Suka Duka Ngetrip di Bulan Puasa

img-20170610-124714-min-59475527719773b44aae147e

First, i wanna tell you something. I’m not moslem, but this is a true story while traveling in the city with strong islamic culture and most of my travelbuddy on this trip do fast.

Juni 2017, iseng-iseng baca Kompasiana di rubrik wisata mata gue tertuju pada suatu artikel dimana akan diadakan trip jalan-jalan ke Cirebon. Acara ini diprakarsai oleh KOTeKA (Komunitas Traveler Kompasiana) dan disponsori oleh Bank Danamon. Trip ini berlangsung selama satu hari alias one day trip. Dan yang paling penting, trip ini FREE alias gratis..tis..tis..

Syaratnya juga mudah. Gak harus ikut lomba di socmed atau lomba blog. Cukup daftar dan habis itu berdoa (kalo perlu ke dukun sekalian) agar diterima. Simpel dan untung-untungan. Kalau menang rejeki, kalau kalah yowis. Hanya 10 peserta yang terpilih. Gue pun berinisiatif untuk mendaftar meski bukan anggota KOTeKA dan bukan pula Kompasianer yang aktif (pada saat itu).

Besoknya pas lagi gawe, tiba-tiba muncul SMS berbunyi:

“Pagi mas deny, saya Kamil dari Kompasiana. Selamat, anda terpilih sebagai peserta trip koteka. Ada nomor wa?”

Karena sibuk gue tak sempat membalas pesan tersebut. Tak lama kemudian, nomor WhatsApp gue sudah dimasukkin ke grup “Koteka Trip Cirebon“. Mulailah masing-masing dari kami memperkenalkan diri dan berbasa-basi. Di grup WA, para admin KOTeKA dan Kompasiana menjelaskan detail acara dan itinerary. Setelah membaca itinerary mulailah timbul keresahan yang selama ini gue pendam #ehem.

Di itinerary, kami berangkat dari meeting point di Bentara Budaya Jakarta sekitar jam 5 lewat. Perjalanan ke Cirebon kurang lebih 3 jam kemudian dilanjutkan dengan Amazing Race dimana peserta akan dibagi dua dan harus mengikuti chalenge yang diberikan. Dari itinerary, gue membaca tak ada ‘jadwal’ sarapan atau makan siang. Hanya acara buka puasa di sebuah restoran. Mateng dehhh. Akhirnya gue pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Maaf mas. Ini ngomong-ngomong yang gak puasa kalau mau sarapan gimana ya?”

“Pertanyaan yang sama nih..” tiba-tiba ada yang menimpali. (Thx God, gue gak sendirian. Wkwkwk)

“Aku bawa roti besok, nanti di maem di mobil pas yang lainnya lagi di luar. Lagi gak puasa,” ada yang curhat meskipun di grup gak ada Mamah Dede.

Namun tak ada jawaban dari pihak penyelenggara. Mereka malah menekankan agar kami tidak telat datang di mepo jam lima pagi. Oh well, sepertinya urusan makan jadi urusan masing-masing, terlepas dia muslim atau nonmuslim, dan lagi puasa atau tidak.

Karena harus berangkat subuh dan tidak bisa nyarap di perjalanan. Akhirnya gue mensiasatinya dengan cara mudah. Yes, gue ikutan sahur. Hahhhaha! Demi mengganjal perut, jam tiga pagi gue bangun buat mandi dan langsung masak Indomie dua bungkus sekaligus, bersyukur mie-nya udah masuk perut sebelum imsyak #lho. Setelah itu, gue langsung order ojek online menuju Bentara Budaya Jakarta.

Sampai tempat tujuan, sekitar jam 5 kurang 15 menit, gue agak bingung karena ini juga pertama kalinya gue kesana. Dan di TKP juga sangat sepi, hanya ada dua orang bapak-bapak, yang berperawakan tinggi kurus dan satunya lagi sudah berumur. Akhirnya gue samperin dan bertanya apakah mereka salah satu peserta trip ke Cirebon. Si bapak tinggi kurus adalah Mas Ony yang merupakan admin KOTeKA. Tak lama kemudian muncullah peserta lainnya yang datang lewat taksi dan ojek online. Beberapa peserta ada yang menunaikan ibadah sholat subuh terlebih dahulu.

“Sebentar ya mas. Kita masih nunggu yang lain. Mobilnya juga belum datang. Yang lain juga ada yang mau sholat,” ujar Mas Ony kepada saya.

