalem habis dari Bromo.”

“Lho, saya juga habis dari Bromo,” balasnya.

Kemudian dia ngomong sama dua temannya perihal ke Bromo dan ternyata mereka kesana dua hari sebelum gue kesana. Dari ceritanya, mereka kurang lebih sudah lima hari di Malang. Awalnya mereka berangkat berlima, tapi satu orang batal ikut, dan satu lagi ketinggalan kereta di Pasar Senen #poorhim.

“Gak nonton Arema mas?” tanyanya lagi.

“Oh ngga mas. Emang ada pertandingan bola ya?” kata gue ketawa sambil berpura-pura tertarik.

“Iya, kemarin kita juga pada ke stadion Gajayana,” jelasnya.

“Di Malang kemana aja mas?” balik menginterogasi.

“Kita baru aja pulang dari Gunung Kawi,” jawabnya enteng. Gue langsung keselek.

As we know, Gunung Kawi adalah tempat untuk mencari kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan “instan”. Ada yang bilang tempat “muja”, atau disebut juga pesugihan. Mereka yang imannya kuat akan menyebutnya sesat atau musyrik. Tapi gue agak sedikit kaget juga si Mas Kawi (sekarang kita panggil saja begitu) menceritakannya tanpa beban.

Tak lama dia bercerita kegiatan dia selama disana, katanya mau mengambil pusaka (dia cerita sambil ketawa-ketiwi, gue pun dengernya sambil senyam-senyum). Lalu menunjukkan, setangkai tanaman atau bunga, yang diambil dari Gunung Kawi yang ditaruh di atas kabin. Mas Botak pun mengeluarkan sesuatu, yakni tiket masuk yang menjadi bukti mereka pergi kesana (mungkin dia lihat raut muka gue seperti gak percaya).

Dalam lembar kertas itu tertulis “TIKET MASUK WISATA GUNUNG KAWI, RP 10.000“. Beuhhh.. gue baru sadar sekarang gunung Kawi dijadiin tempat “wisata”. Dan tak berapa lama, temannya satu lagi si Mas Kurus menimpali.

“Yah, orang-orang sih emang kurang begitu percaya kesana. Tapi kalau orang seperti…….kita….ya emang ada niat mau kesana…” katanya pada dua temannya sambil berhenti sejenak sebelum menyebut kata “kita” sekaligus memberi penekanan.

Oke, terlepas dari apapun tujuan mereka ke Gunung Kawi itu adalah urusan masing-masing dan gue gak tertarik ikut campur. So, gue memulai boring conversation as usual bersama Mas Kawi. Ada hal unik ketika gue bilang kalau sudah kerja.

“Lhaa, si mas udah kerja. Saya pikir masih kuliah lho,” sambil ngomong ke arah Mas Botak yang juga ikutan kaget dan melihat ke arah gue.

Duh, kadang gue suka ketawa sendiri kalau disangka masih anak kuliahan. Kalau tahu umur gue amit-amit deh nyebut gue anak kampus, wkwkwk. FYI, saat kejadian ini berlangsung, umur gue sudah 26 tahun, Hahahhah.

Tak lama kereta berhenti di stasiun Sumberpucung. Lalu muncul dua pasang suami-istri berumur sekitar 60-an. Yang dua orang bapak-bapak duduk satu ruangan sama gue dan Mas Kawi. Oh iya, karena dua orang teman Mas Kawi batal ikut, jadinya kursi yang sudah dipesan tidak terisi alias kosong dan ruangan kami terasa lega, untuk kedua kalinya bagi gue setelah pas pergi merasakan “privilege” yang sama.

Mas Kawi seperti biasa, memulai percakapan remeh temeh dengan salah satu bapak itu, yang katanya adalah makelar tanah dan mau pulang ke Tangerang. Bapak yang satu lagi duduknya pindah-pindah ke tempat istrinya. Gue pun nyamperin Merry, Eka dan Airin yang duduk di bagian tengah gerbong untuk ngobrol sejenak. Ternyata ruangan mereka terisi “full”. Di seberang ada tiga orang mas-mas kurus kumisan dan berkulit gelap (bukan geseng atau keling ya).

Kereta berjalan kembali, gue pun kembali ke tempat duduk. Dan… tiba-tiba gue merasa sedikit rileks dan pandangan semakin gelap. Gue terhenyak saat sadar kepala gue nyender di pundak Mas Kawi! Dia hanya tersenyum melihat gue sadar kami baru saja melakukan adegan romantis. Ternyata gue tertidur selama beberapa saat (pas cek jam, gue tidur selama satu jam). Gue mencoba duduk tegak, dan rasa kantuk itu kembali menyergap.

Gue terbangun lagi saat sadar telah melakukan adegan mesra itu untuk kedua kalinya dengan Mas Kawi #kamprettt. Kali ini dia sedang dinner makan nasi yang beli di kereta. Lalu dia menyarankan agar gue tidur di bangku seberang yang kebetulan kosong karena si Bapak Tangerang 1 sudah pindah. Gue mengiyakan dan akhirnya bisa tidur dengan posisi meringkuk.

stasiun kota baru

Mungkin karena lelah habis nanjak ke Bromo, apalagi malamnya kami kurang tidur karena berangkat kesana tengah malam. Akumulasi dari rasa kantuk dan rasa lelah itu yang sepertinya membuat gue tertidur pulas dan nyenyak. Gue sempet dibangunin karena Bapak Tangerang 2 mau duduk disitu, tempat yang dia dudukin sudah disambangi oleh pemilik “sah”-nya yang entah naik dari stasiun mana (sepertinya sudah tengah malam dan gue kurang gitu ingat karena ngantuk berat).

Hanya terbangun dan sadar sesaat, gue mengganti posisi dan tidur di pojokan. Asli pewe banget dan perjalanan gue ke Hongkong pun berlanjut. Sayup-sayup gue mulai membuka mata. Dari balik jendela tampak fajar mulai merekah. Gue melihat jam tangan dan waktu menunjukkan pukul 05.00!

Seinget gue, tak lama setelah kereta berjalan, saat itu jam enam sore lewat sedikit gue mulai tertidur. Meski sesekali bangun gue masih melanjutkan bobo kurang ganteng ini sampai jam lima pagi. Artinya gue udah tidur selama 11 jam di kereta!!!

Entah antara senang, sedih, terharu atau bahagia. Setidaknya gue bisa ngerasain tidur nyenyak di kereta tanpa harus mati gaya selama berjam-jam seperti pas perjalanan pergi kemarin. At least, i can killing time meski waktu efisien dihabiskan untuk tidur #ThxGOD.

Teror banana nugget

Setelah baru saja mendarat dari Hongkong, di hadapan gue ada Mas Botak dan Mas Kurus. Mas Botak lagi main hp, sementara Mas Kurus sedang berusaha tidur. Tepat di sebelah gue adalah Bapak Tangerang 1 si makelar tanah. Sementara Mas Kawi sedang tidur meringkuk di bangku sebelah.

Seperti biasa, setelah bangun tidur kita akan melakukan ritual pagi, yakni buang air “sedikit” di kamar mandi atau buang air “banyak” disana. Kebetulan karena tidak ada pemasukan ransum jadi gue hanya membuang sedikit air di toilet.

0949321lampegan-1780x390

Beruntung tempat duduk tak jauh dari kamar kecil. Saat masuk, dengan sisa-sisa rasa kantuk, gue terkaget-kaget saat melihat toilet sepertinya baru saja diberondong oleh peluru tembak! Rasa ngantuk pun tiba-tiba lenyap. Yup, di sekitar lantai toilet berceceran bercak-bercak berwarna coklat kehitaman (tahu kan itu apa). Dan yang lebih menakjubkan di dalam kloset ada dua buah “banana nugget” yang seperti sedang digoreng #uugghhhh.

Dengan langkah hati-hati agar tidak menginjak “remahan-remahan” adonan pisang gue langsung menyelesaikan urusan gue dalam tempo sesingkat-singkatnya. Setelah itu gue masih berbaik hati untuk menenggelamkan banana nugget dalam wajan itu serta membersihkan lantai toilet. Akan tetapi, setelah pencet flush berkali-kali air yang keluar hanya seiprit, sementara air di keran dan di selang juga tidak keluar #pppfftttt. Pantas saja sejak masuk, toilet ini sudah mendapat pengharum alami dengan aroma air seni serta banana nugget yang menyengat. Sungguh teror yang sangat mencekam!!!!

Sekedar informasi, kalau naik kereta api dalam satu gerbong ada dua buah toilet, di ujung dekat pintu masuk-keluar gerbong. Toilet hanya steril di dua jam pertama dimana air masih lancar keluar. Setelah dua jam dengan banyaknya makhluk-makhluk yang menggerayangi tempat itu, kesucian toilet akan langsung ternoda. Tak peduli kereta kelas ekonomi, bisnis atau eksekutif, gue selalu merasakan pengalaman tak mengenakan di toilet setelah perjalanan berjam-jam.

Gue balik ke tempat duduk, dimana Mas Botak melihat gue dengan tatapan sepertinya dia baru saja tahu apa yang gue alami. Mas Kawi terbangun, lalu gantian dengan Mas Kurus yang mau tidur di bangku (rupanya mereka bertiga memang sengaja tidur bergiliran). Ia menuju ke toilet dan ketika balik langsung bercerita dengan nada sedikit heboh.

“Sialan! itu siapa sih yang boker? Jorok banget!” katanya pada Mas Botak.

Sambil ketawa si Mas Botak juga ikut curhat.

“Iya, tadi gue juga mau kencing. Pas masuk..anjriitttttt.. kerjaan siapa nih,” sahutnya.

“Tadi gue juga masuk. Waduh koq ada ginian,” kata Mas Kurus ketawa geli sebelum ia beranjak ke bangku sebelah untuk tidur.

Rupanya mereka, dan mungkin penumpang lain, merasakan teror banana nugget itu. Mas Botak bercerita bahwa ia tahu siapa pelaku teror tersebut. Sambil bercerita seseorang yang buru-buru ke toilet sambil memegang celananya (mungkin dia mencret). Sejak bangun, gue berpura-pura tidur kembali dan menutup mata namun mendengarkan percakapan mereka sambil senyum-senyum sendiri.

Kereta berhenti di stasiun Cirebon Prujakan. Gue berinisiatif buat nyamperin ketiga cewek syariah. Cowok-cowok kumisan yang duduk di seberang mereka sedang turun untuk merokok. Ternyata mereka pergi rame-rame dan semua teman-temannya memiliki profil yang sama. Badan kurus kerempeng, kulit geseng karena tersengat sinar matahari dengan kumis, jambang dan jenggot di wajahnya, sebagian juga memelihara rambut sampai gondrong.

Merry, Eka, Airin masih pakai jaket dan bantal leher. Wajah ketiganya kucel, kumel dan dekil (dan gue sadar kalau kecantikan wanita memang terletak pada make up dan perawatannya #wkwk). Mereka juga baru terbangun dan kami bercakap-cakap singkat. Kami membahas Eka yang tiba-tiba saja sudah memposting foto-foto di IG-nya, Merry (dan Eka) kebetulan masih dapat jatah cuti hari ini, sementara Airin sama kayak gue, pulang ke rumah akan langsung ganti kostum dan masuk kantor #deritakuli #huhuhu. Karena mereka tinggal di Depok, jadilah setelah sampai mereka harus melanjutkan perjalanan lagi naik commuter line.

Kereta kembali berangkat. Tepat jam sembilan pagi saat mencapai stasiun Jatinegara, rombongan ekspedisi Gunung Kawi turun. Mas Kawi mengucapkan salam, sementara si botak dan si kurus langsung ngeloyor pergi. Bapak Tangerang 1 dan 2 beserta istrinya kebetulan juga juga turun disana. Jadilah setelah mereka pergi, ruangan gue jadi lebih lega.

KA Matarmaja melaju untuk terakhir kalinya menuju pemberhentian terakhir. Sebentar lagi perjalanan sejauh 1.762 km ini berakhir. Ada banyak kisah tak terlupakan, dari pengalaman unik sampai yang sedikit buruk. Bertemu dengan orang-orang baru, belajar menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, dan menjadi bagian dalam kehidupan di gerbong ini.

Matarmaja sampai di stasiun Pasar Senen, terdengar suara pengumuman agar para penumpang memeriksa kembali barang bawaan sebelum meninggalkan kereta, hati-hati di jalan, serta ucapan terima kasih karena telah menggunakan jasa dan layanan kereta api. Gue memakai jaket dan menggendong tas, melangkah keluar gerbong menuju keluar. Matarmaja. 1.762 km. Kenangan ini takkan terlupakan.

cimg2311

EPILOG

Seperti planning gue sebelumnya, setelah sampai di Pasar Senen gue langsung pulang ke rumah, bersih-bersih, berganti pakaian, dan berubah status dari seorang musafir menjadi pegawai kantoran. Kembali lagi pada kehidupan nyata, hahahhaha.

Sebelum menulis artikel ini, gue sudah bersumpah untuk tidak akan lagi naik Matarmaja! Sepertinya satu kali sudah lebih dari cukup. Gak lagi-lagi deh duduk belasan jam di kereta sampai badan pegel dan gak bisa tidur nyenyak (pengecualian waktu gue pulang). Tapi entah kenapa, sembari mengingat-ingat kejadian di kereta pada tahun lalu itu, timbul rasa rindu untuk kembali merasakan “kehidupan” dalam perjalanan.

Well, untuk saat ini gue belum ada rencana buat naik Matarmaja lagi sampai ke Malang. Jika memang takdir membawa gue kembali untuk berpetualang bersama Matarmaja, dengan senang hati gue akan melakukannya sekali lagi dengan rasa penasaran cerita apa yang kali ini gue dapatkan, dan pengalaman apa yang akan gue rasakan.

Ada rasa rindu untuk melakukan roadtrip kembali. Mungkin bukan naik kereta api Matarmaja lagi. Kebetulan tahun ini gue punya rencana ke Medan dan Danau Toba. Terbesit ide untuk melakukan perjalanan antar lintas Sumatera. Yeahhhh…. gue mau ke Medan naik bus ALS! Atau mungkin gue akan ngeteng naik kapal ke Lampung lalu perjalanan dilanjutkan dengan bus atau kereta dengan transit di beberapa kota. Hhhmm.. so tempting. Semoga wish ini terlaksana #AAMMIINNN.

Perjalanan sejauh 1.762 km ini telah mengajarkan banyak hal, dan gue bersyukur karena akhirnya bisa melewatinya dengan segala risiko dan kesulitannya. Ada banyak cara Tuhan dan semesta dalam mendidik dan memberikan kita pelajaran berharga. Dan petualangan bersama Matarmaja ini telah menginspirasi gue untuk mencari kehidupan, pengalaman, cerita, makna dan inspirasi dalam perjalanan berikutnya.

So, ada yang tertarik mau ikutan?

__________________

N.B: karena cerita ini adalah memoar, jadi ada bagian-bagian yang mungkin terlewatkan. Beberapa cerita juga dipotong demi menghemat durasi membaca. Dan karena tak ada dokumentasi selama perjalanan, gambar-gambar diambil dari google.

Advertisements

12 thoughts on “1.762 Km

  1. Saya menghabiskan 10 bulan dalam setahun hidup di negara yang transportasi umumnya bagus banget, dan kereta api adalah alat transportasi pilihan saya. Setelah baca tulisan ini, saya senang mendengar bahwa kualitas kereta api di Indonesia juga makin lama makin baik, tidak separah waktu saya kecil.

    Sesama member blogger Cronny juga nih, salam kenal ya.
    Kalau ada waktu, silakan main ke blog saya =)

    Like

  2. Buset ceritanya panjang banget ya, bro. Bisa dipenggal (((dipenggal))) jadi 2 bagian nih πŸ˜€

    Gue dulu juga pernah kerja di perusahaan retail yang kerja sampai hari Sabtu. Rasanya kayak nggak punya libur karena hari Minggu gue tetep harus bangun pagi buat ke gereja. Kalau boleh kasih masukan, dan lo mau mendalami passion backpacking, mending cari kerjaan lain deh πŸ™‚
    Harga makanan & minuman di kereta menurut gue nggak mahal2 amat. Kopi atau teh cuma Rp8.000, di gerai stasiun harganya bisa lebih mahal lagi dari itu. Makanan berat biasanya start dari Rp25.000,00. Daripada lo beli bakso Rp20rb, mending tambahin dikit buat beli makanan berat. Dulu gue selalu beli makanan di luar stasiun sebelum berangkat biar murah, sekarang selalu beli di kereta hahaha. Kriteria mahalnya udah sedikit bergeser.

    Oh ya, ransum itu bukan bekal makanan dalam arti general sih. Dia 1 set makanan siap saji atau pra-saji yang biasanya banyak dipake dalam militer. Salam kenal yak.

    Like

    1. Kbetulan sejak oktober thn kmaren gw uda resign bro. Hahhaha
      Anyway minuman skrg start Rp 10.000, dan makanan berat kaya nasi start dr Rp 30.000. Kmaren gw mau cari yg panas dan berkuah. πŸ˜‚πŸ˜‚
      Ransum hanya kata2 kiasan aj, intinya gw lupa bawa perbekalan.. Hahahah

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s