My Trip with Winny & Friends

P_20180505_140252_vHDR_On

Dalam dunia blog, ada istilah blogwalking dimana kita membaca blog milik orang lain dan syukur-syukur meninggalkan jejak komentar juga. Keuntungan dari blogwalking adalah selain menjalin silaturahmi dengan pemilik blog tersebut (blogger), kita juga bisa tahu gaya bahasa, cara menulis atau bercerita bahkan karakter dari si blogger. Kalau secara teknis, blogwalking bisa meningkatkan DA & PA blog kita.

Belakangan ini gue memang suka membaca blog-blog dari travel blogger ngehits yang jam terbangnya sudah tinggi. Sebut saja Trinity, Arief Rahman, Marischka Prudence, Alexander Thian, dll. Gue sendiri bahkan pernah bertatap muka langsung dengan Mas Arief dan Miss Prue dalam suatu acara. Sempat terbesit gimana ya kalo someday gue bisa ngetrip bareng travel blogger yang famous dan ketjeh abis ini.

Dari sekian banyaknya blog itu, ada satu travel blogger yang sangat gue suka. Alasannya sederhana, gaya penceritaannya yang unik dan menarik, unexpected, ditambah dia adalah seorang wanita yang sering solo trip. Yup, blog milik Winny Marlina atau www.winnymarlina.comΒ adalah salah satu travel blog yang paling sering gue baca. Gue lupa gimana cerita awal ketemu sama blognya (kalau gak salah waktu mau nyari info destinasi), tiba-tiba gue jadi keranjingan sama cerita si Kakak Batak satu ini, apalagi waktu baca perjalanannyaΒ keliling Eropa satu bulan dan unpaid leave dari kantor. Wuihhhh…

Bisa dibilang, dia adalah salah satu travel blogger yang bagi gue sangat menginspirasi. Perjalanannya pun selalu dilakukan dengan teman-teman dekatnya bahkan seorang diri. Dan dari setiap perjalanannya selalu ada cerita menarik yang bisa dibagikan.

Well done Ito..

***

P_20180505_155034_vHDR_On

“Den, lu mau ke kandang godzilla? Tanggal 5 Mei gue kesana mau ikut?”

Begitulah chat yang gue terima dari Derus, salah satu teman di komunitas, pertengahan April silam. Tanpa banyak pikir gue langsung mengiyakan. Toh kalo menjelang atau pas hari H gue gak bisa tinggal cancel doank, Wkwkwk. Setelah itu gue dimasukin ke dalam WhatsApp Group trip ini. Kata Derus sih, gue diajak biar jumlahnya gak ganjil.

Gue pun langsung disambut oleh para penghuni grup yang jumlahnya saat itu baru enam orang. Yoweslah kita berbasa-basi dan gue juga gak terlalu merhatiin grup banget karena tripnya masih lama. Awal Mei, barulah grup ini mulai terlihat aktif. Beberapa nama dimasukkan dari teman-teman si admin group.

Saat itulah gue baru ngehΒ sama satu hal. Pas gue mau cek jumlah peserta, gua baru “menyadari” bahwa di grup ini ada tiga admin, Derus, Gara, dan “Winny“. Di WhatsApp dia menggunakan nama Winny, namun di statusnya dia menulis sebuah kalimat yang sangat familiar, winnymarlina.com.

Wait, what?? Whattt?? Is she Winny the traveler, the explorer and the adventurous girl who i have read her amazing stories at anytime??? Jadi, gue bakalan ngetrip sama seseorang yang blognya sering gue baca itu?? #OMG. Oh Lord, apakah ini sebuah mimpi??? (biar lebay dan dramatisir).

Gue bener-bener gak ngeh kalau itu Winny karena profile picture di WA-nya berhijab. Selama ini saat baca blognya ia belum tampil berhijab dan ternyata baru mulai menutup auratnya pada akhir tahun lalu (kata teman-temannya). Apalagi, cerita di blognya belakangan ini juga masih membayar hutang cerita jalan-jalannya di Eropa setahun silam dimana masih tampil ala abegeh backpacker. Dan ketika membuka instagramnya @winnymarlina, ternyata di beberapa foto terakhirnya ia memang sudah berhijab.

