Balada Batal Piknik

“Pengalaman adalah hal yang kita peroleh ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.”

Tak dapat dipungkiri, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman yang mengajarkan kita untuk menjadi lebih sabar, lebih tabah dan lebih baik serta memetik hikmah dan pelajaran darinya. Ada yang mengatakan jika seseorang gagal dan sampai kehilangan atau rugi secara materi, anggap saja itu adalah “ongkos” atau biaya untuk belajar. Dan gue pribadi punya pengalaman sedikit pahit, terutama menyangkut traveling.

Omong-omong, September tahun lalu gue cabut dari kantor dengan segudang “prestasi” yang bagi gue membanggakan, namun bagi orang lain mungkin memalukan. What is that? Yes, setahun terakhir dalam masa bakti tiga tahun tiga bulan gue sering “kabur” dengan berbagai macam alasan untuk ngetrip.

Karena jatah cuti yang tak jelas dan hanya bisa diambil saat emergency membuat gue memutar otak untuk bisa keluar dari rutinitas sebagai kuli. Lumayan, dalam kurun waktu setahun gue sudah enam kali kabur. Hehehe..

Namun setelah resign dan lebih bebas, gue malah terkena “karma” dari semua kisah kabur-kaburan itu. Ada cerita dimana gue pengen ngetrip dengan waktu yang lebih lama dan lebih bebas selalu saja ada kendala atau halangan yang membuat gue batal ngetrip.

Kendala tersebut selalu berhubungan dengan situasi dan kondisi, atau kalau dikerucutkan menjadi dua poin utama: WAKTU dan BAJET.

Setelah resign gue pikir sekarang lebih bebas, tapi berprofesi sebagai freelancer justru membuat gue gak punya waktu khusus (kecuali bila benar-benar diniatin). My time is not mine anymore. Tiap hari, bahkan setiap detik dan hitungan jam bagi gue sangat dinamis. Bahkan gue sendiri gak berani bilang kalau besok atau lusa gue free.

Soal bajet, inilah salah satu kendala utama juga. Dimana “celengan” yang sudah dipersiapkan untuk piknik ternyata harus dijebol sebelum waktunya. Gak perlu panjang lebar, sepertinya kalian lebih paham kalo soal kendala bajet saat ngetrip.

Dari semenjak gue resign sampai detik dimana gue menulis artikel ini, setidaknya ada lima cerita balada penuh drama yang mengharukan (dan tak terlupakan) yang membuat gue batal mengangkat tas daypack lagi untuk jalan-jalan.

How the stories goes? Just sit down and relax, grab your snack and coffee while reading my story below.

ubud

SAYONARA UBUD

Sejak awal 2017, gue memang berencana melipir ke Ubud dan sekitarnya just for escape kurang lebih selama seminggu. Planningnya, bulan Desember gue berleyeh-leyeh disana buat menghilangkan stres setelah dua bulan resign. Apa lacur, planning ini akhirnya menjadi wacana forever.

Mau tahu apa penyebabnya? Akhir November gue jemput teman dari Surabaya yang naik kereta menuju Stasiun Pasar Senen. Karena tak tahu jalan (seriously, itu pertama kalinya gue kesana bawa motor sendiri), jadilah gue sering mengecek maps di HP yang sering gue taroh-ambil di dashboard. Ternyata saking buru-burunya HP itu jatuh di jalan dan gue baru menyadarinya pas mau nyampe stasiun.

Setelah jemput teman, gue mencoba menyisiri jalan yang gue lalui dan melihat hardcase gue yang ditinggal di pinggir jalan, letaknya mungkin pas dimana dia jatuh. Dalam hati gue,

“Sialan nih maling (sorry, gue langsung sebut dia maling). Udah ngambil HP malah buang hardcasenya. Maksudnya ngeledek ya. Ya sudahlah, biar jadi BERKAH buat dia!!!”

Yang bikin gue mau nangis adalah, HP yang hilang itu adalah pengganti HP gue sebelumnya yang kejebur di Karimunjawa dan wassalam, dan beli HP baru inipun juga pake “air mata”. Yes, itulah durasi tersingkat gue megang smartphone (3,5 bulan). Kebayang kan gimana rasanya kehilangan HP yang masih fresh, seperti ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Tapi apa mau dikata, namanya juga musibah. (Selengkapnya baca di “Ketika Mengalami Musibah Saat Traveling)

Untunglah gue belum sempat beli tiket pesawat, akomodasi, transportasi, dll. Duit yang udah dicelengin demi Ubud akhirnya terpaksa gue bongkar #hikshikshiks. Jadilah gue beli HP baru yang masih awet sampe sekarang dan selamanya #AMIN. Kadang kalau lagi KZL dan lagi mainin HP ini gue kepikiran soal Ubud. Duh, sayonara deh rencana napak tilas Eat, Pray, Love.

in-belitung-island-indonesia

NEGERI LASKAR PELANGI, MASIH DALAM MIMPI

Sejak akhir 2016 gue punya planning untuk mengeksplorasi kampung halamannya si Ikal dan Ahok ini serta memasukannya ke bucket list travel. Ditambah gue sering nonton video Laskar Pelangi-nya Nidji saban hari di Yutup. Napsu yang menggebu-gebu itulah yang membuat gue mencari travelmate buat ke Belitung. (Baca di “2018 Bucket List Travel)

Beruntung gue ketemu sama Mbak Rahayu yang berencana ngetrip kesana lewat situs forum www.backpackerindonesia.com. Tertulis mereka akan berangkat ke Belitung pada tanggal 20-an Februari. Meski curah hujan sedang tinggi-tingginya tapi bomat deh, gue udah terlanjur ngebet.

Mbak Rahayu berencana kesana berdua dengan temannya dan hanya pergi pas weekend saja (sabtu-minggu). Gue pun langsung nyari-nyari tiket dan dapet flight PP naik Sriwijaya Air. Gue berangkat kamis siang dan pulang senin pagi (terniat, 5 hari cuy #wkwkk). Kemudian Mbak Rahayu mendapat teman ngetrip lagi yang berangkat dari Bandung.

Gue sudah issued tiket, dan tiba-tiba..

“DDUUUUUAAAARRRRR!!!”

Gue gak tahu apakah bisa pergi ke Belitung atau tidak. Menjelang hari H gue udah packing-packing dan prepare meski tidak yakin apakah bisa berangkat atau tidak. (Sorry, dengan alasan privasi gue gak bisa kasih tahu disini secara gamblang apa alasannya)

Hari H keberangkatan, pesawat gue akan take off sekitar jam 11 lewat. Daaaannnnnn… jam 10 gue masih di rumah gue di Jakarta Utara. Walaupun gue dapet SMS dari Sriwijaya yang menginformasikan bahwa pesawat delay, tetap saja gue udah gak bisa berangkat. Sumpah badan lemes banget.

Gue pun menghubungi pihak Sriwijawa dan membatalkan tiket. Petugas CS mengatakan bahwa customer hanya mendapatkan refund 10% dari harga beli tiket karena dibatalkan 1 jam sebelum keberangkatan #nelenludah. Ya sudahlah, daripada duit gak balik sama sekali. Masih lumayanlah itu duit buat beli ice kepal.

Drama berikutnya, gue masih keukeuh buat berangkat. Sadar bahwa gak bisa berangkat Kamis itu, gue langsung searching tiket buat berangkat hari Jumat (meski harganya melambung tinggi semua). Tak lama sebelum gue ngeklik buy ticket, sebuah pesan masuk ke WhatsApp gue. Silakan baca saja sendiri.

 

 

Ternyata Mbak Rahayu dan temannya sedang dalam recovery karena beberapa hari sebelumnya sakit. Jadi mereka akan jalan-jalan santai, tak ada agenda snorkeling atau hoping island, teman dari Bandung juga batal ikut. Kalau gue maksain tetep ikut, jalan-jalannya juga gak maksimal (masa ke Belitung tapi gak snorkeling).

Setelah berpikir matang-matang, gue pun membatalkan niat buat beli tiket lagi sekaligus membatalkan tiket pulang yang sudah dibeli dan direfund hanya 25% #tariknapasdalamdalam. Memang sepertinya gue gak dikasih “izin” buat pergi kesana.

Akhirnya negeri laskar pelangi dan sang pemimpi sampai sekarang masih dalam mimpi. Meski ada beberapa teman yang mengajak kesana, nafsu gue sudah hilang (trauma, dua kali batal liburan sob). Dalam waktu dekat gue juga belum berencana kesana karena untuk mengunjungi Belitung juga harus di waktu yang tepat seperti musim kemarau dimana cuacanya bagus dan ombaknya relatif tenang.

Musim kemarau sebentar lagi berakhir, ditambah gue sudah punya plan-plan lain yang tak berhubungan dengan laut. Akhirnya drama kegagalan ke Belitung ini memberi sebuah pelajaran kalau sakit itu bukan hanya di hati tapi juga di dompet #duh.

savana-bekol-taman-nasional

UJUNG TIMUR JAWA NAN PHP

Awal tahun ini, beberapa teman gue merencanakan trip yang berkesinambungan, kurang lebih 1-2 bulan sekali harus jalan dan puncaknya mereka akan mengeksplor Flores (tepat saat gue menulis cerita ini, mereka sedang bergoyang Maumere dan foto bersama Naga Purba).

Perjalanan mereka dimulai ke Krakatau (Maret), Sangiang (April), Banyuwangi (Mei) dan Flores (Agustus). Gue udah pernah ke Krakatau, ke Sangiang gak gitu minat, jadilah gue mencoba daftar buat ke Banyuwangi. Gue pun kontek-kontekan dengan salah satu CP-nya, Pingkan. Dia memberitahu soal pembayaran DP sampai tiket menuju Surabaya karena kita semua start dari Stasiun Pasar Turi.

Gue pun sudah membeli tiket kereta, dan membayar DP yang sudah dikasih korting spesial karena gue melas sama Pingkan #wkwkwk. Btw, sejak awal ketika gue berniat ikut trip ini mereka semua kurang yakin mengingat track record gue yang suka cancel atau batal dadakan sampe-sampe gue sering disebut Kang PHP.

Ternyata, gue kembali harus jadi Kang PHP lagi. Sebetulnya keinginan gue ke Banyuwangi gak ngebet-ngebet amat, apalagi menjelang hari H gue tertimpa musibah kecil. Ceritanya gini, tunggangan yang sudah menemani gue selama empat tahun terakhir ini butuh “perhatian khusus”, dan tentu saja biaya yang cukup besar.

Setelah hitung-hitung dan kalkulasi, ternyata gue harus membatalkan rencana trip ke Banyuwangi. Gue pun mencari orang yang bisa gantiin, menganounce di grup yang langsung didiemin sama semua orang #merekalelah (fyi, gue pake alasan sepupu merid dan mesti jaga angpau #wkwk), lalu menghubungi Pingkan.

Disinilah drama mulai terjadi, karena sebelumnya sudah ada drama dia KZL duit yang harusnya gue setor malah gue pake buat nanjak ke Prau. Padahal jelas-jelas gue uda fix ikut trip ini dulu sebelum ke Prau. Ditambah lagi, dia juga minjemin carrier-nya buat gue pake ke Prau dan, mungkin, Banyuwangi. Makin gak enak hatilah gue.

Setelah berdoa agar Perang Dunia 2,5 tidak terjadi #wkwk, akhirnya gue beraniin diri chat Pingkan.

“Bu, kalau gue batal ke Banyuwangi nanti duit yang buat gantiin DP dari peserta yang gantiin gue atau bukan nih?” gue mencoba basa-basi belagak pilon.

“Gak usah, tar duit lu dibalikin,” jawabnya yang entah kenapa baru kali itu chat dari Pingkan bernada sedingin itu.

Akhirnya, entah untuk ke berapa kalinya gue udah ngecewain dan minta maaf lagi, gue pun kembali meminta maaf yang sebesar-besarnya (sumpah, ini tulus pake banget). Besoknya duit gua langsung ditransfer full tanpa biaya sakit hati, eh maksudnya biaya administrasi.

Dan rencana piknik ke ujung timur dari Pulau Jawa untuk melihat blue fire, padang sabana ala Afrika sampai pulau di Bali Barat akhirnya G-A-G-A-L-T-O-T-A-L. Masih ada tambahan, gebleknya gue lupa buat batalin tiket kereta yang dibeli dan terpaksa ikhlasin duit itu. Mungkin ini yang dinamakan K-A-R-M-A.

memancing-pulau-tunda-cover

LIBURAN YANG TER-TUNDA LAGI

Setahun setelah trip penuh drama di Karimunjawa, yang membuat hubungan kami makin kuat layaknya saudara, maka terbentuklah grup bernama AHCT (Anti Highclass Traveler). Kamipun berencana membuat anniversary trip.

Btw, setelah kisah di Karimunjawa, beberapa dari kami sempat jalan-jalan ke Jogja (dimana gue jadi CP #ehem), camping di Bukit Alesano, camcer di Bukit Lembu, dan ngetrip ke Ujung Kulon. Fyi, gue dan Pingkan adalah member AHCT.

Jadi trip-trip yang gue sebut di cerita sebelumnya juga adalah inisiasi dari grup ini, meski di perjalanan mereka juga merekrut orang-orang luar yang berminat join. Sayangnya, sudah jarang sekali kami berkumpul dan ngetrip bareng, murni hanya “kami” saja. Kesibukan menjadi faktor utama.

Setelah perjuangan berdarah-darah akhirnya kita semua bisa dikumpulkan (meski hanya sebagian) di acara bukber bulan puasa kemarin. Disinilah kami membahas anniversary trip dimana setiap anggota WAJIB ikut. Planningnya antara camping di Pengalengan, camping di sekitaran Bogor (lagi) atau mantai di Pulau Tunda. