Sepenggal Romansa dari Ketinggian 2.565 Mdpl

P_20180422_075112_vHDR_On

Terhitung sejak 2 Januari 2018 gue masuk ke dalam komunitas Backpacker Jakarta (BPJ), sebuah wadah atau tempat berkumpulnya orang-orang yang hobi ngebolang dengan bajet murah meriah. Setelah kontek-kontekan dengan sang admin yang juga founder dari BPJ, yakni Edi Muhammad Yamin alias Emye a.k.a Omed atau biasa dipanggil Pak Lurah, gue dimasukkin ke WhatsApp Group Backpacker Jakarta #33.

Awalnya gue kurang paham kenapa dinamain RT 33. Ternyata saking banyaknya member membuat komunitas ini dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dengan admin atau PIC-nya masing-masing. Selain grup RT, ada juga grup Klub sesuai bakat, minat atau hobi masing-masing member. Misalnya Klub Lari, Klub Renang, Klub Talent, Klub Buku & Blogger, dan klub-klub lain. Satu grup rata-rata diisi oleh 100-an orang. Kalau di grup RT, ada dua admin yang terdiri dari pria dan wanita yang disebut Pak RT (pakte, pate, parete) dan Bu RT (bute, burete).

Sejujurnya gue merasa sedikit ‘berdosa’ dengan grup RT gue sendiri. Why? Just imagine, kopdar perdana gue gak ikut, camcer perdana juga gak ikut, acara meet up/kopsat/kopsan gue always absen meski sudah di tag and mention buat ikut. Rasa-rasanya seperti cuma nebeng nama, nyari info trip, dan kadang-kadang nimbrung di grup. Mungkin hati gue saat itu belum ada di grup RT, dan sampai sekarang juga masih belum disana hatinya karena gue lebih sering silent reader alias nyimak wae.

Hahahhaha!!!

***

Just another info, tahun 2018 gue punya resolusi buat naik gunung. Secaraaaaa…. gue bukan orang yang demen camping tapi ingin sekali-kali keluar dari zona nyaman.

Awal tahun sempat cari sharecost buat trekking sambil nyari info gunung yang cocok buat pemula. Maunya sih ke Papandayan (yang sering disebut gunung manja atau gunung anak-anak). Kebetulan ada trip BPJ kesana tapi langsung full kuota #huuufftt. Dapat info ke Ciremai, tapi kurang cocok buat nubitol macem gue.

Kabar baik datang dari grup RT 33, dan kebetulan gue lagi mantengin grup (biasanya jarang banget #wkwkwk). Setelah sukses dengan camcer (camping ceria) perdana di Ciputri Tenjolaya, Pate Sultan akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan camcer kedua pada pertengahan April di….. Gunung Prau!!! Terbatas dengan quota 30 orang dan refleks gue langsung daftar (trauma sama Papandayan yang langsung full dalam waktu singkat, bahkan lebih cepat dari flashsale Lazada atau Tokopedia).

Entah ini doa atau harapan, gue sempat posting daftar resolusi di blog lain dimana gue menuliskan naik gunung sebagai salah satu goal dan tebak, gambar apa yang gue pakai sebagai ilustrasi? Yes, Prau Mountain!

P_20180421_112944_vHDR_On

Mungkin inilah kekuatan dari afirmasi. Percayalah, jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, alam semesta akan bersatu dan membantu mewujudkannya. Apa yang kita tulis, apa yang kita ucapkan, itu akan menjadi doa dan akan dikabulkan dengan cara-cara ajaib.

***

Drama sudah terjadi sebelum keberangkatan ke Prau. Pertama, sebagai nubitol dengan peralatan pendakian yang super minim gue mencoba cari pinjeman sana sini. Kontekan sama salah satu grup geng bolang, ada si Jojo yang mau pinjemin tas carrier dan sleeping bag.

Gue udah tag dari jauh-jauh hari dan ternyata grup geng bolang itu mau bikin camcer juga di tanggal yang sama pas gue berangkat ke Prau dan Jojo juga ikut (WTF!). Sepertinya dia lupa sama janji minjemin keril sama SB dan gua juga udah nggak napsu buat nanyainnya. And you know what, menjelang keberangkatan si Jojo malah batal ikut camcer. Ngehek kan.

Beruntung masih ada orang baik. Setelah ngobrol ngalor ngidul sama Pingkan dan curhat soal prahara pinjam-meminjam peralatan mendaki (Gue, Jojo dan Pingkan satu grup di geng bolang) akhirnya dia mau meminjamkan tas carriernya yang berukuran 65L. Perlengkapan lainnya ada yang beli dan ada yang sewa. Paling penting adalah sleeping bag dan juga matras yang akhirnya gue sewa di toko perlengkapan outdoor.

Ada kejadian lucu. Jadi ada teman satu grup yang akan berangkat ke Prau yang mencari sleeping bag dan matras sewaan, namanya Shinta. Berhubung gue juga mau sewa dua alat itu gue pun berbaik hati menawarkan jastip (jasa titip – tentunya tanpa mengambil untung) kalau dia mau sewa #EhemEhem.

Namun, menjelang hari H tiba-tiba ada teman satu grup lainnya bernama Yanti yang menawarkan sleeping bag gratis karena masih sisa satu. Sontak gue langsung japri Yanti buat booking sleeping bagnya.

P_20180422_054152_vHDR_On

Sebenarnya sih, matras menurut gue gak perlu-perlu banget karena kita rame-rame dan pasti cukup sama matras bawaan yang lain which is perlengkapan dan peralatan gue sudah ‘cukup’. Taappiiii… karena gue uda terlanjur janji sama Shinta, jadilah gue tetap pergi ke rental outdoor buat sewa matras dan sleeping bag buat dia (kurang baik apa coba), dan akhirnya gue sewa matras juga disana. Huuffftttt…

Drama berikutnya terjadi menjelang keberangkatan. Karena membawa banyak logistik, keril berukuran 65 liter jadi full!! Dan asli deh, ternyata kerilnya berat banget!! Mungkin karena ini pertama kalinya gue bawa tas segede gaban, jadi lumayan shock juga badan ini menanggung beban dan juga kenangan #eh. Dari rumah gue naik Gojek menuju Halte Jembatan Dua buat naik busway menuju Halte Cawang dimana Sekretariat BPJ di Cawang UKI menjadi lokasi meeting point (mepo).

Hari itu hari Jumat dan macet dimana-mana. Gue berangkat sekitar jam 7 malam dengan estimasi satu jam sampai disana.

Namun kenyataan tak sesuai harapan. Rencananya kami memang berkumpul jam 8 malam, ngaret-ngaret jam 9 lah buat langsung cusss ke Dieng naik Bus yang kami sewa. Namun kemacetan bikin semuanya ngaret. Buka grup WA ada yang sudah sampai, ada yang masih terjebak macet, dll. Dengan beban keril dan padatnya penumpang gue hanya bisa berdiri di pojokan sambil berdoa agar cepat-cepat sampai.

Sudah jam setengah 10 malam dan gue masih di busway!!! Sultan pun memberi ultimatum di grup,

“Jam 10 masih belum sampe, sorry gue tinggal.”

IMG-20180423-WA0336

Mampus deh!!! Jalanan bener-bener macet dan gue belum tahu kapan sampai disana. Yanti dan Shinta ngejapri berkali-kali buat nanya gue udah sampai mana. Akhirnya, jam 10 kurang 10 menit gue tiba di Halte Cawang UKI. Rasanya pengen lari dari kenyataan. Tapi beratnya keril + gue bawa kantong keresek berisi sleeping bag menghalangi gue buat jalan. Di tangga halte saat keluar tiba-tiba gue dikagetkan dengan suara seorang perempuan.

“Heeiii.. mau kemana kau..????!!”

Ternyata dia adalah Riama, teman satu klub di BPJ dimana kemarin itu kami sempat retreat bareng. Riama saat ini bekerja di Gatot Subroto dan ngekos di Cawang. Dan ternyata kami satu busway namun tidak ketemu karena dia duduk di area khusus wanita.