Dari gelagatnya, sepertinya ia ingin mengajak gue untuk sholat. Tak lama ia melihat wajah gue selama kurang lebih tiga detik #ehem. Kemudian bergumam dengan suara kecil “Oh iya, dia gak sholat..” (namun masih bisa gue dengar dan gue belagak pilon pura-pura gak dengar. Wkwkwk).

“Mas, saya sholat dulu ya,” tiba-tiba Mas Ony membuyarkan kepuran-puraan lamunan gue.

“Oh iya mas, silakan.”

Anyway, si bapak yang sudah agak berumur itu adalah Pak Djulianto Susantio yang merupakan narasumber di acara nanti malam. Satu per satu peserta berkumpul dan mulai berkenalan. Ada yang dari Bogor, ada pula yang setelah lembur menginap di kantor biar subuh-subuh bisa langsung kemari. Para admin Kompasiana dan perwakilan Bank Danamon juga muncul dan kemudian datanglah mobil elf yang akan membawa kami menuju Cirebon. Yippyyyy…!

img-20170619-wa0005-59475583f27a616309e2f28a

Oke, menjunjung tinggi peribahasa “tak kenal maka tak sayang“, berikut ini adalah peserta one day trip ke kota udang:

  • Mas Ony. Admin dari KOTeKA dan di trip ini bisa dibilang dia adalah leadernya.
  • Pak Dizzman. Salah satu admin KOTeKA juga. Perawakannya tambun dan wajahnya menyiratkan pengalamannya mengecap asam garam kehidupan. #sotoy
  • Pak Djulianto. Narasumber di acara nanti malam. Mantan wartawan dan memiliki passion dalam bidang sejarah, seni dan budaya.
  • Mbak Ira Latief. Travel writer yang akan jadi MC di acara nanti malam. Anyway dia punya tour keliling Jakarta bernama @jakartafoodtraveler.
  • Pak Rushan. Dari ceritanya, dia bekerja di ACTA. Dan dialah yang mempelopori panggilan buat gue dan yang lainnya ikut-ikutan. “Gue panggil lu Oey aja ya.”
  • Ibu Muthia. Ibu-ibu syariah yang selalu bicara soal Turki selama ngetrip. Ternyata dia memang pernah tinggal disana.
  • Mbak Dewi Puspa. Ini nih yang curhat lagi gak puasa dan mau makan roti di mobil. Kesan pertama waktu ketemu, asli logat jowone medog tenan.
  • Mbak Tamitha. Salah satu peserta yang gak ikut pulang karena mau langsung mudik ke Kediri naik kereta.
  • Detha. Cowok berwajah Arabian. Dia selalu menenteng kamera DSLR kemana-mana. Asalnya dari Sumbawa.
  • Noval. Salah satu peserta yang masih anak kuliahan. Dari awal pembicaraan di grup dia meminta orang-orang memanggilnya “Valka“.
  • Khairunisa Maslichul. Sengaja gue tulis lengkap namanya karena sampai gue aktif di Kompasiana gue uda gak pernah ketemu lagi sama cewek berjilbab satu ini.
  • Siti. Cewek berhijab dengan postur tubuh yang kecil kalau gak mau dibilang pendek. #maapyeh
  • Erni. Peserta termuda, masih anak kuliah, dan dia boru Pakpahan. Horas ito!
  • Admin Kompasiana. (Mbak Dewi Ningrom, Mas Kamil, Mas Kevin, dll).
  • Dua orang perwakilan Bank Danamon. Gak tau namanya, tapi dua-duanya berbadan tambun.

***

Oke, perjalanan dimulai. Sebelumnya kami sudah men-share acara ini di social media seperti instagram atau twitter. Tiap kelompok (yang sudah dibagi dua) dipinjamkan kamera GoPro yang boleh dibawa pulang untuk dokumentasi. Kami juga wajib bikin vlog yang menceritakan dimulainya one day trip ini.

Berkat tol Cipali, perjalanan ke Cirebon menjadi lebih singkat, sekitar tiga jam saja dari Jakarta. Namun ketika kami berangkat agak molor dan baru sampai setelah empat jam berlalu. Ketika baru saja sampai, kami langsung ‘disambut’ oleh pemandangan yang menjadi trademark atau julukan lain kota Cirebon. KOTA TILANG. Polisi sedang melakukan razia, dan rata-rata pengendara motor yang apes adalah anak-anak sekolah yang gak pakai helm. Malah kami sempat melihat anak sekolah yang mencoba kabur dan ngumpet di belakang mobil tapi tetap saja tercyduq.

