When Extrovert Try Solo Travel

pexels-photo-296282

Oke, tanpa basa-basi gue akan bercerita sesuatu tentang diri gue pribadi.

Yes, i’m an extrovert!

Gue adalah tipikal orang yang menyukai dunia luar, bertemu dan bertatap muka dengan banyak orang, suka menjadi pusat perhatian (tanpa disadari), dll. Untuk lebih lengkapnya kalian bisa gugling bagaimana personality seorang extrovert, dan yang pernah bertemu dengan gue mungkin lebih paham dan tahu gue itu kayak gimana.

Extrovert jelas berbeda dengan introvert. Orang-orang extrovert cenderung lebih bawel, lebih heboh, pecicilan, orangnya “rame”, menarik, mudah disukai dan nggak bisa diem. Bahkan ada istilah “nggak ada loe nggak rame“, kalimat ini mungkin lebih cocok untuk mereka yang extrovert. Coba pikir lagi, siapa kira-kira teman yang rasanya sepi kalau tak ada dirinya. 90% dia pasti seorang extrovert.

Para extrovert, terutama yang berkocek tebal, tak ragu menghabiskan uangnya demi killing time. Mereka bisa nongkrong setiap hari, menghabiskan waktu kulineran bersama kawan-kawan dan koleganya, partygoes every night, dll. Ada juga yang lebih positif dengan ikut kegiatan baksos, aktif dalam perkumpulan atau komunitas, menjadi sukarelawan, dll. Hal ini selain menambah pengalaman juga semakin memperluas networking si extrovert.

pexels-photo-372098

Dalam dunia traveling, extrovert juga selalu menjadi sosok yang menonjol, menjadi pusat perhatian dan keberadaannya selalu ngangenin #uhuk. Sejujurnya gue beberapa kali ikut group trip, dimana tiba-tiba ada seseorang yang ngajak gue ngobrol dan memanggil nama gue (padahal gue nggak tahu dia siapa). Pernah juga ada ajang perkenalan dimana kami harus menyebut nama kawan-kawan lain, dan bisa dikatakan tiga dari empat orang menyebut nama gue di list pertama (sementara gue juga belum tahu nama dia).

Ada pula yang langsung SKSD, seolah-olah kami sudah akrab dan menyebut nama gue (jujur, gue sendiri agak-agak lupa dia siapa). Mungkin inilah enaknya seorang extrovert ketika menjadi pusat perhatian dalam suatu kelompok, lu nggak harus menunjukkan siapa diri lu karena orang-orang sudah tahu lu siapa.

Extrovert dan Solo travel

Pencarian jati diri sampai gue sadar sebagai seorang extrovert justru berawal dari solo traveling atau solo trip. Yups! Berpergian seorang diri “katanya” bisa membuat kita mengenal diri sendiri serta mengukur sampai mana batas kemampuan kita. Akhirnya, perjalanan seorang diri itu menyadarkan gue kalau selama ini gue adalah seorang extrovert! Dan jujur, sekarang gue bakal berpikir dua kali jika harus solo travel.

Apa gerangan yang membuat gue, katakanlah, sedikit kapok ngebolang dewekan. Pertama, akhirnya gue sadar bahwa gue sangat menyukai interaksi dengan banyak orang. Group trip yang terdiri dari banyak orang dengan kepribadian berbeda-beda justru sangat menarik dan “menantang” bagi si extrovert.

Kedua, ketika gue solo trip gue selalu berupaya membuat interaksi dengan orang-orang yang berkontak langsung. Contoh, bagaimana gue mengobrol dan becanda sama mbak-mbak penjual nasi kucing, pernah juga gue kongkow bareng ibu penjual nasi rawon bahkan ngobrol sama pelayan resto. Lalu ketika gue order ojek online, akhirnya gue ngobrol banyak hal sama babang ojek selama di jalan. The point is, i need some interaction.

Namun, interaksi bersama warga lokal sangat berbeda jika dibandingkan dengan berinteraksi dengan kawan-kawan perjalanan yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Alasannya tentu karena karena waktu interaksi yang minim dan tak bisa sesering atau selama mungkin. Terkadang solo trip malah bikin gue bete dan jenuh.

Jadilah selama solo trip, tak ada perjalanan yang memorable. 90% waktu gue dihabiskan untuk bengong, kalau pemandangan bagus sih enak buat melamun, tapi kalau lagi sendirian.. berasa garingnya sob! Nggak ada yang bisa diajakin ngobrol, bercanda-gurau, ketawa-ketiwi dan menikmati quality time saat liburan. Makan sendirian, minum kopi sendiri, duduk juga dewekan, duh rasanya sepi banget #Zzzzzzz.

Ada yang bilang solo trip bagus untuk menikmati waktu untuk diri sendiri alias me time. Sayangnya itu nggak berlaku buat gue. Bagi gue, at least butuh minimal dua orang buat nemenin jalan (gue pernah coba pergi berdua, dan rasanya masih agak-agak garing, padahal sama sohib deket). Tapi jika jalan bareng group trip juga jangan terlalu banyak, maksimal 10 orang juga sudah cukup meski kalau banyak-banyak orang bagi gue juga no problem.

Seorang teman yang pernah solo trip bilang, ternyata kita memang butuh teman perjalanan, minimal satu orang. Buat apa? buat fotoin kita sama jagain tas kalau mau ke toilet. Hahahahhaa, kampret dasar!

Solo trip, apakah hanya untuk si Introvert?

Jika kita membahas solo travel, solo trip atau berpergian seorang diri, mungkin akan lebih tepat jika membahas si introvert. Mereka yang memiliki personality seorang introvert pastinya lebih cocok untuk solo travel (dan terbukti dari teman-teman gue yang introvert).

Berbeda dengan extrovert, bagi introvert bertemu dengan banyak orang akan “menghabiskan” energinya, mereka akan merasa lelah harus berhadapan dengan banyak orang (serta harus selalu memasang senyum palsu). Sangat berbeda dengan extrovert yang mengatakan bahwa bertemu dengan banyak orang justru menjadi “energy booster” baginya.

Introvert mungkin tidak suka mendominasi pembicaraan atau situasi, tetapi diam-diam selalu memperhatikan. Mereka juga lebih suka obrolan dengan topik mendalam, berbeda dengan extrovert yang cenderung menyukai percakapan remeh temeh. Introvert juga hanya memiliki sedikit teman dekat, namun mereka bukan anti-sosial. Bandingkan dengan extrovert yang punya bakat sebagai sosialita!

pexels-photo-194927

Dalam hal traveling, mereka juga lebih menyukai pergi seorang diri. Jika bergabung dalam group trip mereka cenderung menyendiri dan memisahkan diri dari kelompoknya. Terkadang mereka hanya pergi dengan grup kecil (antara 2-5 orang saja). Orang lain ada yang menyebut mereka pendiam atau memang nggak hobi ngomong.

Anyway, gue beberapa kali bertukar pikiran mengenai solo travel dengan teman-teman gue. Dari setiap chat dan obrolan itulah gue memahami solo trip di mata seorang introvert. Berikut adalah hasil survei tak resmi gue mengenai solo traveling. Demi privasi para narasumber, gue akan menyamarkan nama-nama mereka (note: mereka semua adalah wanita #ehem).

Salah seorang teman gue, sebut saja Mawar (bukan korban perkosaan pastinya) mengatakan bahwa dia sangat menikmati solo trip. Dia sudah pernah berjalan seorang diri ke beberapa destinasi di Indonesia, bahkan luar negeri. Dia bahkan sempat mengeluh karena tahun 2017 tidak bisa menambah cap di paspornya. Why? Bcoz traveling to foreign country is very tempting to solo trip (for her, of course).

Dia juga bercerita masih takut jika harus jalan-jalan sendirian di dalam negeri. Alasannya adalah, wajahnya yang berparas oriental (nggak perlu terlalu dibahas, gue rasa kalian langsung paham). Karena itu jika harus jalan-jalan di dalam negeri dia akan ditemani oleh sahabat baiknya yang sudah jadi travelmate sejak bertahun-tahun silam. Jika “terpaksa” solo trip di Indo, dia lebih menyukai city tour atau wisata kuliner.

Lain halnya dengan Melati (nama samaran, bukan kelas hotel esek-esek) yang selalu mengatakan bahwa dia adalah seorang introvert. Namun…. Melati ternyata tak menyukasi solo traveling! Dia masih membutuhkan teman-teman perjalanan, meski jumlahnya tak banyak dan biasanya adalah sabahat dekat. Baginya berpergian seorang diri sangat insecure. Karena itulah dia butuh teman meski sama-sama wanita atau cewek semua. Kata Melati, yang penting jangan jalan-jalan seorang diri.

Ada teman gue yang bernama Anggrek (gak pake “taman” karena bukan mall), kebetulan kami baru kenal. Dia pernah berstatement melalui direct message (DM) setelah melihat IG story gue tentang kepribadian gue yang extrovert.

“Den, gue nggak percaya kalau ada yang 100% extrovert. Gue aja 80% introvert, 20% extrovert..”
(Gua akan membahas soal ini di akhir yah, baca sampai habis)

Ok, gue anggap si Anggrek ini seorang introvert. Dan memang benar, jika mendengar cerita perjalanannya dia jarang sekali pergi rame-rame. Paling tidak ia hanya pergi dengan dua atau tiga teman. Bahkan jika melihat IG storiesnya, dia selalu jalan-jalan dengan satu teman dekatnya saja. Introvert memang tidak menyukai keramaian (kecuali terpaksa). Sayangnya gue belum sempat bertanya apakah Anggrek pernah solo trip, maybe next time.

Terakhir, gue punya seorang teman lagi, namanya Matahari (bukan salah satu cabang department store). Hubungan kami, katakanlah, cukup dekat. Dia sering mengirim pesan baik lewat DM atau chat WA. Kami juga sudah 2 kali ngetrip bareng dan sering ngobrol-ngobrol dan bertukar pikiran (just info, Matahari sudah punya pasangan, tapi lagi LDR-an #wkwk).

Matahari adalah salah satu cewek yang nggak hobi jalan rame-rame. Untuk me time yang berkualitas, dia selalu pergi seorang diri. Dia bercerita kalau pergi bisa sampai seminggu bahkan lebih, dan semuanya dilakukan seorang diri. Lalu jika mengalami kesulitan? Dia akan menyewa porter, atau pemandu lokal untuk menemaninya jalan. Terkadang dia juga berinteraksi dengan warga lokal atau punya beberapa teman di TKP.

Alasannya lebih suka solo trip adalah, selain tidak menyukai keramaian, dia juga beralasan tak ada teman yang cocok jalan dengannya. Terkadang mereka tidak sepaham soal destinasi, waktu dan bajet. Jadilah ia lebih menyukai pergi sendirian, bahkan dia punya plan buat liburan (solo trip) di luar negeri selama 2-3 minggu. Amazing! #TepukTangan #prokprokprok.

pexels-photo-847483

Olrite, setelah keempat bunga di atas, tiba-tiba gue teringat seorang sahabat gue si Kumbang (kali ini lakik). Dia memang tak pernah menyatakan bahwa dirinya seorang introvert, namun berkaca pada tulisan-tulisannya (he is part-time blogger), karakter, serta sikap dan tingkah lakunya, gue 100% yakin dia adalah seorang introvert.

Bagaimana gue bisa tahu? Ada satu cerita dimana saat itu gue ngobrol berdua sama si Kumbang, kami bercerita banyak hal, bercanda dan tertawa, kemudian muncul teman-teman lainnya. Gue pun ngobrol dengan teman-teman lain dan apa yang dilakukan oleh si Kumbang. Tiba-tiba dia menyendiri dan sibuk dengan tab-nya. Seolah-olah tidak tertarik dengan obrolan remeh temeh kami.

Saat itulah gue sadar Kumbang adalah introvert. Seorang introvert bisa merasa nyaman dan klik bila bertemu dengan teman yang cocok dengannya (dalam hal ini adalah gue si “extrovert”).

Kumbang jarang berinteraksi dengan orang lain yang tidak terlalu dikenalnya dengan baik, meski sudah beberapa kali bertemu. Jadilah orang lain selalu menyebut kami sahabat dekat (meski sejatinya gue baru mengenalnya beberapa bulan terakhir).

pexels-photo-395196

Kumbang, meski tak terlalu hobi jalan, ternyata tak menyukai solo trip.

“Nggak lah Den, takut diculik gue kalau pergi sendirian. Wkwkwkkw..” begitulah katanya.

Kumbang juga sempat bertanya-tanya mengenai destinasi, transportasi bahkan penginapan jika dia hendak liburan. Dan tebakan gue benar! Dia hanya pergi bersama teman-teman dekat, jumlahnya paling hanya 4-5 orang. Dalam hal ini, Kumbang yang tak hobi jalan-jalan (apalagi solo trip) ternyata lebih suka berpergian dengan grup kecil yang sudah dikenalnya dengan baik, such an introvert.

Apakah Extrovert cocok solo traveling?

Sejujurnya pertanyaan di atas bunyinya kurang lebih sama seperti “apakah ayam geprek cocok dimakan sama french fries?” atau “apakah susu cocok sebagai teman rokok?“. Tak ada yang salah jika seorang extrovert menyukai solo trip, sama halnya dengan orang yang makan ayam geprek pake kentang goreng karena dia menghindari nasi.

Extrovert terkadang butuh waktu menyendiri. Cocok atau tidaknya tergantung yang bersangkutan. Sama seperti hamburger yang dicocol sambal terasi, jika yang makan merasa tak masalah jadi sah-sah saja. Mungkin sedikit aneh (seriously, gue bener-bener merasa weird dan kikuk saat solo trip), tapi mereka tahu bagaimana cara “menikmati” liburannya.

Mengutip kata-kata Anggrek, tidak semua orang 100% extrovert atau 100% introvert. Memang benar, extrovert pasti akan memiliki waktu untuk sendiri dan introvert suatu waktu pasti harus berjumpa dengan banyak orang. Suka atau tidaknya extrovert atau introvert pada solo trip, tentu semuanya kembali ke masing-masing pihak, meski kepribadian mereka juga punya andil pada jenis trip yang mereka sukai.

pexels-photo-450441

Introvert suka solo trip, ada juga yang menyukai group trip meski jumlahnya dibatasi. Extrovert jelas lebih suka group trip, dan hanya alasan-alasan tertentu yang membuat mereka ingin bersolo trip, misalnya ingin selalu mencari suasana baru dan merasakan pengalaman berbeda.

Akhir kata, tulisan ini hanyalah subjektivitas dari buah pikiran gue yang sotoy. Tidak semua hal harus dikaitkan dengan kepribadian. Seorang introvert ada yang expert di bidang public speaking yang harus berhadapan dengan banyak orang. Seorang extrovert juga ada yang menjadi penulis handal (contohnya gue #uhuk). So, kepribadian tak 100% mempengaruhi pilihan hidup seseorang, terutama mengenai suka solo trip atau tidak.

Anyway, mungkin kalian bertanya bukankah masih ada satu kepribadian lagi, yakni ambivert. Personaliti satu ini memang merupakan perpaduan antara extrovert dan introvert. Ada sedikit sifat extrovert dan juga sisi introvert.

pexels-photo-1000445

Hhhhmmm.. bagi kalian yang merasa ambivert lebih baik cepat-cepat bertobat. Karena mungkin saja bukan karena kalian berkepribadian ambivert, tapi masih galau dan bingung karena situasi dan kondisi membuat kalian kadang harus menjadi extrovert, tapi juga merasa introvert. Yeah, sebelum menyadari bahwa gue adalah seorang extrovert awalnya gue juga berpikir bahwa gue adalah ambivert dan ternyata SALAH BESAR!

Kembali lagi ke solo trip untuk extrovert, pertanyaannya sama dengan apakah enak ‘smoking sambil nyusu’. Gue pribadi nggak merasa cocok sama jalan-jalan sendirian atau ngebolang dewekan, namun gue adalah salah satu perokok yang selalu ditemani oleh segelas susu, bukan secangkir kopi (bcoz i didn’t like coffee).

Cheers..

Advertisements

14 thoughts on “When Extrovert Try Solo Travel

  1. Ada rasa canggung kalo introvert bertemu dengan banyak orang. Dan kalaupun memang “terpaksa” berada di keramaian, energinya memang akan terkuras. Sehingga perlu dicharge lagi.

    Untuk cewek, sebaiknya hindari solo trip buat mencegah hal-hal yang tudak diinginkan.

    Sisi positifnya introvert yang solo trip, dia lebih mandiri. Dan introvert umumnya perencana yang baik, sehingga semua hal sudah diperhitungkan.

    Like

    1. Introvert memang punya perencanaan yg matang kalau solo trip, sementara extrovert lebih suka unexpected plan..
      Introvert lebih canggung kalau ketemu sama orang-orang baru, sedangkan extrovert sangat bersemangat jika berinteraksi dengan orang-orang yg baru dikenalnya. Hahaha..

      Thx sudah mampir Mas Ris.. 😄

      Like

  2. Aku apa yaaa Den? banyak yg bilang rame dan pecicilan, kadang diem-diem bae kalo lagi males ngomong. Kadang ngetrip bareng temen, kadang solo traveling. Kadang niat banget keluar rumah cuma untuk jalan sendirian, kadang malah ga pengen ketemu siapa-siapa wkwk

    Like

  3. Nggak cocok banget deh mas kalau extrovert itu solo travelling., biasanya bikin heboh kalau sendrian masak iya mau ngomong sendri. jadi kayak orang titik titik dong wkkwkwk

    Liked by 1 person

  4. Duh apalah gw yang ke supermarket sendiria aja buru2, yang lebih baik g dinner drpda harus makan sendirian. Gw pikir gw ini penakut, gw g nyaman klo sendirian.

    eh tapi gw g trlalu suka jalan lbh dr 5-6 org. rempong. 5-6 okelah, walopun cm 1 atau 2 doank yg udh gw knal g masalah. jadi aku ini apa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s