Belum selesai rasa kaget gue bertemu Riama, HP gue bergetar dan ternyata dari tadi banyak yang missed call. Ada satu nomor yang calling gue terus dan baru sempat gue angkat saat itu (yang nelpon adalah Nenny, teman satu RT).

“Halo Den… Lu dimana??”

“Nih gue udah turun dari busway, mau jalan ke sekre,” jawab gue dengan terburu-buru.

“Eh lu jangan ke sekre,” sergah suara di ujung sana.

“Terus gue kemana???!!” (dari suaranya Nenny berusaha ngomong sesuatu tapi keburu gue potong)

“Ya udah, lu tenang dulu.. tarik napas dulu.. diem dulu.. nah dengerin nih gue ngomong..”

Akhirnya gue mencoba untuk tenang. Seriously, gue memang terburu-buru karena datang terlambat. Riama pun terlihat kebingungan dan mencoba memahami situasi.

“Lu jangan ke sekre, tapi ke terminal bis yang deket Hotel Ibis, yang arah sebaliknya yang busway ke Tanjung Priok. Nah kita lagi kumpul disitu,” begitulah penjelasan singkat Nenny.

(Aslinya lebih panjang, apalagi otak gue sedikit lola karena kecapekan dan kurang tahu jalan dan medan disana)

Dari penjelasan Nenny ternyata gue harus berjalan cukup jauh ke terminal bus. Yanti dan Shinta masih japri terus, bahkan Yanti sampai ikut nelpon juga buat pastiin gue udah sampe apa belom (ketika gue udah sampai di depan pintu bus pun dia masih nelpon #wkwkwk).

Riama berbaik hati mau nganterin gue kesana sambil bawain tas plastik berisi sleeping bag karena melihat gue jalan sudah kelelahan. Yes, pertama gue belum makan malam, kedua gue akhirnya merasakan ‘pemanasan’ sebelum naik gunung. Capek sob!

“Duh, niatnya sih gue sampai sekre mau makan dulu. Terus ngopi sambil smoking… eh boro-boro…” gerutu gue di jalan.

Kami pun jalan sambil ngobrol-ngobrol. Riama bertanya gue mau nanjak kemana, lalu mengingatkan bahwa bulan Mei kami akan ikut Ziarek alias ziarah dan rekreasi di Cirebon dan Kuningan (Next akan gue tulis reportasenya).

“Aduh iya, gue udah dijapri berkali-kali tuh ama CP-nya buat beli tiket kereta,”

“Udah nanti aja setelah kau pulang dari Prau,” ujar Riama.

Gue pun sampai di terminal bus (dengan iklan dering telepon dari Yanti tentunya) dimana semua orang sudah berkumpul. Gue pun akhirnya bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang selama ini hanya gue kenal di grup. Tak lama kemudian bis pun berangkat dan perjalanan menuju Prau dimulai.

“Ngomong-ngomong dari tadi nungguin siapa aja ya?” tanya gue ke Roby a.k.a Bang Kumis.

“Gak, cuman lu doank. Orang lu yang paling terakhir sampe koq,” jawabnya enteng.

(Dalam hati dan sambil ketawa kecut)

“Hahahhahah…Fuck!!!”

***

P_20180421_105301_vHDR_On

Sebelumnya gue udah pernah ke Dieng dan ngerasain lamanya perjalanan selama 12 jam.

Kalau kalian pernah pergi kesana, pasti tahu bahwa kendaraan besar dilarang melintas di Dieng. Pengunjung harus berganti kendaraan sejenis Elf atau disebut Engkel.

Tiba disana menjelang siang, sejatinya kami tidak mau menyewa engkel namun dihadang di pintu masuk Dieng setelah melintasi Wonosobo.

Perdebatan pun terjadi dan kami akhirnya dipaksa sewa engkel dan memindahkan barang-barang bawaan kami. Lucunya, di engkel yang kebetulan gue naikin ternyata kernet/kenek malah ngangkut warga yang lagi nunggu angkutan disana.

Lhaa… ini kan engkel udah kita sewa, masa dipake juga buat ngangkut orang buat ikut naik. Tambah untung donk si abangnya.

“Ayo bu naik aja,” kata si abang kenek ke ibu-ibu yang lagi berdiri di pinggir jalan.

“Kasihan, soalnya udah gak ada mobil lagi ke atas,” kata si abang kenek kepada kami yang kebingungan.

Dalam hati, kasihan ndasmu. Itu mah akal-akalan elu aja buat nyari tambahan, yakalee nggak ada mobil lagi yang naik dan melintas ke atas #Zzzzz.

Jumlah kami sebenarnya sudah ngepas di tempat duduk, lalu datang ibu-ibu sambil gendong anak. Melihat pemandangan kaya gitu, apa lu tega duduk anteng dan lihat si ibu berdiri terus. Jadilah di antara kami ada yang berdiri dan ngasih tempat buat para “penumpang gelap” dengan perasaan dongkol sambil menggerutu dalam hati ke si sopir dan kenek laknat itu.

Akhirnya kami semua sampai di basecamp Patak Banteng. Beberapa ada yang mandi, sholat atau makan siang lebih dulu, kemudian ada yang repacking karena setelah ini kami akan langsung nanjak.

Kami berangkat sekitar pukul 2 siang dengan estimasi sampai di atas kurang lebih tiga jam. Sebelum berangkat, tak lupa kami briefing sejenak dan berdoa agar diberi kelancaran dan keselamatan selama mendaki dan pulang tanpa kekurangan satu apapun.

Pendakian pun dimulai. Di awal saja kami sudah disambut dengan anak tangga berundak-undak. Terlihat beberapa orang sudah keletihan karena harus langsung “nanjak” dengan membawa beban tas keril yang berat. Tangga-tangga ini memang masih berada di pemukiman warga sebelum kami tiba di jalur sesungguhnya. Beberapa teman menyarankan untuk membungkuk kalau ingin beristirahat jika sedang membawa carrier.

Oh ya, buat yang belum tahu, jalur pendakian yang kami pilih adalah jalur Patak Banteng. Lebih cepat memang, tapi kurang cocok untuk pemula. Apalagi di grup kami ternyata banyak yang pemula bahkan baru pertama kali naik gunung.

Jalurnya lumayan terjal dan curam. Tak ada pemandangan bukit-bukit hijau dengan bunga-bunga di sekelilingnya. Disini, yang lu lihat cuma tanah merah, pepohonan, batu-batuan, akar pohon dan tebing-tebing curam. Sepanjang jalan nanjak terus. Jangan harap ada bonus tanah landai.

Sejatinya gue nggak masalah jika harus trekking dengan medan menanjak. Namun trekking cuma bawa badan dan trekking sambil bawa keril 65L isi full rasanya benar-benar beda!

Jadilah jalan sebentar, ambil nafas buat istirahatnya lama. Beberapa kali gue berhenti untuk sekedar ngaso. Setelah puluhan tanjakan, efek sampingnya mulai muncul. Beberapa teman sudah memberitahu kalau kaki gue sudah gemeteran.

Ya, sebenarnya gue juga sudah mulai berasa betis kiri gue mulai ketarik dan akan keram. Karena itu jika ketemu pos atau bedeng gue langsung beristirahat sambil ngemut Madu Rasa dengan rasa yang pernah ada, eh maksudnya rasa jeruk nipis. Namun perjalanan harus dilanjutkan.

Saat trekking gue berpapasan sama Shinta yang sama payahnya juga kayak gue. Bahkan saat ketemu warung, kami berdua sempat mampir buat istirahat sejenak dimana Shinta gue ‘traktir’ sepotong semangka. Lumayan buat penambah tenaga dan Shinta udah jadi penambah semangat buat nanjak #eh.

Petaka itu pun terjadi, di sepertiga jalan saat hendak naik dan nyari pijakan yang pas, tiba-tiba kaki kiri gue keram! Secara refleks gue langsung berhenti sambil lempengin otot kaki gue yang tegang. Shinta terlihat kaget dan nyuruh duduk.

Beruntung kami bertemu Apri dan Belia, teman satu grup kami, yang bertugas menjadi back up. Apri pun langsung memberi pertolongan pertama buat pendaki yang keram.