Oke skip punya skip, di hari H kita semua janjian kumpul di Stasiun Tanah Abang jam 10 pagi. Seperti drama trip yang sudah-sudah, pas hari H ada saja yang akhirnya cancel atau batal ikut. Yang batal adalah Gara, salah satu admin, dan Sofyani (sekedar info, Sofy ini berjakun, jangan tertipu oleh sebuah nama). Awalnya Winny mau ikut kumpul namun dia bilang akan berangkat telat karena ada urusan dan menyuruh kami jalan duluan.

P_20180505_102253_vHDR_On

Kami naik kereta yang melintasi Tangerang Selatan dengan pemberhentian terakhir di Rangkasbitung, lalu berhenti di Stasiun Tiga Raksa karena merupakan stasiun terdekat dengan destinasi tujuan kami, Danau Biru Cigaru-Cisoka dan Tebing Koja alias Kandang Godzilla. Derus berangkat dari Stasiun Kebayoran, jadilah yang berkumpul di Stasiun Tanah Abang adalah Chocky, Ebeth, Melisa, Sarni, Hani, Mbak Lenni dan gue sendiri.

Lucunya, ketika gue bertemu mereka dan ngobrol sama Chocky dia bilang kalau gak kenal sama yang lainnya. Dia sempat bertanya apakah gue teman Winny. Well, baru aja gue mau ngomong “teman setianya di blog” namun akhirnya gue bilang kalau diajak sama Derus (dan gebleknya, sebenarnya gue juga belum pernah ketemu sama Derus. Selama ini hanya chit chat via WhatsApp).

Dari perkenalan dan percakapan singkat, ternyata beberapa ada yang kenal Winny semasa kuliah S1, ada yang teman di S2, ada teman ngetrip, kenal dari blog, bahkan “mengaku” teman kosan Winny. Jadi intinya trip kali ini adalah “Winny & Friends” alias Teman Winny, semua tidak saling mengenal (kecuali 1-2 orang) namun dipersatukan oleh Winny, termasuk gue sang pembaca setia blognya #wkwkwk. And the funny things is Winny-nya malah gak dateng.

Cerita punya cerita, mereka menyinggung soal pindahan dan mau bikin farewell untuk Winny yang pastinya gue kagak paham maksudnya (nanti gue jelasin, baca sampe habis ya sob!).

IMG-20180503-WA0017

Perjalanan pun dimulai, ternyata menuju Stasiun Tiga Raksa cukup lama dan melelahkan. Yang lain menyarankan untuk duduk biar gak capek. Benar saja, di pemberhentian stasiun berikutnya kereta jadi lumayan rame dan penuh sesak. Gue bertemu dengan Derus yang sengaja menunggu biar satu kereta dan kebetulan satu gerbong. Ada cerita menarik waktu tiba di Stasiun Daru, ada ibu-ibu yang nyinyirin gue,

“Mas, koq cowok duduk sendiri sih disitu?? Kan itu yang duduk cewek semua. Gak berdiri ikut temen-temennya??” (Sambil nunjuk Derus dan Chocky)

Intinya dia kasih kode super keras kalau mau duduk. Dan langsung saja gue bangun dan ngejelempak,

“Oh iya bu, silakan duduk..” (lengkap dengan gestur mempersilakan duduk)

Dan si ibu sambil malu-malu akhirnya duduk. Gue pun melirik deretan bangku yang ternyata isinya cewek semua dan memang cuman gue cowok sendiri!! Tanpa basa-basi (dengan nada sedikit becanda tentunya) gue kembali menimpali.

“Wah iya yah, saya cowok sendiri yang duduk. Jadi malu saya nih ditegor sama ibu, heheh..” (dalam hati mikir, untung tinggal dua stasiun lagi)

Derus, Chocky, si emak nyinyir dan beberapa penumpang terdekat tertawa melihat “momen” itu. Intinya kalo lu nampar pipi kanan gue, sekalian deh gue kasih pipi kiri. Daripada malu hati karena ditegor dan dinyinyirin, sekalian aja gue tembak dan labrak langsung biar gak mokal-mokal amat. FYI, gue gak menyarankan cara ini kalo lu gak punya bakat “mencairkan suasana” atau seengganya biar yang bersangkutan gak tersinggung.

Kami sampai di stasiun jam 12.30 dan memutuskan untuk makan siang dulu. Setelah itu kami menyewa angkot yang langsung ditembak dengan harga Rp 300.000. Awalnya Derus bilang nyewa angkot paling cuma Rp 150.000, namun ternyata realita di lapangan naik dua kali lipat. Para sopir angkot sepertinya sudah pandai melihat peluang. Jumlah kami delapan orang, ditambah kami menuju dua destinasi sekaligus sampai sore.

Benefitnya, mereka menjamin bahwa kami tidak akan “dipalak” di jalan saat menuju danau biru karena sejatinya disana kita cukup bayar parkir (kalau baca-baca di blog atau cerita teman yang pernah kesana, mereka bilang di beberapa lokasi suka kena pungli). Hanya di tebing koja kami akan dikenai biaya masuk sebesar Rp 5.000 alias goceng per orang, plus kami diperbolehkan pulang semaunya karena kami akan pulang saat maghrib. Setelah sempat nego harga dan ditolak akhirnya kami sepakat di harga Rp 300.000 #SHIIITTT.

Singkat cerita, ketiga ksatria dan lima anggota cherrybelle naik angkot bareng, sementara Winny Sang Bintang Utama masih repot urusan pindahan dan belum jelas kapan bisa berangkat. Oh ya, ada satu lagi teman kami Titi yang menyusul dari Serpong jam setengah empat sore karena ada acara di AEON Mall.

Kami tiba di Danau Biru Cigaru Cisoka. Dan asli, gue zonk banget disini. Kalau lu cek di Google Images, gambar-gambar tersebut ditaken sekitar 2-3 tahun silam waktu tempat ini masih sepi dan asri. Sekarang, semua lapak dan tenda warung ada dimana-mana (bahkan ada penjual ayam bakar). Konyolnya lagi, disana sudah ada kolam renang (WTF!) ditambah perahu sampan ala-ala dan beberapa spot cantik untuk berfoto.

Sumpah, bayangan gue akan danau yang seperti Danau Kaolin di Belitung buyar seketika. Kebetulan warna danau sedang hijau pekat dan cokelat butek, yang mirip sama Danau Kaolin cuman panasnya doank, Zzzz. Kalau dipikir-pikir, Danau Cigaru Cisoka jadi mirip sama tempat wisata kekinian atau rame dan crowdednya mirip Tangkuban Perahu. Hadoohhh, hard to explain!!! Bersyukurlah kalian yang 1-2 tahun lalu sudah menginjakkan kaki kesana. Derus yang sudah pernah kesini sekali juga ikut kaget sama perubahan danau biru.

Yup, inilah efek samping dari hype yang ditimbulkan oleh social media. Semakin rame suatu tempat, semakin pudar pula keindahannya. Ada banyak oknum-oknum yang memanfaatkan situasi tanpa memperdulikan keindahan atau estetika dari suatu tempat. Padahal jika keasriannya dijaga, artinya itu akan mempertahankan “nilai jual” dari tempat tersebut. Tapi persetanlah dengan estetika, yang penting bisa nyari duit disitu sebanyak-banyaknya #TakeADeepBreath.

Disana kami mencoba mencari beberapa spot foto yang lumayan ketjeh meski terkadang ada bocor dimana-mana (big thanx buat aplikasi penghapus orang). Cuaca panas bikin kami pengen ngaso di lapak warung dan disitulah kami mulai bercerita tentang Winny si bintang utama trip ini.

Jadi Winny mendapat pekerjaan baru di Payakumbuh, Sumatera Barat. Dia akhirnya mulai mengemasi barang-barangnya untuk dipindahkan kesana. Awalnya di akan berangkat sekitar awal bulan Mei, bahkan katanya masih ragu bisa ikut trip ini atau nggak. Namun karena satu dan lain hal akhirnya dia tetap bisa ikut meski datang telat (saat di Cigaru, dia menginfokan baru saja berangkat menuju Tiga Raksa).

Well, jaringan pertemanan Winny memang luas. Kami semua bertemu di trip ini yang mempertemukan teman kuliah S1, teman kuliah S2, “teman kosannya”, teman dari blog, dan #ehem pembaca blognya. Semua yang ikut trip mengenal Winny secara personal, bahkan ada satu orang yang menyangka gue kenal sama Winny dari USU (Universitas Sumatera Utara), Wkwkwkwk.

Saat itu gue hanya berkelakar ke teman-teman lainnya.

“Waduh, cuman gue doank ya yang kagak kenal sama Winny. Ya udah lah anggep aja gue additional player..”

Tadinya, jika Winny batal ikut mereka akan membuat “farewell” kecil-kecilan dengan meminta Winny datang ke Stasiun Tanah Abang. Karena Winny jadi ikut, akhirnya acara farewell diadakan disana. Derus sebagai tour leader menyuruh Winny untuk langsung ke Tebing Koja saja karena waktunya tidak cukup kalau ke Danau Biru, ditambah kami juga akan beranjak dari sana karena gak tahan sama cuacanya yang puuannnaasss.

***

“Eh itu si Winny… Wiiinnnnyyy….!!!”

Begitulah teriak salah satu teman kami kala melihat cewek berhijab yang dibonceng di motor sama bapak-bapak saat kami mau masuk ke Tebing Koja. Sebuah kebetulan yang sangat berjodoh. Winny pun bercipika-cipiki dengan teman-teman yang dikenalnya, tak lupa Derus memperkenalkan gue dengan seseorang yang selama ini hanya gue lihat dan baca ceritanya di blog.

Kesan pertama, logat bataknya benar-benar kental dan orangnya lucu juga. Ada satu momen dimana saat kami berada di pintu masuk dan membeli tiket, Winny tanpa tedeng aling-aling langsung meminta diskon.

“Bang berapa harga tiketnya?” (Sambil ngelirik apakah harga yang tertulis dan harga yang disebut sama)

“Lima ribu.” (Fyi, ini harga asli but sorry gue lupa fotoin)

“Ah.. tiga ribu sajalah bang. Kita kan rame-rame ini. Tiga ribu saja yah.. yah..”

“Gak bisa mbak, ini udah perintah bos.” (Seriously, ini si abang mukanya melas dan ngomongnya melas juga. Btw kenapa jadi dia yang melas yah. Wkwkk)

“Ya sudahlah, kita ada 9 orang jadi Rp 40.000 saja yah,” (sumpah! salut gue ama usaha terakhir si Winny. Wkwk)

“Gak bisa mbak, satu orang lima ribu.”

Akhirnya, Winny kurang beruntung karena gagal menawar dan masuk dengan harga tiket resmi tersebut. Kami pun mulai foto-foto cantik, mencari inspirasi foto-foto via hashtag #tebingkoja atau #kandanggodzilla di instagram dan memulai acara farewell kecil-kecilan itu dengan piknik sambil makan indomie dan ngemil. Kebetulan pemilik warung meminjamkan kami karpet untuk makan sore.

Saat itulah Winny mulai curhat, baik tentang pekerjaan sebelumnya, last day di kantor, sampai urusan pindahan yang belum selesai. Dari ceritanya, ia sudah memindahkan semua barang-barangnya dan akan berangkat ke Padang Senin pagi. Tak lupa sebagai traveler ia juga menceritakan pengalaman dan cerita-cerita perjalanannya baik di dalam maupun luar negeri. So excited mendengar langsung dari orangnya, bukan cuma sekedar membaca tulisannya di blog.

