Mencicipi Kuliner Pecinan “Djadoel”

P_20180302_095510
Kuliner Pecinan Jakarta

Pernah dengar tentang Pecinan atau Chinatown? Yup, suatu kawasan dimana banyak orang keturunan Tionghoa tinggal. Biasanya distrik ini akan menjadi pusat bisnis atau sentra kuliner pecinan. Dan di Indonesia, khususnya di ibu kota Jakarta, kawasan Pecinan itu lebih dikenal dengan nama Glodok. Lokasinya tak jauh dari Kota Tua dan berada di wilayah Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Pancoran.

Oke, tanpa banyak cing cong kali ini gue tertarik untuk mengulas wisata pecinan ini. Bukan hanya sejarah atau budayanya saja, tetapi kulinernya, dan ini bukan sembarang kuliner pecinan karena yang gue bahas adalah kulinernya yang jadul nan legendaris. Kuliner yang sudah bertahan sejak puluhan tahun silam dan masih eksis hingga sekarang.

Anyway, pecinan identik dengan kuliner nonhalal. So, yang gue bahas adalah beragam kuliner yang pastinya halal dan aman disantap oleh semua kalangan.

Jadi buat teman-teman yang muslim gak usah takut ya kalau ngiler setelah baca tulisan ini sampai habis. NO PORK, NO LARD!

Kuliner-kuliner ini tak hanya lezat, tetapi juga kaya akan sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah distrik yang dikenal sebagai Chinatown of Indonesia. Apa sajakah kuliner-kuliner pecinan yang legendaris itu. Berikut perjalanannya..

Ada Mie Belitung di Jakarta

Bagi lu-lu pade yang udah pernah ke Belitung pasti nyicip donk salah satu makanan khas disana yang namanya Mie Atep. Ternyata di Jakarta, tepatnya di Pecinan Glodok ada Mie Atep atau Mie Belitung. “Lao Hoe“, itulah nama restoran yang berada di Gang Kalimati yang menjual kuliner khas dari Negeri Laskar Pelangi ini.

Lao Hoe dalam dialek Hokkian artinya Orang tua. Mengapa dinamakan demikian karena usaha ini dirintis oleh para lansia atau (kalau boleh gue menyebutnya) encim-encim, sebutan untuk nenek-nenek dalam masyarakat Tionghoa. Nah, encim-encim ini ternyata masih segar bugar dan rajin lho mengurus rumah makan jadul ini.

Untuk menu, sebenarnya ada banyak jenis makanan yang disajikan namun yang paling terkenal adalah Mie Belitung dan Laksa Bogor. Untuk Mie Belitung, potongan kentang, tahu, timun, mie kuning, udang dan emping cukup membuat lidah bergoyang. Saat kuahnya dihirup, rasanya seperti kuah encer agak kental bumbu rujak.

Soto Bogornya juga sedap. Terdiri dari ketupat, bihun, tauge, suwiran daging ayam dan potongan telur rebus dengan kuah santan berwarna kuning yang terasa light namun tidak membekas di lidah (karena hanya cinta yang membekas di lidah dan di hati). Apalagi tambahan daun kemangi di atasnya semakin memperkaya citarasa.

Untuk minuman, ada Liang Teh yang kata si encim terbuat dari daun teh lo han kuo. Sangat segar di cuaca yang panas, rasanya juga tak terlalu manis karena mereka tak menggunakan janji-janji manis, eh maksudnya gak pake gula biang.

Lao Hoe bukan hanya menjual makanan. Ada penganan atau cemilan kecil yakni goreng-gorengan seperti pisang, tape dan sukun goreng. Paling rekomen adalah Cempedak Goreng yang dicocol dengan saus gula merah. So yummyy.

Menariknya, selain Mie Belitung, restoran kecil dan minimalis ini memiliki interior dan ornamen khas China peranakan (coba ke toiletnya, pintunya unik banget). Bangku dan mejanya juga sangat jadul, seolah membawa kita ke nuansa tempo dulu. Bahkan, si encim ngitung bill aja masih pake sempoa. What an unique place!

Kalau mau kesini tanya orang aja gang kalimati dimana. Patokannya dari gedung chandra telusuri lapak-lapak di pinggir gedung sampai ketemu resto fastfood A&W, jalan lagi sedikit ada gang di kanan (ini namanya Gang Kalimati), masuk ke dalam gang dan tak jauh dari sana di sebelah kanan ada restoran yang menjual mie belitung ini. Selamat mencicipi.