Saat itulah, tiba-tiba Shinta mengeluarkan statement yang nyeleneh.

“Iya, kelihatan banget tuh si Deny ngaceng,” katanya.

“Hah? Ngaceng?” Belia heran sambil ketawa dengar istilah ngaceng.

“Iya itu ototnya naik, kaya ngaceng gituh,” Shinta mencoba memperjelas, meski yang ada malah membuat fantasi yang tidak-tidak bagi pendengar lainnya.

Sejujurnya gue juga mau ketawa pas dia ngomong soal ‘ngaceng‘. Rasanya pengen bilang “ketarik woi, bukan ngaceng!!” Tapi dengan kondisi meringis kesakitan karena dilurusin kakinya sama Apri, ketawa gue langsung lenyap. Oh Shinta, sepertinya kamu rindu sama sesuatu yang ngaceng #ehem.

Setelah kaki gue agak mendingan, perjalanan pun dilanjutkan. Apri bertanya perihal beban keril gue yang penuh dan berat karena berisi logistik. Kami kembali mendaki dan saat bertemu pos bedeng, kaki gue yang keram hampir kumat. Apri kembali bertanya soal keril dan ketika mencoba mengangkat tas gue diapun langsung berujar,

“Buset, ini sih berat banget.”

Well, seseorang yang sudah expert naik gunung saja tahu bahwa beban carrier yang gue bawa memang sangat berat. Setelah mencoba membagi beban logistik dan dirasa masih berat sementara jalur masih panjang, akhirnya ia memberikan penawaran menarik.

“Ya udah, carrier lu gue yang bawa aja”

“Hah! Seriusan? Lu yakin bisa bawa dua keril??” tanya gue basa-basi padahal dalam hati bersukacita.

“Iya gak apa-apa, gue bisa koq,” jawabnya.

Jadilah keril gue dipindahtangankan selama nanjak dan gue cuma bawa badan sama nentengin GoPro si Apri. Jalur makin terjal dengan tanah bebatuan sementara hari semakin gelap.

Nanjak tanpa bawa keril memang lebih plong, tapi di satu sisi gue juga punya beban lain, yakni harus membackup Shinta selama nanjak. Jadilah, di beberapa rute yang agak terjal gue harus bantu Shinta buat ngaceng, eh naik maksudnya, maaf typo. Wkwkwkkw.

Selama nanjak gue bantu Shinta naik sambil menggenggam tangannya #ihiyyyy. Tapi terkadang ada beberapa jalur dimana dia menolak dipegangin karena bisa sendirian (Good! You are strong woman, tapi gue jadi gagal modus #wkwk).

Beberapa kali kami beristirahat. Dari jauh terlihat Belia dan Apri yang kelelahan membawa dua keril. Haduhh, thanx banget lah brother buat pengorbanan ente. Two thumbs up!!!

Kami pun bertemu teman-teman lainnya, dan ternyata ada yang berhenti karena pahanya keram. Well, gue pun sebenarnya mulai merasakan gejala-gejala keram lagi, tapi kali ini di paha kanan. Kadang gue duduk sebentar dan mempersilakan Shinta naik duluan.

Ada kejadian dimana ketika gue lagi naik, terlihat Shinta sedang duduk dan seperti menahan sakit. Ternyata kakinya keram, namun keramnya bukan di paha atau betis tapi di jari kaki. Kebetulan (again) Apri dan Belia muncul dan kali ini Belia yang bantu Shinta untuk melemaskan otot-ototnya yang ngaceng naik.

Setelah perjuangan dan genggaman tangan berkali-kali #uhuk, akhirnya kami sampai di tempat dimana kami akan berkemah dan mendirikan tenda. Beberapa orang ada yang memasak air panas buat menyeduh kopi, teh atau susu. Apalagi ada satu teman kami, Citra, yang menggigil kedinginan. Dia pun langsung berselimut dan diberikan makanan dan minuman agar tidak terserang hypotermia.

Hari sudah malam dan hujan gerimis mulai turun, kami langsung mendirikan tenda dan membentangkan flysheet sebagai tudung untuk dapur dadakan kami. Bahu membahu kami memasak menu makan malam.

Yang masak sih mereka, gue cuma liatin aja sekalian tester #wkwkwk. Btw, makan malam terasa sangat nikmat, meski menunya hanya nasi, spicy wings, tahu, tempe dan sambal (mungkin karena faktor laper juga).

Selesai makan, kami bersiap-siap untuk tidur karena esok paginya ingin mengejar sunrise. Kebetulan tenda gue hanya berkapasitas 4 orang (Gue, Andy Pipu, Andy Rahman, Ridy). Anyway, perlengkapan yang gue sewa hanyalah matras karena sleeping bag sudah dipinjemin sama Yanti. Namun matrasnya malah gak kepake karena matras milik ketiga teman bobok gue sudah lebih dari cukup #FUUUCCKKK.

Kami mulai mengatur posisi karena selain berbagi tempat tidur juga harus membagi ruang untuk keril kami yang gede-gede. Ketika kami hampir terlelap, tiba-tiba tenda dibuka oleh Roby a.k.a Bang Kumis.

“Eh, lampu lu orang nyala nggak?” tanyanya sambil ngintip tenda kami.

“Kenapa? Nyala koq,” jawab Ridy.

“Coba nyalain,” (WTF! Orang udah mau tidur disuruh nyalain lampu)

“Nih,” jawab Andy Rahman sambil menyalakan lampu dan keadaan menjadi terang.

“Ooohhh.. lu orang cuma berempat ya? Gue tidur disini ya. Hehehe,” jawab si kampret yang nanya lampu cuman buat basa-basi.

Jadi, setelah memasang tenda ternyata ada 3 teman kami yang gak kebagian tempat buat bobok ganteng. Mereka pun mencari tumpangan dan si Bang Kumis akhirnya menyusup di tenda kami. Tidur berempat aja udah susah bergerak, ditambah satu orang lagi jadilah kami mati gaya.

Seumur hidup baru kali itu gue ngerasain yang namanya “berantem sambil tidur“. Tiap kali mau meringkuk ke samping aja susah banget. Kaki melintang dikit aja serasa mau adu tendangan kungfu.

Tidur gue pun 60% nyenyak dan sesekali bangun karena badan yang sesak bergerak. Entahlah yang lain tidur nyenyak atau tidak, yang penting mata bisa merem dikit sebelum bangun dan hunting sunrise.

***

DCIM101GOPROG0241186.
From 2.565 Mdpl

Tiittt.. totttt.. tetttt… tooottt.. (bunyi alarm)

Entah siapa yang pasang alarm, yang jelas kami terbangun tepat pukul lima pagi. Beberapa dari kami terbangun. Ridy menyarankan jika memang ingin melihat sunrise langsung bergerak saja. Di luar, udara sangat dingin. Gue pun langsung berganti outfit dengan celana panjang (sepanjang nanjak sampai tidur gue cuma pake satu celana pendek), mengenakan sepatu dan sarung tangan.

Kalau melihat gambar di google atau instagram, sunrise di Gunung Prau sangat indah. Kita juga bisa melihat siluet gunung-gunung lain seperti Sumbing, Sindoro dan juga Merbabu dan Merapi dari kejauhan.

Ternyata, puncak untuk melihat pemandangan itu sangat dekat dari tempat kami memasang tenda. Hanya perlu naik sedikit melewati semak-semak gue sudah melihat pemandangan gunung-gunung yang gagah itu, bahkan cukup sekali tengok.

Mungkin karena faktor kami baru sampai saat hari sudah gelap, jadinya tak menyadari posisi kami yang sebenarnya tak jauh dari puncak. Sejatinya kami ingin berkemah di atas, namun batal karena sudah terlalu ramai.

Sekedar info, Gunung Prau memang selalu ramai, apalagi saat long weekend. Dijamin kalian akan melihat lautan tenda warna-warni dan juga kemacetan dari para pendaki yang naik dan juga turun. Why? Bcoz Prau is so beautiful.