Setelah sampai, kami tidak langsung menuju destinasi wisata. Ada acara sponsor lebih dulu #ehem. Kami menuju salah satu cabang Bank Danamon untuk melihat dan merasakan produk dan fitur terbaru dalam pengalaman perbankan (oke skip, gua gak panjang lebar karena ini bukan artikel endorse).

Selesai acara, kami langsung menuju Islamic Center untuk briefing acara amazing race dimana peserta mendapatkan uang saku Rp 100.000/orang yang bisa digunakan untuk tiket masuk wisata, transportasi, beli makan buat batalin puasa, dll. Di mobil saat kami menuju destinasi pertama, Pak Rushan sempat berseloroh bahwa ketika sampai kami akan disambut dengan welcome drink #wkwkwk #ayaayawae. Kami langsung menuju Masjid Agung Sang Cipta Rasa kala waktu menunjukkan pukul 12.00. Beberapa peserta juga ingin menunaikan ibadah sholat dzuhur.

Disinilah drama dimulai. Karena gue nonmuslim, gue pun mencoba cari menu brunch (udah siang, belum sarapan, ditambah menu sahur udah jadi kentut). Pak Djulianto yang juga nonmuslim mengajak untuk cari makanan. Lalu muncul Mbak Ira dan Detha yang lagi ‘absen’ puasa dengan alasannya masing-masing. Mencari penjual makanan, apalagi di sekitar masjid, cukup sulit.

img-20170610-114949-min-5947578a1197738b0cbaf711

Setelah clingak-clinguk, ternyata di seberang masjid ada banyak penjual makanan. Namun mereka menutupi lapaknya dengan kain terpal sehingga sulit dikenali oleh turis seperti kami. Kami menuju satu lapak yang menjual makanan khas Cirebon, Nasi Lengko. Penganan yang satu ini berupa nasi putih dengan lauk tahu, tempe, kecambah dan mentimun yang sudah dirajang, kemudian disiram bumbu kacang dan kecap manis encer. Sekilas nasi lengko mirip nasi pecel.

Berempat kami memesan nasi lengko dan makan dengan lahap. Tak lupa segelas minuman es kopyor yang menyegarkan tenggorokan. Cirebon hareudang (panas) pisan euy! Btw makan siang kali ini disponsori oleh mbak Ira Latief. Hahahha. Thanks mbak.

***

Para peserta berkumpul kembali, dari mereka yang baru selesai sholat dan juga yang sudah buka puasa makan siang. Sebenarnya dua tim yang sudah ditentukan diberi tugas untuk mengeksplor destinasi di Cirebon. Tim A menuju Keraton Kasepuhan. Sedangkan Tim B mengeksplorasi Keraton Kanoman. Namun entah bagaimana ceritanya akhirnya diputuskan kedua tim mengeksplorasi kedua keraton tersebut bersama-sama. Mungkin biar gak ada iri-irian. Atau agar lebih fair. Entahlah.

Btw, tak jauh dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa (saking dekatnya ngesot juga nyampe), berdiri bangunan yang sangat terkenal, Keraton Kasepuhan. Disini masih tinggal sultan dan para keturunannya. Ada beberapa pendopo atau bangunan semi terbuka. Disini terdapat akulturasi budaya Jawa, Sunda, Arab, Cina, India dan Eropa.

img-20170610-122058-min-59475871719773d94aae147e

officialnomaden_BVOnOYogC3C

Tak hanya itu, dua patung singa di depan keraton menunjukkan kuatnya pengaruh agama hindu pada masa lampau, ditambah gerbang yang juga menyerupai pura di Bali namum menggunakan bata berwarna merah khas Jawa. Ukiran di daun pintu gapura bergaya Eropa serta pagar di beberapa area terbuat dari keramik Cina.

Kami datang tepat saat acara peresmian museum di Keraton Kasepuhan. Tenda dengan bangku berjejer di depan pintu masuk museum. Sayangnya acara peresmian baru akan diadakan nanti sore dan saat itu hanya ada beberapa petugas dan keluarga keraton yang sibuk mempersiapkan acara. Kalau tidak salah, untuk masuk ke museum dan melihat benda-benda bersejarah peninggalan keraton kita akan dikenakan biaya lagi #cmiiw.

Setelah puas mengeksplorasi Keraton Kasepuhan, kami bersiap menuju destinasi selanjutnya, Keraton Kanoman. Jaraknya kurang lebih sekitar satu kilometer. Ada yang mengusulkan untuk jalan kaki, namun di tengah cuaca terik seperti ini ide tersebut sangat tidak bijak mengingat banyaknya peserta yang puasa. Kebetulan di depan keraton ada banyak tukang becak yang mangkal. Jadilah kami memutuskan untuk naik becak kesana.

img-20170610-131511-min-59475a0c1197733b0cbaf711

Setelah nego dan menyepakati harga dan disamaratakan dengan tukang becak lainnya, akhirnya kami mulai menumpangi salah satu kendaraan tradisional di Indonesia ini. Satu becak bisa memuat dua orang. Namun entah gue yang uda lama gak naik becak atau becak khas Cirebon memang imut, jadilah terasa sempit jika disesaki dua orang. Gue duduk bareng Pak Rushan yang badannya gempal (imagine that!). Jadilah sepanjang perjalanan gue meringkuk seperti digencet ondel-ondel.

Lalu lintas di kota Cirebon cukup kondusif. Becak bebas berlalulalang berdampingan dengan kendaraan seperti mobil, motor, angkot, bahkan delman. Kami melewati jalan raya dan tiba di suatu pasar yang ternyata adalah pasar kanoman. Dengan jalan yang sempit karena banyaknya manusia, gerobak dan becak, kami berusaha menerobos. Gue sempet mencuri pandang dan melihat udang goreng yang sangat besar dan menggoda, duh jadi laper.

Keraton Kanoman letaknya memang di dalam pasar. Kami semua akhirnya sampai, ada yang sengaja diam duduk di becak buat foto baik selfie, groufie, close up, candid, dll. Sayangnya ada oknum tukang becak yang meminta biaya tambahan dari harga yang disepakati. Becak tersebut diduduki oleh Valka yang terpaksa harus membayar lebih seperti yang diminta si oknum. Ya sudah lah, anggap saja beramal di bulan puasa.

officialnomaden_BVLyyBAghxK

Keraton Kanoman ternyata lebih kecil dan sederhana daripada Keraton Kasepuhan. Setelah guide menjelaskan sejarah keraton, kami sempat berfoto ala-ala bangsawan atau keturunan ningrat kemudian ke halaman belakang dimana terdapat beberapa sumur. Kalau tidak salah ada tiga sumur tapi kebetulan kami hanya “mencicipi” dua sumur.

Guide sempat menjelaskan tentang peletakan batu pertama. Lalu kami dibawa untuk mencicipi sumur witana. Kenapa gue bilang mencicipi, karena di sumur inilah peserta yang membasuh muka bahkan meminum air dari sumur witana niscaya akan mendapatkan jodoh. Sebuah mitos yang bagaikan oase di padang gurun hati yang gersang bagi kalangan jomblo #wkkwwk. Anyway gue juga sempat cuci muka pakai air sumur ini karena gue jomblo cuaca di Cirebon hareudang pisan euyyy (deui). Beberapa peserta yang puasa ada yang diingatkan (dengan nada becanda tentunya) agar jangan sampai kebablasan minum air saat cuci muka.

img-20170610-135509-min-59475a6981afbdb61c9a5a53

img-20170610-140723-min-59475ad0119773d11abaf711

Tak jauh dari sumur witana, ada sumur kejayaan. Konon, zaman dahulu para prajurit mandi di sumur ini sebelum berperang agar meraih kemenangan. Menurut guide, sekarang sumur kejayaan lebih sering digunakan oleh calon pejabat atau politikus (apalagi menjelang pilkada seperti saat ini). Hanya beberapa dari kami yang mampir ke sumur yang banyak ditaburi kembang dan sesajen ini. Kami juga diperbolehkan untuk membasuh diri atau minum air sumur ini. Siapa tahu pulang-pulang bisa menang, iya memenangkan hati si dia #prreeettt.

Kalau tak salah, masih ada satu sumur lagi dan beberapa dari kami ada yang ke sumur itu, namun perhatian gue lebih tertuju pada banyaknya hewan peliharaan di sekitar sumur seperti, ayam, bebek dan kambing. Ditambah ada kucing yang lewat yang turut menyemarakkan trip mini zoo with sumur The Ring dari Cirebon city sehingga tak sempat mencicipi sumur ketiga.