Rujak Shanghai, bukan sembarang rujak

Kuliner pecinan jadul berikutnya adalah rujak. Jangan bayangkan potongan buah dengan bumbu sambal yang terbuat dari gula merah dan cabe segar. Kali ini gue akan mengajak kalian ke suatu tempat yang menjual rujak tapi gak pake komposisi seperti rujak kebanyakan. So, hilangkan image rujak, apalagi rujak natsepa yang seperti buah ditabur choco crumbles itu.

Rujak Shanghai Encim nama tempatnya, disini kita akan mendapatkan sepiring rujak berisikan potongan cumi, gurita, kangkung, lobak dan mentimun. Tak perlu jijik atau merasa amis karena bahan-bahan tersebut sudah direbus lebih dulu sehingga terasa segar saat hendak disajikan.

Rujak kemudian disiram dengan kecap asin, saus merah kental, bumbu bawang putih dan taburan kacang yang sudah dihaluskan. Untuk pembasah tenggorokan, ada minuman khas Pematang Siantar, Badak.

Soal rasa? Cobalah untuk menyesuaikan lidah terlebih dahulu. Nikmati setiap gigitan daging yang kenyal itu.

Gue pribadi (karena dasarnya emang doyan ngunyah) suka sama Rujak Shanghai ini karena selain citarasanya yang unik, makanan ini juga salah satu kuliner legendaris di pecinan.

Dari gerobaknya tertulis sudah berdiri sejak 1968 (entah kapan duduknya, berdiri dari tahun segitu gak capek apa yah). Kenapa disebut Rujak Shanghai Encim, yah karena yang jual encim-encim #wkwkwk #candadeng.

Disebut bahwa jaman dulu rujak ini dijual tak jauh dari bioskop Shanghai yang berada di kawasan Gloria dan meski bioskop Shanghai udah lama tutup dan gedung Gloria juga sudah diruntuhkan beberapa tahun silam, namun imejnya sudah kadung lekat sehingga tetap disebut sebagai rujak shanghai.

Pengen banget kesini dan nyobain rujak shanghai??? Keluar dari gedung Chandra tinggal nyeberang dan telusurin jalan sampe ketemu semacam food court yang menjual ayam goreng, ayam kalasan, bakmie, mie goreng, kwetiau goreng, dll. Nah, Rujak Shanghai Encim ada disitu, dari depan juga kliatan gerobak dengan identitasnya yang sekarang sudah ditambah embel-embel layanan delivery via ojek online.

Mau ngopi? ke Tak Kie aja

Gak jauh dari rujak shanghai, jalan dikit lagi sampe ketemu gang yang disebut Gang Gloria. Patokannya di depan gang banyak pedagang bakmi yang teknik marketingnya setara dengan calo terminal dan pelabuhan.

“Ayok koh, mampir dulu nyobain bakmienya..”

“Boleh koh, ada bakmie, ada kwetiau, ada siomay, bakso goreng..”

“Silakan bakmienya, gohyongnya, boleh mampir dulu koh..”

Kurang lebih begitulah kata-kata sambutan yang gue dapetin saat masuk ke gang ini.

Anyway di sepanjang masuk gang ada banyak pedagang makanan. Jadi wajar saja mereka berusaha menggaet para pelanggan sebelum direbut sebelahnya. Selain bakmie, ada juga pedagang nasi campur (note: nasi campur khas Tionghoa itu bukan nasi dan lauk sayur dan daging, tapi nasi dengan beragam jenis olahan daging B2), sampai pi oh (olahan daging bulus).

Kedai Kopi Es Tak Kie berada disini. Dari depan dia ketutupan sama lapak pedagang nasi campur dan bakmi. Pokoknya sekitar 10 meter dari gang, di sebelah kanan ada sebuah rumah dengan tampilan ala kedai resto, masuk aja kesitu.

Kopitiam atau kedai kopi ini sudah berdiri sejak puluhan tahun silam dan masih ramai dikunjungi. Jam 8-10 pagi adalah jam-jam ramai. Pengunjung juga diperbolehkan memesan makanan di lapak-lapak di luar kedai ini, namun hati-hati bagi yang muslim karena rata-rata makanannya berlabel haram.

Ehem.. meskipun gue bukan coffee lover namun gue mencoba mencicipi salah satu minuman favorit disini, Kopi Susu. Satu gelas besar kopi datang dan siap diteguk. Btw, teknik pengolahannya masih manual dan jangan lupa untuk mengaduk susu yang masih mengendap di dasar gelas.