Ok, serious mode on. Kalau di socmed atau postingan instagram wara wiri gambar pemandangan di puncak gunung dengan caption yang sangat legendaris, “Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan“. Pada saat itu akhirnya gue merasakan apa yang dirasakan oleh para pendaki cantik itu rasakan. Ya, ini seperti sebuah romansa antara Tuhan dan makhluk ciptaanNya dimana kita terlihat sangat kecil di dunia ini.

Apa yang kita banggakan? Apa yang kita sombongkan? Di puncak gunung kita melihat karya Sang Pencipta yang luar biasa indah, dan kita diizinkan untuk menyaksikan dan melihat keindahan tersebut. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan #quotesalapendakicantik.

Setelah sampai puncak, what we do? Seperti pendaki kekinian, tentu kami tak akan melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen dengan background yang sangat instagramable ini. Ada yang foto kirim pesan pakai tulisan buat orang terdekat, foto ala-ala pakai kain tenun, foto bawa bendera, foto buka baju, bikin video dan vlog, foto rame-rame sampai foto endorse. Bahkan gue dan Shinta sempat foto-foto ala propose dengan sebungkus coklat, bukan kotak berisi cincin #eh.

Beberapa teman kami berpencar, kami mengambil spot paling terdepan agar foto-foto ketjeh kami tidak bocor. Sebagian ada yang hanya diam di satu spot foto, ada juga yang mengeksplor sampai ke bukit teletubbies. Mereka yang sudah bosan ke Prau akhirnya hanya berdiam dan melanjutkan tidur di tenda.

Setelah fajar menyingsing dan semakin membakar kulit, kami bersiap-siap untuk masak sarapan dan juga beres-beres tenda. Kami berbagi tugas, ada yang masak, ada yg tester, dan ada yang membereskan perlengkapan.

Menu sarapan kami pagi itu adalah indomie goreng ala ngeliwet. Dengan bakso dan sosis goreng, pokoknya sarapan saat itu sangat enak (faktor laper). Ternyata, dengan banyaknya orang di grup kami membuat mie goreng ini masih tersisa banyak. Jadilah setelah semuanya sudah tak sanggup menghabiskan, mulailah ilmu marketing ala volunteer kami muncul.

“Mas.. mas.. mbak.. udah pada makan belum? Ayo makan dulu disini!” begitulah teriakan dan ajakan kami pada para pendaki yang melintas.

Sebagian pendaki menolak secara halus, ada yang bilang sudah sarapan, sudah kenyang, sudah puas sampai lemas #eh, dll. Tapi teman-teman lain sangat bersemangat mencari calon ‘pembeli’ hingga akhirnya ada segerombolan pendaki laki-laki berjumlah 5-6 orang yang akhirnya berbaik hati nyicipin indomie goreng liwet kami.

Kebetulan di grup kami ada satu cewek yang kerjanya ngegalau mulu (karena ditinggal cowoknya pas mau nikah), namanya Vinnie. Sepanjang pendakian dia selalu bahas tentang cowok, jodoh, pasangan, dll. Bahkan dia sempat bernazar, camcer berikutnya harus bawa pasangan #wkwk. Entah iseng atau serius, kami bertanya ke gerombolan pendaki yang sedang makan itu apakah ada di antara mereka yang masih jomblo, niatnya buat jodohin ke Vinnie.

Lalu teman-temannya menunjuk satu orang. Vinnie yang malu-malu (meski sebenarnya ia juga mau) akhirnya diseret buat kenalan, bahkan cowok itu sampai buka baju dan ngasih ke Vinnie buat kenang-kenangan #SoSweet. Setelah itu, dia berganti dengan pakaian batik. Hhhmmm, positif saja, mungkin setelah nanjak gunung dia mau nanjak pelaminan, sebagai tamu pastinya #wkwk. Tak lama, gerombolan pendaki baik hati yang mau menghabiskan sarapan kami pun pamit.

P_20180422_092445_vHDR_On

Btw, dari sore sebelum kami memasang tenda, perut gue sudah memberi sinyal untuk melakukan pengeluaran. Tapi bisa gue tahan bahkan setelah makan malam. Pas bangun pagi, sebenarnya gue harus melakukan rutinitas pagi nan wajib itu tapi masih mampu gue tahan tanpa harus nyari-nyari batu buat dipegang. Rasanya gue belum siap kalau boker harus menggali tanah dan jongkok dengan perasaan was-was karena di tempat terbuka.

Demi mengalihkan pikiran dari isi perut yang mau keluar, gue mencoba merokok dengan harapan agar pupup gue bisa dipending atau delay sejenak #uuweeekks. Lagi asyik smoking, tiba gue disamperin sama Amel, salah satu cewek (dan pendaki pemula) di grup kami.

“Eh Akiu, coba lihat itu tangannya megang apa sih?” tanyanya dengan nada genit.
(Dalam bahasa tionghoa, Akiu artinya paman/om)

Dengan tampang pilon sambil nahan boker, gue sedikit bingung sama pertanyaannya. Sedetik kemudian, Amel langsung ambil rokok yang masih menyala di tangan gue dan tebak apa yang cewek ini lakukan. Dia berjalan sedikit menjauh, dengan sepatunya ia berusaha menggali tanah, dan…pluunggg…rokok gue dibuang dan ditimbun disitu. WTF!!!

Amel lalu balik lagi sambil senyum-senyum, dan jujur gue masih melongo karena cewek ini main ambil rokok gue begitu aja dan langsung dibuang.

“Masih ada sebungkus lagi koq,” jawab gue enteng.

“Coba mana sini lihat,” pintanya yang jelas-jelas gue tolaklah sambil berjalan menjauhi Amel yang seperti terganggu dengan keberadaan gue.

Teman-teman lain masih ada yang sibuk membereskan logistik. Ada juga yang mengumpulkan sampah. Karena merasa gabut, akhirnya gue pun nyebats lagi. Kali ini di jarak yang agak jauh dari yang lain. Tak lama, dari jarak kurang lebih 10 meter, cewek itu berjalan cepat dan nyamperin gue lagi.

“Akiuuu…!!!” serunya.

“Jiah, si kampret. Dia mau buang rokok gue lagi nih,” kata gue ngasal dan kebetulan didengar oleh salah satu kawan dan dia berujar,

“Lho… bagus donk bro, dia peduli sama kesehatan lu,” kata orang di sebelah gue itu (dalam hati gue, peduli ndasmu).

Sejurus kemudian Amel tiba-tiba sudah di depan congor gue dan berusaha merebut rokok yang gue pegang. Kurang lebih adegannya sama seperti rebut-rebutan manja di sinetron remaja. Amel berusaha mengambil rokok itu tapi gak berhasil, akhirnya dia mengungkapkan alasannya.

“Siniin rokoknya ihh. Gue tuh jalan jauh-jauh dari Jakarta kesini buat menghirup udara segar. Dan lu merusaknya dengan asap rokok lu,” katanya.

“Tuh.. tuh.. lihat tuh.. yang ngerokok kan bukan cuman gue doank. Lagipula rokok gue sudah mau habis,” ujar gue seraya menangkis tangannya sambil nunjuk wajah-wajah yang kebetulan juga lagi ngerokok. Anehnya, koq Amel cuma ‘berani’ sama gue doank ya. Hhhmmm..

Ok, demi mempersingkat durasi membaca, akhirnya setelah semua sudah terpacking rapi kami pun memutuskan untuk turun. Anyway, hujan semalam membuat jalur makin becek. Kami kembali turun lewat jalur Patak Banteng yang terkenal akan kecuramannya.

Jangan tanya apakah gue bisa turun, jalanan benar-benar licin. Ketika berada di trek yang sangat curam beberapa pendaki berhenti sejenak sembari mencari pijakan yang pas. Terlihat, pendaki wanita di back up oleh teman-teman lelakinya agar bisa turun. Kebetulan gue adalah salah satu yang paling depan dari tim gue.

Setelah beberapa kali turun dengan susah payah dan beban tas keril (yang kali ini gue bawa sendiri), akhirnya gua kolaps juga.

Ssrrrooottt.. gaabbruuukkk..

Gue kepleset dengan kedua kaki ngangkang, kurang lebih seperti gunting yang terbuka lebar. Satu cowok dan satu cewek di depan gue ikutan jatuh karena kaki gue yang nyusruk menyengkat mereka.

“Dennyyyy…!!!! lu nggak kenapa-napa kan???? Ndy.. Andy.. Donny.. tolongin si Deny jatoh…!!!” teriak Nenny histeris. Kebetulan dia tepat berada di belakang gue.

Oh iya, walaupun jatuh kepeleset tapi overall gue nggak kenapa-napa. Hanya duduk terdiam sedikit shock karena jatuh, ditambah kaki gue ditiban sama orang di depan gue.

“Mas, mas nggak kenapa-napa kan?” tanya si mbak yang ikutan jatuh gara-gara gue. Sementara si mas satunya udah bangun sambil ngecek barang-barangnya.

“Nggak apa-apa mbak. Tapi si mbaknya bangun dulu, kalo nggak saya juga nggak bisa bangun nih,” kata gue dengan tatapan mata nunjuk ke kaki gue yang dengan nyamannya dia dudukin.

“Aduh iya maaf mas,” katanya sambil bangun dan senyum-senyum.

“Lu nggak apa-apa kan Den?” tanya Nenny.

“Nggak apa-apa. Udah lanjut lagi,” jawab gue enteng.

Boleh dibilang, gue termasuk pendaki rese. Saat itu gue juga baru tahu pentingnya alat yang namanya tracking pole atau tongkat jalan buat pendaki gunung. Alhasil tiap kali harus turun di jalur curam dan gak ada pegangan, gue pegangan sama kerilnya teman-teman di depan gue yang justru membuat mereka risih.

“Duh.. Den lu jangan megang-megang gitu keq. Ngeri tahu..!”

“Ah, nih anak dari tadi turun nyenggol carrier gue mulu. Lu jalan duluan lah, jangan di belakang gue..”

“Aduh.. duh.. si Deny. Apa-apaan sih, lu kaya ngejorokin gue..”

Itulah beberapa komentar orang-orang yang tasnya sempet jadi pegangan gue #Wkwkwk. Seriously, i really need back up but no one can help me #SoSad. 😢😭

Jangan lupa selain harus menahan beban keril yang berat gue juga harus menahan hasrat isi perut yang minta keluar dari bawah ini. Namun akhirnya gue sadar bahwa mendaki gunung mengajarkan gue untuk mandiri dan melakukan semuanya sendiri, sesulit apapun itu.

Dengan tertatih-tatih gue mencoba turun. Di tengah jalan, gue beberapa kali berpapasan dengan teman-teman di grup kami, terutama cewek-cewek yang turunnya di back up oleh para ksatria. One back up for ane person. Selain bawain tas, mereka juga bantu si cewek turun.

Saat hendak turun itulah tiba-tiba mata gue tertuju sama satu cewek. Dia nggak bisa turun, bahkan meminta bantuan orang yang lewat di depannya.

“Mas.. mas.. tolongin donk..” kata cewek ini ke mas mas yang lewat dan bantu dia turun.

Who is she? Yes, she is the girl who disturb me when i’m smoking. Amel! Dalam hati gue bertanya-tanya, mana teman-temannya yang lain. Sepertinya dia tertinggal dan tak punya back up karena yang lain pun turun harus dengan bantuan teman-temannya.

Tiba-tiba jiwa ksatria gue muncul. Ketimbang dia dipegang-pegang dan di back up sama orang nggak dikenal, mending gue aja yang bantu dia turun.

“Aduh neng, nggak bisa turun yah. Sini-sini dibantuin,” kata gue sambil meledek.

“Iyah koh, bantuin donk,” jawabnya, dengan muka sedikit memerah dan merona.

Jadilah di 3/4 jalan itu gue turun sambil back up Amel. Gue mencoba mencari jalur yang tidak terjal dan mudah dipijak dan megangin tangannya saat turun. Entah kenapa tangan Amel sangat lembut dan nyaman untuk digenggam #mulaihalu.

Sepertinya kami sudah bercampur dengan pendaki lain dan tidak ada satupun teman satu grup yang berada di dekat kami. Dari kejauhan terlihat ada beberapa teman kami di depan. Setelah beberapa kali pijakan Amel meminta untuk istirahat.

“Istirahat bentar donk. Capek nih,” pintanya.

“Iya ntar yah. Cari tempat yang pewe buat duduk,” jawab si ksatria dadakan.

“Duh, disitu enak cuman pada ngerokok.” Amel menunjuk bebatuan yang diduduki oleh segerombolan mas-mas yang asik ngebul.

“Lu mau gue yang ngerokok sambil turun, atau duduk bareng mereka?” kata gue sedikit ketus.

“Iya..iya..turun bareng kamu aja deh.”

Anyway, dengan kondisi sedang turun gunung dan mesti mengatur nafas tentu gue juga nggak ada nafsu buat smoking. Itu hanya akal-akalan gue aja biar Amel nggak minta istirahat terus.

Akhirnya setelah beberapa kali melangkah (dan beberapa kali genggaman tangan #iihhiyyy), kami memutuskan untuk beristirahat dan duduk sejenak. Alasannya, ya karena kaki gue udah mulai pegel. Jangan lupa kondisi gue saat itu adalah menahan be’ol, menahan beban keril ditambah harus menahan beban Amel.

Sembari duduk, gue dan Amel memulai percakapan remeh temeh. Awalnya Amel nggak mau ikut camcer ke Prau, tapi karena ada satu teman kami yang batal ikut dan Vinnie paksa dia ikut buat gantiin yang batal itu. Perlengkapan dan peralatan Amel juga sangat minim. Bahkan dia hanya bawa daypack mini yang isinya sangat-sangat ringan, seperti tas sekolah anak TK.

“Busettt.. ini sih enteng banget. Kaya tas sekolah anak TK ini mah,” kata gue sambil melempar-lempar tas itu ke udara dan meledek sang empunya tas.

“Iiihhh.. orang kesini juga nggak ada persiapan. Tas gunung gak punya, sepatu gunung juga nggak ada,” kata Amel sambil mukul-mukul gue dengan manja.

Tak lupa, gue juga sempet bercanda mau merokok dan dia langsung melarang. Saat duduk kami juga bertemu dengan teman-teman lain yang melewati kami, ada juga yang ikut duduk dan beristirahat sejenak.

“Jadi lu diajak sama Vinnie, terus Vinnie-nya mana?” tanya gue.

“Uuummm.. tadi sih turun bareng. Tapi nggak tahu sekarang dimana,” jawabnya.

Seperti yang sudah gue duga. Di gunung ada dua sifat manusia yang akan terlihat jelas. Pertama, rasa solidaritas dan kekompakkan. Yang kedua adalah sifat egoistis dan individualis masing-masing.

Dalam kasus ini, gue melihat sepertinya para cewek (pendaki pemula) juga bersusah payah untuk turun sehingga mencari back up. Jadi, ya, mungkin mereka memikirkan dirinya sendiri lebih dulu bagaimana agar bisa turun. Ditambah suasana ramai juga tidak memungkinkan mereka untuk memperhatikan kawannya yang tertinggal jauh di belakang atau berada di depan.

“Ayok jalan lagi,” kata gue.

“Aduh, bentar lagi deh. Masih pegel. 10 atau 15 menit lagi,” Amel sedikit merajuk.

“Kalau kelamaan istirahat kita sampe di bawah keburu sore lho. Mana kaki yang pegel?” jawab gue sambil mijitin kaki Amel.

“Iyah, coba ke atasan lagi.”

Dalam hati, lhaa nih anak udah dipijitin malah keenakkan dan minta nambah. Akhirnya setelah dibujuk dia mau bangun juga, itupun setelah gue cerita kalau selain mesti back up dia gue juga lagi nahan nafsu BAB dan dia sempat mencoba mengangkat keril gue dan nggak sanggup (karena baginya sangat berat, meski tidak seberat merindu #halah).

Di perjalanan, Amel ketemu dengan cowok yang dipanggilnya Mas Agus. Honestly, gue sendiri nggak kenal sama Agus dan sepertinya dia bukan bagian dari rombongan kami, tapi menurut cerita Amel si Mas Agus ini anak RT 33 (nanti gue ceritain lebih jelasnya). Tanpa basa-basi, Amel malah nitipin tas anak TK-nya dan si Mas Agus mau-mau aja, Wkwkwk. Tapi tetep aja, tiap turun gue yang always back up dia. Zzzzz.

Mas Agus dan beberapa temannya jalan lebih dulu. Itupun setelah Amel bilang “duluan aja, nggak apa-apa”. Padahal gue sempet mikir akhirnya gue bebas tugas dari ngebackup dia, tapi ternyata kontrak gue diperpanjang. Entah dia pede ada yang bantu turun, atau memang hanya ingin turun berdua saja #ehem.

Ada kejadian aneh, saat kami sudah turun beberapa langkah setelah duduk istirahat, tepat saat gue megangin tangan Amel saat dia turun gue merasakan sedikit keanehan.

“Mel, koq tangan lu dingin sih?”

Dari pertama pas bantu dia turun tangannya biasa-biasa saja. Tapi ini tiba-tiba jadi dingin. Pas pegang lengannya, ternyata juga ikutan dingin. Amel malah terlihat bingung. Ok, sebenarnya gue udah paham dan tahu mengapa tangannya menjadi dingin.

“Tuh kan, ini gara-gara tadi istirahatnya kelamaan.”

“Iya deh, aku yang salah,” katanya dengan nada (sedikit) menyesal.

FYI, saat mendaki naik ataupun turun haram hukumnya untuk beristirahat terlalu lama. Suhu tubuh yang naik saat bergerak akan turun drastis jika istirahat dalam waktu cukup lama.

Lima sampai sepuluh menit adalah waktu ideal untuk mengatur nafas (meski bagi gue 10 menit terlalu lama). Jika ditambah dengan cuaca dingin di gunung lalu kondisi perut yang tidak terisi, ini akan menyebabkan gejala hypotermia.

Cara mengatasinya antara lain tubuh harus terus bergerak, mengonsumsi makanan untuk asupan kalori tubuh dan…. diberi kehangatan oleh orang lain. Sudah pernah dengar cerita kan pendaki yang hypotermia harus dihangatkan dengan cara dipeluk langsung setelah membuka pakaian, kulit bersentuhan dengan kulit.

Karena kondisi Amel masih tergolong ringan, tentu kami tak harus membuka pakaian dan saling berpelukan (jangan ngeres dulu yah). Akhirnya kami menepi sejenak dimana gue memberikan Madu Rasa untuknya, dengan rasa yang masih tertinggal, eh maksudnya rasa jeruk nipis. Hitung-hitung buat menambah tenaga dan agar perutnya sedikit terisi.

Sambil megangin tangannya yang semakin dingin, sepertinya dia juga harus mendapatkan ‘kehangatan‘ dari gue #uhuk. So, gue bukan hanya megangin tangannya aja pas bantu dia turun, tetapi sepanjang perjalanan kedua tangan kami seperti terjahit. Kurang lebih, sama kayak lu lihat orang pacaran sambil gandengan tangan di mall, bedanya ini di gunung.

IMG-20180423-WA0095

Tangan kami hanya terlepas saat gue turun duluan dan mencari pijakan untuknya sambil bantu dia turun. Kadang muncul percakapan romantis ala ftv.

“Aduh, tangan aku kotor tadi abis megang tanah,” kata si Juliet.

“Nggak apa-apa tangan aku juga kotor koq,” jawab si Romeo sambil terus menggenggam tangan pujaan hatinya, seolah tak ingin melepaskannya.

(Abaikan yah, ini hanya perumpamaan. Jangan dianggap serius #wkwkwk)

Sepanjang jalan kami mengobrol banyak hal. Ada satu momen kocak dimana di belakang kami ada orang jatuh terpeleset, tak lama kemudian orang lain di depan kami ikut kepeleset. Sontak gue ikut ketawa melihat ada yang jatuh bareng-bareng dan sedetik kemudian gue yang ikutan jatuh #kampret. Amel sempet kaget pas gue jatuh karena gue langsung lepasin tangannya biar dia gak ikut jatuh.

“Aduh karma nih,” kata gue sambil melihat celana gue yang kotor karena jatuh beberapa kali.

Kami melanjutkan perjalanan. Kadang berpapasan dengan teman kami yang menatap kedua tangan kami dengan pandangan mengernyit. Ada juga yang melihat dari kejauhan lalu bersiul “suit..suit..” tapi baik gue maupun Amel nggak berminat untuk menggubrisnya.

Tiba-tiba gerimis turun. Kami pun turun dengan sedikit buru-buru. Untungnya, dari jauh sudah terlihat pos ke.. entahlah ke berapa, pokoknya itu adalah pos terakhir jika kita naik. Gue dan Amel memutuskan untuk beristirahat karena tak ingin kehujanan. Benar saja, hujan turun semakin lebat. Setelah duduk Amel sedikit menggerutu karena dompet dan hp, semuanya ditaruh di tas (dan tasnya dititipin ke si Mas Agus, Zzzzz).

“Mau minum nggak. Yang hanget-hanget aja,” kata gue menawarkan.

“Nggak lah, nggak usah.”

“Serius, nggak apa-apa minum aja. Atau mau ngemil?” gue kembali mengeluarkan jurus marketing.

“Nggak usah, aku nggak mau. Kalau kamu mau minum, minum aja.”

Okelah, sepertinya dia merasa tak enak hati dan gue langsung pesan teh manis buat sendiri. Tak lama kemudian muncullah Shinta (yang sebelumnya gue back up saat mendaki naik), ia datang bersama rombongan Ricky dan kawan-kawan. Amel langsung menyapa Shinta dan Ricky. Tak lama lelaki jangkung ini mengajak gue berkenalan.

“Oh.. ini Deny Oey ya,” jawab Ricky yang bikin gue bingung kenapa dia bisa tahu nama gue.

Amel pun menjelaskan bahwa Ricky juga anak RT 33 dan gue sedikit ingat bahwa di grup memang ada yang namanya Ricky, jadi ini toh orangnya yang akrab dipanggil Bang Cen itu. Sembari menunggu hujan yang kian deras, gue bertanya-tanya koq Ricky nggak ikut rombongan kita.

“Lho, emang nggak tahu ya. Kan sempet jadi drama di grup,” kata Amel.

Hhhmmm, seperti yang sudah gue jelaskan gue itu jarang baca grup. Kalau chat sudah ribuan langsung gue mark as read aja #hahaha. Karena kalau gue nggak di tag atau di mention artinya nggak ada yang penting-penting banget.

Ketika Ricky sibuk nelpon-nelponan sama ceweknya dan menjauh dari kami, barulah Amel cerita.

Begini ceritanya, di grup ada yang sounding karena Ricky bikin trip nanjak ke Prau berbarengan dengan camcer RT. Sebenarnya tak ada masalah karena dia juga nggak share terang-terangan di grup tapi ngajak lewat japrian. Akhirnya jadilah drama kenapa Ricky bikin trip tandingan di waktu dan tempat yang sama. Kenapa dia tidak join trip yang ‘resmi’ saja.

Jadi, sebagian anggota dari RT kami ada yang ikut bareng Ricky (salah satunya si Mas Agus yang dititipin tas Amel itu). Dan Ricky juga mengajak teman-temannya yang lain, ada juga yang dari RT lain di BPJ. (Cerita lengkapnya gue kurang paham, tapi kurang lebih begitulah menurut dongeng yang dituturkan oleh Amel).

Anyway, gue mendengarkan cerita sambil mengurut-ngurut tangan Amel dan meremas jari jemarinya biar nggak kedinginan. Ternyata oh ternyata, di seberang tempat duduk gue ada mas mas pendaki yang menatap kami dengan sedikit melongo. Seperti tatapan kepengen sekaligus ngiri (mungkin dia jones). Dalam hati gue,

“Haduh dasar jones, udah naik sendiri turunnya juga sendiri. Nggak dapet kecengan pula, HAHAHHAHA..”

Hujan mulai sedikit reda, kami pun mulai bersiap-siap untuk turun. Ketika gue mau membayar teh manis tiba-tiba Shinta ngomong,

“Den, udah gue bayar ya.”

Lhaaa.. dan akhirnya gue ingat sepertinya dia mau membalas traktiran semangka yang gue bayarin waktu kita nanjak sehari sebelumnya itu (kisah otot ngaceng). Shinta turun bareng rombongan Ricky dan teman-teman dan mereka bersiap-siap dengan mengenakan jas hujan. Lalu Amel kembali memulai drama.

“Mau lanjut turun nggak?” tanya gue.

“Mau, tapi masih gerimis.”

“Ada jas hujan?” tanya gue lagi.

“Ada, tapi di tas.”

“Terus tasnya mana?” gue mulai sedikit geregetan.

“Di Mas Agus, tapi nggak tahu Mas Agusnya dimana,” jawabnya enteng tapi (sedikit) menyesal dan gue pun speechless sembari menatapnya dengan tatapan you know how lah, tatapan kayak pengen marah, agak kesel tapi sekaligus pengen ketawa juga sambil geleng-geleng kepala.

“Iya deh iya, aku yang salah lagi,” Amel mulai playing victim.

Gue pun mengembalikkan gelas ke warung (dan si Ibu warung bilang kalau sudah dibayar ama si mbak itu). Saat gue balik badan, Amel mulai berdiskusi dengan Ricky. Kebetulan Ricky sedang memakai jas hujan, jadilah ia meminjamkan jaket gunungnya yang (sepertinya) anti air ke Amel.

P_20180422_124822_vHDR_On

Melihat Amel yang sudah pakai ‘jass hujan’, otomatis gue langsung mengeluarkan jas hujan gue. Fyi, gue bawa jas hujan motor yang biasa gue pake kalo kehujanan di jalan. Terdiri dari jaket dan celana panjang, tapi gue cuman pake jaketnya aja.

Ricky, Shinta dan teman-teman mereka jalan duluan. Dari gelagatnya, sepertinya Ricky sudah menangkap kode dan paham situasi kami berdua yang menurutnya seperti “tak ingin diganggu” (terbaca dari senyumnya ke gue berdua ketika pamit turun duluan).

Usai memakai jas hujan, kami melanjutkan perjalanan ini… berdua saja. Seperti biasa, kami masih bikin baper pendaki lain yang berpapasan dan melihat adegan mesra kami.

“Buset, yang pasangan pendaki aja turun dewekan meski gak jauh-jauhan, ini gandengan mulu..”

“Itu cowoknya bawa keril, tapi ceweknya nggak bawa apa-apa. Apa semua logistik tuh cowok yang bawa semua yah..”

“Hadduuhh.. jalur udah susah gini tapi koq mereka masih sempet-sempetnya ya turun sambil gandengan tangan. Mana nggak lepas-lepas lagi pegangannya..”

Yah, kurang lebih mungkin itulah yang ada di pikiran para pendaki lain yang berpapasan dengan kami. Wkwkwk..

Btw gue sempat mikir juga seh, ini si Amel koq mau aja ya gue gandeng terus. Sebenarnya ini adalah pertama kalinya kami bertemu meski beberapa kali sempat chit chat dan bercanda di grup. Amel ini adalah tipe cewek petite, tingginya semampai (semeter tak sampai) dan berat badannya juga nggak nyampe 40 kg.

Gue gandeng tangannya terus biar badannya nggak dingin lagi. Bahkan sebelum mencapai pos pendakian/warung gue juga sudah merasakan bahwa suhu tubuhnya mulai normal. Karena tangannya yang dingin itulah, gue berpikir telapak tangan adalah media paling mudah untuk ‘mentransfer’ kehangatan. Untung bukan bibirnya yang dingin. Karena kalau begitu cara yang paling mudah adalah dihangatkan lewat….. ah sudahlah.

Perjalanan turun di bawah meski tidak seterjal di atas ternyata tetap membutuhkan perjuangan. Hujan membuat tanah kian becek, gue pun sempat jatuh terpeleset (lagi). Berkali-kali (sejak awal back up) Amel selalu mewanti-wanti agar gue berhati-hati biar nggak jatuh cinta, atau ketika dia melihat gue seperti akan terpeleset. Terkadang ada pijakan yang terlalu dalam, jadilah beberapa kali gue juga harus rangkul (lebih tepatnya, sedikit memeluk) Amel agar dia bisa turun.

Pemandangan bukit dengan matahari terik menjadi teman kami saat itu. Sambil terus bergandengan tangan kami mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal (Amel rumahnya di Planet Bekasi), rutinitas sehari-hari bahkan ngegibah #ooopss.

Sejujurnya gue juga sempat ‘terbawa suasana‘. Berjalan berdua dimana tangan kami saling bertaut, asyik mengobrol diselingi tawa, ditemani pemandangan bukit-bukit indah, duh romantis amat yah, wkwkwkwkkwk.

Menjelang turun, kami bertemu dengan 4 orang teman kami, yaitu Bahri, Ateng, dua lagi gue lupa namanya. Mereka bertugas menjadi sweeper untuk mengecek siapa teman kami yang belum turun. Dan ternyata gue dan Amel adalah orang terakhir!!!

Bahri menawarkan untuk bawain keril gue, dan langsung gue kasih tanpa basa-basi. Maklum, gue sebenernya udah kecepirit pengen boker dan harus tahan-tahan sambil bawa keril gue yang berat. Kami semua akhirnya turun dan kembali ke jalan beraspal dari jalur Patak Banteng. Rasanya luar biasa lelah, ffiiuuuhhhh..

Ehem, tentu saja meski sudah berada di jalur aman gue masih “membackup” Amel. Kami masih melanjutkan romantisme dengan terus berjalan sambil bergandengan tangan dan ngobrol banyak hal #iihhiyyy.

Sebenarnya Amel sudah bisa jalan sendiri dan suhu tubuhnya juga sudah normal. Namun gue seperti melihat rasa insecure-nya karena berjalan di antara cowok-cowok dan orang tak dikenal. Sebagai satu-satunya orang dikenal dan bisa dipercayai olehnya, gue merasa memiliki kewajiban untuk memberikan rasa aman (dan juga nyaman) untuknya #uhuk.

Jadilah sepanjang perjalanan turun gue terus menjaga Amel. Bahkan gue sempet dicengin sama salah satu kawan yang berjalan di belakang kami yang melihat adegan di depannya yang bikin baper itu #wkwkwk #dasarjones.

Akhirnya kami sampai di tangga dekat perumahan warga, tak lama lagi kami sampai di basecamp rumah warga dimana teman-teman lain sudah menunggu kami. Dan pada saat itulah, tugas gue untuk ‘menjaga’ Amel pun selesai. Tentunya gue melepaskan genggaman tangan beberapa meter sebelum sampai disana. Kenapa? Tentu saja untuk menghindari gosip sob.

***

Apa saja yang gue pelajari dalam mendaki gunung. Ini adalah pengalaman pertama, dan ada banyak pelajaran yang bisa gue ambil. Pertama adalah bagaimana kita saling menolong dan membantu teman-teman, bahkan teman pendaki lainnya yang tidak kita kenal tapi berpapasan disana, sesuai kemampuan kita. Gue bersyukur bisa nanjak bareng kawan-kawan yang solidaritasnya sangat tinggi.

Kedua, di gunung akhirnya gue belajar bahwa masih ada banyak keindahan dari ciptaan Tuhan yang belum gue pijaki. Setelah Prau, ada gunung-gunung lain yang tiba-tiba masuk dalam bucket list gue tahun ini. Seperti quotes para pendaki cantik, kita sangat kecil di dunia ini, apa yang bisa kita sombongkan? Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Ketiga, mendaki gunung ternyata mengeluarkan kemampuan kita yang paling dalam secara maksimal. Dalam kasus gue, waktu turun dan sedikit kelimpungan karena tak ada yang bantuin, bukannya mendapat back up justru gue harus membackup orang lain (Amel).