***

Selesai mengeksplor kami menuju destinasi selanjutnya. Jika tadi menggunakan becak, kami memutuskan untuk carter angkot. Dan jika tadi kami masuk ke Keraton Kanoman lewat jalan pasar, kami keluar melewati jalan belakang berupa gang kecil dan rumah-rumah penduduk. Sampai di jalan raya, kami langsung disambut oleh pedagang yang menjual aneka cemilan, salah satu yang menarik hati gue adalah lumpia goreng.

“Duh, koq itu lumpianya kayaknya enak banget sih.. tapi kalau beli gue jadi gak enak sama yang lain..”

Begitulah gejolak batin gue saat itu. Di satu sisi, lumpianya benar-benar menggoda iman. Di sisi lainnya jika gue nyomot tuh lumpia gue malah menggoda iman yang lainnya #wkwkkwk. Panitia sedang mencari angkot buat tebengan, sementara para peserta ternyata ada yang fokus menatap cemilan dan gorengan yang entah kenapa sangat menggoda iman baik bagi yang berpuasa maupun tidak.

Alhamdulilah, kami ketemu satu angkot yang mau dicarter menuju gua sunyaragi. Itupun dengan mengusir satu mas-mas yang disuruh keluar tanpa tedeng aling-aling sama supirnya. Jadilah kami di angkot naik himpit-himpitan, but totally seru. Sampe-sampe ada yang gak kebagian tempat duduk terus berdiri di pintu layaknya kernet/kenek.

officialnomaden_BVRKlhLgpyF

Kami sampai di Gua Sunyaragi. Tak banyak yang kami lakukan selain foto-foto dan bernarsis ria. Cuaca yang panas ditambah gua sunyaragi tempatnya semi terbuka membuat kami ingin segera berbuka puasa secepatnya. Yes, perut gue uda keroncongan lagi mengingat padatnya jadwal serta cuaca yang menguras fisik.

Kali ini mobil jemputan kami sudah tiba dan menuju salah satu restoran untuk mendengar pemaparan dari narasumber, presentasi per tim, dan tak lupa, berbuka dengan yang manis #sponsorlewat. Kami beristirahat sejenak, beberapa ada yang menunaikan ibadah sholat ashar karena masih sempat lalu mendengar presentasi dan pemaparan dari pelajaran atau hal-hal menarik apa yang didapatkan dari trip ini.

Saat presentasi itulah, para pelayan datang membawakan makanan dan minuman yang membuat kami gagal fokus. Yang pertama muncul adalah cemilan favorit gue, buah kurma, yang gue kunyah terus saat mendengarkan presentasi hingga akhirnya gue sadar kalau cuman gue doank yang makan, hahahhaha.

“Eh oey.. lu jangan makan itu, itu buat yang puasa,”Β tegor Bu Muthia yang langsung mengambil piring berisi kurma itu dari meja gue #LOL.

Pelayan kembali datang dengan hidangan yang lebih menggiurkan. Ada empal gentong, lalu sate kambing muda dengan saus kacang dan acar, juga tahu gejrot, ditambah minuman yang meskipun cuman teh manis tapi tambahan es membuat semuanya gagal fokus.

img-20170610-173320-min-59475c1b119773d01abaf711

officialnomaden_BVO5Kt4Al-w

Di tengah presentasi yang dibawakan oleh Pak Djulianto, adzan berkumandang. Alhamdulilah, itulah kata para peserta yang telah lulus ujian yang cukup berat. Dan alhamdulilah juga buat gue yang akhirnya bisa nyomot kurma lagi, hohoho. Tanpa banyak ancang-ancang kami langsung memulai ritual pembungkam cacing di perut ini.

Kami menikmati empal gentong yang merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang mirip gulai atau soto kuning dengan citarasa yang khas karena dimasak menggunakan wadah tanah liat atau gentong. Potongan daging dan bumbu dimasak menggunakan arang atau kayu bakar sehingga rasanya meresap ke dalam daging. Sebagai pelengkap, ada sate kambing muda yang berisi potongan daging dan lemak yang dilengkapi oleh acar dan juga bumbu kacang. Untuk cemilan, tahu gejrot yang merupakan kuliner asli Cirebon (tapi banyak yang gak tahu) siap untuk disantap.