Kopi Es Tak Kie juga menawarkan suasana jadul, terutama pigura-pigura yang dipajang di dindingnya. Bahkan, demi sirkulasi udara yang alami kedai ini hanya menggunakan kipas angin. Jangan harap ada wifi, ini bukanlah tempat ngopi jaman now, namun masih sangat nyaman untuk kongkow dari berbagai kalangan dan usia. Tak heran bila kedai kopi ini selalu menjadi rekomendasi tempat kuliner di pecinan Glodok.

Yes, this coffee shop is old, but still gold..

Patekoan dan minum teh gratis sepuasnya

Capek jalan-jalan di kawasan pecinan. Kalau bajet ente hemat, bahkan untuk beli es cincau pun juga ogah, saran gue minum teh gratis aja di Pantjoran Tea House. Resto ini mencoba mempertahankan tradisi “Patekoan“, yakni membagikan minuman gratis kepada orang-orang di sekitarnya.

Patekoan sendiri diambil dari kata pat (dalam dialek Hakka artinya delapan) dan teko. Sehingga secara harafiah artinya delapan teko. Dahulu di Jalan Perniagaan hidup seorang Kapiten yang mempunyai pedang panjang bernama Gan Djie. Di depan kantornya itu dia dan istrinya selalu meletakkan delapan buah teko teh untuk para pedagang keliling dan orang-orang yang ingin menumpang berteduh.

Delapan teko inilah yang menjadi asal mula nama daerah Patekoan di jalan Perniagaan. Sampai-sampai ada satu sekolah negeri di jalan itu yang disebut sebagai Sekolah Patekoan (fyi, sekolah ini unik karena walaupun sekolah negeri tapi mayoritas murid-muridnya adalah keturunan Tionghoa dan #ehem saya adalah salah satu jebolannya).

Tradisi Patekoan inilah yang coba dikembalikan oleh Pantjoran Tea House untuk mereka yang sedang jalan-jalan ke pecinan. Ada delapan teko dengan empat diantaranya adalah teh manis (yang diberi pita merah). Pihak resto menyediakan gelas yang akan dicuci dan diganti setiap waktu, jadi jangan takut ketuker sama gelas bekas ya. Corak teko dan gelasnya juga terbuat dari keramik yang unik dan jadul, seolah membawa kita ke masa-masa awal tradisi patekoan.

Sejatinya Pantjoran Tea House tidak termasuk dalam daftar kuliner legendaris pecinan, namun gedung yang mereka gunakan adalah bekas gedung Apotik Chung Hwa.

Gedung yang berdiri sejak 1928 ini menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Pecinan. Letaknya yang berada di pengkolan atau di mulut pintu gerbang kawasan inti Kota Tua. Sempat terbengkalai sejak tidak lagi digunakan sebagai apotik, bangunan ini akhirnya direvitalisasi dan difungsikan kembali sebagai restoran bernama “Pantjoran Tea House“.

Resto ini juga menjual beragam jenis makanan dan minuman yang pastinya halal namun mahal. Tapi bagi yang suka gratisan, silakan dinikmati teh yang dipajang di depan resto sambil melihat album kenangan mantan bangunan ini dalam bingkai foto.

***

Chinatown’s old culinary adalah menjelajahi daerah Glodok Pancoran sambil menikmati kuliner pecinan. Selain sarat sejarah, kawasan pecinan juga kaya akan citarasa. Tak heran bila di negara-negara lain, pecinan selalu menjadi alternatif wisata kuliner yang murah, meriah dan enak. Tak terkecuali pecinan Jakarta yang punya banyak pilihan penggoyang lidah.

Sebenarnya masih ada beberapa rekomendasi kuliner di kawasan Glodok. But at least, semoga rekomendasi kuliner pecinan jadul yang saya berikan bisa menjadi pilihan untuk wisata kuliner sambil walking tour mempelajari sejarah dan budayanya. Akhir kata, selamat makan dan selamat menikmati sajian kuliner jadul pecinan.

Ho ciak!

Advertisements

18 thoughts on “Mencicipi Kuliner Pecinan “Djadoel”

    1. Tadinya mw bikin cerita walking food tour glodok dan masukin list makanan nonhalal jg..
      Tp batal, karena gw harus jeli melihat pangsa pasar (baca: pembaca blog gw)
      πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Like

  1. Baca artikel ini jadi ingat pernah kulineran di Glodok.
    Berderet-deret kios makanan dengan bangunan ala tempoe doloe … mengesankan.

    Ada satu kedai bakmi yang jadi langgananku saat aku kesana, namanya mie Amoy.

    Liked by 1 person

    1. Sepertinya itu yg di pasar petak 9 ya mas? Kalau bakmi disana rata-rata nonhalal, kecuali bakmi ayam abang2 gerobak. Heheh

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s