Ada cerita lucu waktu ia memesan ojek menuju tempat ini. Kalau pesan ojek online, tarifnya Rp 7.000. Tapi Winny malah naik ojek pangkalan dengan tarif yang ditawar Rp 15.000 dengan catatan kalau jauh nanti ditambahin goceng. Waktu pesan dia malah langsung bikin bapak ojek bingung.

“Pak, aku mau ke sarang gorilla.”

“Sarang gorilla????” (Si bapak bingung, kita yang dengar ceritanya juga ikutan bingung)

“Sarang gorilla. Itu pak yang rame itu.”

“Kandang godzilla kali neng, tebing koja maksudnya.”

“Yah pokoknya kesitulah pak, gak tahu aku godzilla itu kaya gimana.”

Akhirnya mereka berangkat dan Winny berbaik hati memberikan uang sebesar Rp 20.000. Kami yang mendengar ceritanya sampai bingung. Jangan-jangan kalau bilang mau ke sarang gorilla malah dibawa ke ragunan, seloroh kami. So, Winny bahkan nggak tahu Godzilla itu apa sampai gue googling dan nunjukin monster sejenis kadal, buaya atau dinosaurus ini. Kalau kata orang disana, ada satu batu yang kepalanya agak mirip sama godzilla namun Winny yang pola pikirnya out of the box malah bilang kalau batu-batu itu mirip unta karena ada punuknya #wkwkwk.

Sampai sore menjelang maghrib, kami masih sempat mengeksplor dan mencari foto-foto cantik buat kasih makan feeds instagram. Ada drama dimana teman kami Titi (dan ia mengajak temannya Leni) baru mau sampai ke Tiga Raksa. Dia pun sedikit cemas dan bertanya apakah kami akan pulang dari Tebing Koja.

Derus akhirnya menyarankan untuk menunggu Titi dan Leni di luar dekat parkiran “Alphard” kami. Benar saja, mereka berdua naik gojek dari stasiun menuju Tebing Koja. Titi akhirnya sampai duluan, sementara Leni entah nyasar dimana. Awalnya, teman-teman yang muslim ingin sholat maghrib lebih dulu, namun supir “Alphard” kami sudah merengek pengen buru-buru pulang. Kami semua pun turun naik angkot berwarna putih biru itu sambil kontek-kontekan sama Leni.

Finally, kami bertemu Leni tepat saat berpapasan di tengah jalan, jadilah Titi dan Leni datang cuma buat ngerasain naik kereta ke Tiga Raksa, naik Gojek ke Tebing Koja terus naik Alphard merakyat kami + ditagih duit sharecost patungan sewa angkot sama Derus #HAHAHAHAHA.

Winny pun memberi saran agar setidaknya kami makan malam bareng, yah biar ada foto dua orang yang baru dateng ini, bahkan Winny sampai memberi saran agar foto kita diedit aja biar ada mereka berdua, atau kalau mau posting foto kita semua juga gak apa-apa. Asli ngenes banget nasib dua orang ini #Wkwkwk.

Anyway, ada sedikit drama ketika kami turun dan membayar sewa angkot. Dari harga Rp 300.000 yang sudah disepakati ternyata dia meminta tambahan Rp 20.000. Alasannya karena kami pulang nambah tiga orang dan baru turun saat maghrib (lah, tadi bilangnya bebas mau pulang kapan. Zzzz). Akhirnya Derus pun memberikan uang tambahan yang diminta lengkap dengan pesan moral,

“Ya udah, nih pak duitnya. Semoga menjadi berkah.”

(Diucapkan dengan nada rendah, namun memberi sedikit penekanan pada kata “berkah“)

Hani, Sarni dan Mbak Lenny memutuskan untuk pulang lebih dulu. Sementara kami ingin mengisi perut sebelum pulang. Di saat itulah ada sedikit cerita lucu, dari teman-temannya Winny ada yang “mengaku” sebagai teman kosan, atau teman dekat kosan, atau satu komplek kosan di Kebon Kacang (menurut pengakuannya, entahlah mana yang benar). Namun Winny menyanggah dan mengatakan bahwa ia kenal karena si yang “ngaku-ngaku” tersebut adalah pembaca blognya #LHAAA.