Tiba-tiba saja gue seperti bisa turun sendiri dan bantu Amel buat turun. Entah kenapa, gue seperti berubah menjadi pria yang bertanggung jawab karena ada seorang wanita di sampingnya #eh. Berdua memang lebih baik daripada sendiri #PesanUntukJones.

Bahkan gue sempat mikir, koq bisa yah dalam kondisi nahan BAB dengan tas keril yang berat tapi gue bisa menjaga orang lain. Ya, naik gunung bisa memaksimalkan potensi gue (tentunya sebagai pria dewasa #ehem) dimana Tuhan seperti memberikan jawaban lain. Bukan menjadi beban, justru gue lah yang harus menanggung beban orang lain. Dan mungkin Tuhan juga memberikan “jawaban” lain dalam momen berdua kami yang romatis itu #ngarep, wkwkwkkw.

Anyway, mungkin kalian bertanya apa yang terjadi setelah turun. Hhhmmm.. kami melanjutkan perjalanan pulang, bahkan mampir sebentar untuk menikmati mie ongklok dan sate sapi khas Wonosobo. Setelah itu kami pulang dan sampai di ibu kota kemudian berpisah satu sama lain.

Lalu…???

Nothing special. Apa yang terjadi di Prau hanyalah bentuk solidaritas antara sesama pendaki. Setidaknya itulah yang ada di pikiran gue, nggak tahu kalau yang lain gimana #wkwkwkwk.

Meskipun ada momen-momen yang sejatinya sangat personal, tapi gue membagikan ceritanya di blog ini sebagai sebuah romansa yang pernah terjadi saat gue traveling. At least ada kenang-kenangan saat mendaki gunung. 🙂

Whatever happens in Prau..

Stay in Prau..

Advertisements

46 thoughts on “Sepenggal Romansa dari Ketinggian 2.565 Mdpl

  1. Nahh loh. Jadiii, kabar kamu dan Amel skrg gimana? Lanjut atau sebatas romansa gunung? Tiati baperrrr den, terus kepikiran, terus gabisa mup on wkwkwk.
    Btw dari naik gunung, kita jadi bisa tau karakter teman kita yg sebenarnya. Karena kan namanya ngedaki itu sama-sama capek ye kaann. Disana bakal keliatan tuh yang egois mikirin nyawa, perut, dan badannya sendiri sama yang masih sempat mikirin orang lain walaupun sama-sama capek.

    Next ke gunung mana?

    Liked by 1 person

    1. Gak gmn2 Kal, biasa aja koq.. 🤣
      Yup, di gunung busuk2nya orang terlihat. Sama yg mikirin diri sendiri atw masih bantu org lain meski capek..

      Nanti ditunggu aj ya cerita pendakian selanjutnya.. 😁

      Like

    1. Lahh..
      Gue kan emang bukan ceritain tentang gunungnya, tapi tentang kisah pegangan tangan #eh.. 🤣🤣🤣
      Makanya cobalah sekali-kali naik gunung, seru koq..

      Like

  2. Waktu nanjak ke Prau saya juga kram di kaki kiri dan kanan secara bergantian. BTW, pas hypotermia, diberi kehangatan oleh orang lain dengan metode skin to skin agak riskan dan tidak begitu disarankan.

    Liked by 1 person

    1. Metode skin to skin itu kalau tidak salah jika sudah tahap berat deh mas.. Kalau untuk tahap awal bisa diselimuti sleeping bag atw jaket hangat sama diberi makan dan minum (CMIIW)..

      Like

    1. Eh ada Mbak Wawah.. 🤭
      Iya mbak, ada banyak cerita selama mendaki gunung. Dan jg bagaimana kita saling mendukung karena tujuan utama mendaki gunung adalah pulang kembali ke rumah dengan selamat..
      Puncak hanyalah bonus.. 😊

      Like

  3. Baca cerita mendaki ini saya membayangkan lagi menjalani kehidupan. Temennya banyak, tapi ngga selalu bersama. Ada yang pengen cepet nyampe, ada yang menikmati. Ada yang saling bantu dan ada yang ngga peduli… Cerita perjalanan nya membuat saya berimajinasi nih Koh…

    Liked by 1 person

  4. Tulisannya panjang tapi seru banget bacanya, nggak bosen deh. Duh aku sirik kak Deny bisa naik gunung. Terakhir aku naik gunung kayanya pas kuliah (itupun juga terpaksa karena aku ambil mata kuliah primatologi). Kalau sekarang disuruh naik gunung pasti udah nggak kuat. Naik gunung menurut aku wajib banget buat setiap orang, at least sekali seumur hidup karena dari naik gunung banyak pengalaman hidup dan belajar banyak juga.

    Liked by 1 person

    1. Hahhah..
      Iya mbak, makanya saya juga punya resolusi harus naik gunung at least sebelum umur kepala 3. Puji Tuhan tercapai.. 😇
      Selain menambah pengalaman, ada banyak pelajaran hidup juga koq dari mendaki..

      Anyway thx sudah mampir di blog saya dan baca tulisan yang panjang ini.. 😁🙏🏼

      Like

  5. Tahun 2015 gue pernah ke Prau lewat jalur Petak Banteng. Estimasi nanjak 2,5 jam. You know what, saat itu gue bawa balita usia 3,5 tahun alias anak gue sendiri. Sesekali gue yang gendong, sering kali teman-teman cowo. Naik gunung itu memang perlu persiapan matang, apalagi soal fisik. Makanya maksimal sebulan sebelum berangkat udah lari-lari pagi cantik dulu. Biar nggak kaget otot-ototnya.

    Liked by 1 person

    1. Waduh, bawa diri sendiri aja susah apalagi bawa balita.. 😅
      Tapi salut sih kak ente bisa nanjak sambil bawa anak. Hitung2 olahraga sambil memberikan pengalaman hidup buat buah hati.. ☺️

      Like

  6. Waaaa naik gunung. Gue nggak pernah kepikiran buat naik gunung walau ngeliat foto2 view from the top of mountain itu asik banget! Rempes aja gitu keknya sama urusan buang hajat dan sholat, ehehehe. Jadi, paling pernah coba mountain bike aja

    Liked by 1 person

  7. Aku dulu juga ikut komunitas backpacker yang Indobackpacker. Memang ada banyak cerita seru jika kumpul-kumpul dengan mereka. Tentang waktu yang molor, ada anggota perjalanan yang menghambat dll itu biasa dan jadi bumbu perjalanan. Hemmm kangen juga maen ke gunung.

    Liked by 2 people

    1. Sok atuh mbak Dewi naik gunung lagi. Hehehhe..
      Emang seru sih kumpul2 bareng temen backpacker gtu. Dulu saya jg pernah sampe ngaret cuman gara2 nungguin 1 orang. Zzzz..

      Liked by 1 person

    1. Coba ikut komunitas, atau ajak2 aja temen yg mau nanjak bareng mbak. Tapi better sih ada satu orang yg uda pengalaman, buat sweeper dan jaga2.. 😁

      Liked by 1 person

  8. Buseeettt panjang ye tulisannya, hahaha. Tapi seru sih bacanya meski kebanyakan cerita modusnya, wkwkwk.
    Aku sih kayaknya enggak akan sanggup naik gunung. Disuruh jalannanjak tanpa bawa apa-apa aja rasanya capek banget. Hahahaha

    Liked by 2 people

    1. Wkwkwkk..
      Bukan cerita modus mbak, tp cerita solidaritas sesama pendaki.. 🤣🤣🤣
      Kondisi fisik tiap org beda2 koq, mungkin Mbak Wian tipikal pejalan cantik. Haha..

      Liked by 1 person

  9. Seru banget ini ngebacain ceritanya, yang paling bikin ketawa sih bagian “mau tidur aja pakai berantem” Padahal beberapa kali teman-teman suka ngajakin main ke gunung tapi aku belum berani mencoba. Aku kayaknya lebih pilih belok ke pantai deh, hahahahaaa

    Liked by 2 people

  10. keterbatasan kemampuan fisik menyebebkan saya tidak pernah menjajal naik gunung.. tetapi, dieng, tempat yang ingin saya kunjungi sekali lagi..
    kenangan menghirup kabut dan berdingin2 ingin syaa nikmati sekali lagi…

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s