Puas makan, perut kenyang, hati senang. Kami tambah bahagia karena ternyata selesai acara ada pengumuman bahwa setiap tim berhak mendapatkan uang tunai Rp 500.000. Satu tim terdiri dari lima orang, jadilah masing-masing mendapatkan uang tambahan Rp 100.000 lagi (jangan lupa uang jajan sebelum trip dimulai). Lalu terpilih lima orang lagi sebagai pemenang tweet competition dengan hadiah Rp 100.000Β dan gue kagak menang #HAHHAHAHAHA #gakpapa #soktegar.

Selesai trip kami memutuskan untuk beli oleh-oleh di toko yang tak jauh dari resto. Mbak Tamitha berpisah dengan kami karena ia melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju kampung halamannya di Kediri. Perjalanan pulang dilanjutkan, satu per satu dari kami pulang, ada yang turun di stasiun kereta, ada yang di pinggir jalan karena tak jauh dari rumah. Gue pun akhirnya pulang ke rumah lalu go to the bathroom dengan sekujur badan penuh daki karena cuaca panas dan keringat selama perjalanan. Finally this trip done!

***

Ada banyak suka dan duka dari one day trip ke Cirebon saat itu. Sebagai nonmuslim, gue harus bisa menahan diri untuk menghormati teman-teman yang puasa meski mereka juga tak keberatan kalau gue makan di depan mereka (ingat cerita lumpia). Ditambah kesulitan mencari tukang makanan sewaktu baru tiba di kota ini.

Selain itu, gue juga sempat ikut puasa singkat dimana gue harus ikutan “sahur”, makan di siang hari saja (puasa setengah hari) dan baru bisa bungkam perut lagi saat yang lain berbuka puasa (which is gue ikutan bukber). Well, teman-teman muslim gue gak begitu banyak. Jadilah gue gak seperti orang-orang (walaupun nonmuslim) yang rajin ikutan dan posting foto bukber sebagai bentuk solidaritas dan kebersamaan dengan teman-teman muslim lainnya.

Trip ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi gue yang belum pernah ngetrip di bulan puasa dengan teman-teman yang mayoritas muslim. Ada banyak suka dan duka. Namun cerita ini akan terkenang selalu sebagai perjalanan sarat makna tentang kebersamaan, keberagaman dan toleransi.

Tabik

img-20170615-wa0003-594762f6f27a619a09e2f28a

________________

N.B : setelah trip, ada lomba blog review dimana kami harus menceritakan perjalanan ke Cirebon kemarin dengan hadiah uang tunai (lagi). Dan, ehem, artikel gue menang jadi juara ketiga! Lumayan, dapat uang jajan tambahan. (Pastinya lebih dari Rp 100.000 πŸ˜‹)

Advertisements

22 thoughts on “Suka Duka Ngetrip di Bulan Puasa

    1. Wah hebat mbak..
      Saya selalu salut sama orang-orang yang tetap bisa menjalankan ibadah puasa meski di tengah aktifitas berat seperti traveling.. πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

      Like

  1. Seruuu…. Puasa tahun lalu gw solo trip ke jogja… Saking sepinya sampe ikutan puasa, abis mau makan kok jd malu sendiri yah, alhasil kalo ga kuat nyari fastfood, sementara kalo makan pas buka puasa semua tempat makan rame sama yang bukber. Enaknya pas ke pantai siang-siang berasa punya private beach giti deh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Emberan.. Rasanya malu juga kalo makan πŸ˜‚πŸ˜‚
      Giliran mau makan pas jam2 buka puasa ramenya naujubilah 😫😫

      Ada enak dan gak enaknya juga kalo ngetrip di bulan puasa, apalagi buat nonmuslim..

      Like

  2. Ngetrip saya di bulan puasa adalah ketika mudik. Meski tiap tahun dijalanin, tetep aja selalu ada cerita baru. Soal puasa nggak puasa, itu mulai dari yang pakai alasan musafir, emang lagi libur, sampai ya dikuatin aja puasanya, toh kan seharian cuma diam di mobil. Dan jarang juga sih jalan malem.

    Ciyeee, selamat ya memang juara ketiga, mau baca dong artikelnya yang mana.

    Liked by 1 person

    1. Enaknya gtu, kalo bulan puasa sepi. Gk enaknya kadang ada beberapa tempat makan yg tutup, terutama streetfood yang berselimutkan terpal sehingga kurang di-notice oleh turis..

      Like

    1. Hahha.. Makasih kak, kmaren lg rejeki aja bisa ngetrip gratis πŸ˜‹
      Btw saya nubie yg masih belajar ngeblog koq.. πŸ™‡πŸ»

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s