“Jadi pas gue lagi makan bakso ada yang nyamperin dan nanya. Winny ya?? Blogger ya?? Saya sering baca blog kamu,” cerita Winny. (Duh aya-aya wae)

“Terus dia suka ngajak jalan kemana-mana. Nah, pas mau ke Danau Biru dan Tebing Koja akhirnya gue ajak dan dia mau.” (Jadi gitu toh ceritanya. Wkwkwk)

Akhirnya di momen itulah gue membuat sebuah pengakuan yang selama ini gue pendam #ehem.

“Saya juga suka koq baca blognya Mbak Winny,” my confession.

“Hah, serius kamu Den??!! Aduh makasih lho kamu udah baca blog aku,” katanya dengan wajah sumringah, bahkan dia sampai berdiri buat menjabat tangan gue. Hahahha.

“Iya, apalagi waktu cerita unpaid leave 1 bulan demi keliling Eropa. Itu panjang banget ceritanya.”

“Aduh, iya tuh. Dan sampai sekarang ceritanya belum semuanya kutulis,” curhatnya.

Well, ternyata Winny Marlina memang pribadi yang humble. Setidaknya dia bukan orang yang jaim-jaim amat. Bahkan di perjalanan menuju stasiun dia masih sempet-sempetnya beli pisang sepet karena harganya murah.

Di perjalanan pulang, Derus pamit lebih dulu karena turun di Stasiun Kebayoran. Kami semua turun di Stasiun Tanah Abang dimana Winny dan Chocky langsung pulang dilanjutkan naik ojek online. Titi dan Leni lanjut ke Depok, sementara gue, Ebeth dan Melisa cuss ke Duri (karena gua markir motor di Duri). Kedua cewek ini masih harus transit lagi disana karena akan pulang ke Tangerang. Kami pun akhirnya berpisah satu sama lain.

Meski hanya berlangsung sehari namun ada banyak cerita, keseruan dan pengalaman dari Winny & Friends. Especially buat Winny yang benar-benar teman perjalanan yang sangat seru dan menyenangkan. Meski singkat dan hanya ketemu di Tebing Koja, sangat terlihat dia adalah teman yang cocok buat backpacker atau ngegembel. Ya, dia bukan orang yang sok high class atau sombong meski sudah malang melintang kemana-mana dan kenyang pengalaman.

Last but not least, gue selalu menunggu cerita-cerita perjalanan dari seorang Winny Marlina yang seru dan pastinya menginspirasi. Meski saat ini dia akan disibukkan dengan pekerjaan barunya, namun pastinya ia masih memiliki hasrat untuk mengeksplorasi setiap jengkal keindahan alam, baik di Indonesia maupun di dunia.

Well, see you again next adventure sista Winny. Always success for you…

P_20180505_171105_vHDR_On_1

Advertisements

87 thoughts on “My Trip with Winny & Friends

    1. Hahahaha..
      Kalo baca ceritanya pasti paham siapa yg dimaksud..
      Gunakan prinsip “gak mungkin ngomongin orang kalo orangnya ada disana”.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Like

      1. Hahaha, dah ada suspect sih dari awal. Tapi kan yg pulang duluan ada 3 (dan suspect saya memang ada di tiga nama itu sih)

        Lah ini ngapa malah jadi tebak2an isi komennya…

        Like

    1. Hhhhmmm..
      Gak sempet bahas itu sih, trip bareng dia aja uda bisa dijadiin cerita di blog “cerita langka” ini.. 🀣🀣
      Tapi aku uda punya tips sendiri dalam menulis, yaitu “jadilah diri sendiri dan jangan mencoba menjadi orang lain”.. πŸ˜‰

      Like

      1. BangDen bener juga….saya sempat trip bareng wartawan /penulis PD II idola saya karena tulisannya dikaitkan dengan kecintaannya dengan NKRI. Dengan seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya memotivasi saya menulis apapun sebagai wujud cinta tanah air. Sudah saya coba, tapi tetep aja jadinya artikel sejarah yang puitis. Hihihi

        Like

  1. ah, coba aku bisa ngalamin hal yang sama. tapi sama Alexander Thian alias amrazing. ya sapa tau yaa.
    btw, ceritanya mas deny tuh selalu lucu bikin pas baca suka bikin ketawa gitu gak sengaja hahaha

    Like

    1. Yes! siapa tau bisa jadi kenyataan mbak. Aku kmrn itu juga sempat ngetrip bareng Dayu Hatmanti si travel influencer dan miss scuba international yg pertama.. 😁😁

      Hahah.. Blog ini memang dibikin khusus biar jadi “the other side of me”, atw mungkin malah “the real side of Deny Oey” kali yah. Wkwkkwkwk

      Like

      1. Iyaa doain yaa pingin banget dehh bisa travel bareng sama amrazing tp model travelnya yg begini yg gak terduga gituu hehe.

        Hebriing yaaa mas deny itu kayaknya kl dibaca dr tulisannya πŸ˜‚πŸ˜‚

        Like

      2. Hehehe.. Amrazing bukannya ada bikin trip bareng dia tuh? Kmaren itu sempet liat ig story nya sih..

        Hahhhaha.. Gak koq mbak, saya aslinya pendiam dan pemalu.. 😳😳😳

        Like

      3. Yah harap maklum, amrazing kan kelasnya ud main luar negeri dan bukan gaya backpacker 100% 😁
        Mau kw tangerang? Apanya yg sama percis, cerita tiap orang kan beda2.. Hahaha

        Like

      4. Haha nah itu diaa hehe. Ya kali aja gitu hahaha.

        Ke tangerangnya, deketnya haha minimal gak sengaja ketemu pas ke purwokerto lah yg deket haha πŸ˜‚
        Makin halu

        Like

  2. Gokil banget Bang, ceritanya, bikin ngakak deh apalagi pas bayangin muka2 julidnya Bang Den & Kak Derus. Haha.
    Seru ya bisa ngetrip bareng blogger yang kita juga suka tulisannya!

    Like

    1. Pengalaman berharga dinyinyirin ama emak2 dan derus ngejulidin abang angkot.. πŸ™„πŸ™„

      Seru koq! Malah gak nyangka jadi penuh drama dan kisah mengharukan. Hahahhaha..

      Like

    1. Aihhh yg diomongin dateng dan baca goresan tinta kasar akuh #jadimalu.. πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ
      Thx kakak Winny, semoga kita ada kesempatan buat jalan2 bareng lagi ya. 😊😊
      Honestly gue malah merasa blog ini sebenarnya gak ada informatif2nya. Wkwkwk..

      Like

  3. waahhh kece banget tempatnya udah kayak di eropa gitu tebing-tebing dan hamparan hijau yang luas.
    sayang banget ya ongkos angkotnya mahal banget, nanti harus bisa nawar lagi tuh hehehe. tapi kebayar lah sama pemandangan kandang godzila sueerrr baru denger. keren bgt

    Like

    1. Ala2 jurassic park gitu sih mbak. Hehehe
      Sayang, disana cmn bisa pake angkot atau ojek buat transportasi.. πŸ˜₯πŸ˜₯

      Like

    1. Yg mana maksudnya ya? Heheh
      Anyway, if you see something different with my post, you can read page “About” on this blog.. πŸ˜‰

      Like

    1. Wkwkwkk..
      Selain blognya mbak Winny, gw jg suka baca blognya mas Arief jg koq..
      Karena mereka berdua konsisten menulis dan mengupdate blognya..

      Like

  4. Ini ceritanya klo dibaca 5-10 tahun lagi, atau dibaca anak cucu, jadi kenangan yang lengkap sulit dilupakan. Hal-hal kecil yang diceritakan bakalan bikin senyum-senyum sendiri. Saya aja ikut senyum-senyum bacanya.

    Like

  5. Aku udah keberapa kali ya bacanya wkwkwk? Anggap aja ini Winny Tour and Travel Den πŸ˜‚. Kasihan sama Titi dan Leny udah datang telat masih ditagih SC sama bang derus wkwk. Pas bangder ngejulidin bapak-bapak angkotnya ehh tau-tau dompet kosong, seriously aku ngebayangin muka julidnya bang der 🀣🀣. Coba aku ada disana dan bisa ngeliat langsung, pasti udah ketawa ngakak wkwk.

    Like

    1. Duh, padahal u orang pertama yg baca lho tapi baru komen sekarang.. 🀣
      Bang Derus ud ngejulid, eh buka dompet malah kosong, dan Titi pun speechless.. 🀣🀣

      Like

  6. Duh kasian banget gue di cerita ini πŸ˜”πŸ˜”

    Anyway.. walaupun gabisa ke tebing koja.. leni sangat bersyukur bisa mengenal kakak blogger hits seperti kak winny dan kak chocky dan teman2 yang lain.. ah seru banget ngedenger cerita perjalanan mereka.. gue mah ternyata masih anak bawang banget kalo ngedenger cerita pengalaman mereka

    Like

      1. Koh Deny siapa ya Len?? Yg katanya mau makan nasi tapi malah beli pempek itu bukan?? πŸ˜‚πŸ˜‚

        Like

  7. Selalu ragu ragu kalau mau kesana karena gosip gosip pungli itu..
    Dan banyak yang bilang sudah tak seasri dulu.
    Ceritanya lebih seru dibagian perjalanan ya..sampai ada yang harus disindir ..ehm
    Dan jalan bareng blogger ngehits keren

    Like

  8. Traveling bareng seseorang yang diidolakan, ihh mau banget. Suatu hari gue pengen traveling bareng Trinity or Febrian.
    Den, gue pengen banget ke danau biru itu, tapi karena kondisinya sekarang tidak seberuntung pengunjung yang datang 1-2 tahun lalu, ya wis ga gitu pengen ke sana.

    Anyway suka cara Deny menulis, gue kaya bayangin elu lagi cerita depan gue karena tulisn ini deskriptif banget

    Like

    1. Bisa mbak Yun, siapa tahu bisa terwujud dengan cara tak terduga kaya saya gini.. 😁
      Emg sayang sih sekarang danau biru uda gak seindah dulu.. πŸ˜₯πŸ˜₯

      Duh, mkasih lho mbak. Padahal blog ini “semau gue” dan jauh dari EBI dan KBBI.. 🀣🀣

      Like

    1. Kemaren kesana pas sunset dan mataharinya jauh banget.. πŸ˜…
      Dari posisinya paling bagus emang pas sunrise. Bahkan warga sana cerita ada yg bela-belain dateng pagi-pagi atau camping disana demi ngejar sunrise..

      Like

  9. hahahaha, iya banget ini ya. humble bgt si winny, gw baru dtg, gelap, ayo gpp fto aja gelap gpp yg ptg ada fto d tebing koja. setidaknya gw smpet fto den, walopun gelap 😎

    Like

  10. Udah pernah baca tapi gak komen. Sorry yaaa bang hehee

    BTW jadi pengen kayak bang Deny. Tapi blogger kesukaanku hits banget kakak, susah keknya busy ngetrip bareng gitu πŸ™ˆ

    Like

  11. Ternyata di Tangerang ada tempat wisata danau begini, ya. Selama ini ngira Tangerang adanya wisata indoor macam mall atau city tour aja ke kampung2 yg ada klenteng dan masjidnya.

    Like

    1. Ini sih uda masuk kabupaten mbak.. Dan bener ndeso banget malah, ada sawah, parit, kebo lagi dingangonin, dll.. πŸ˜…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s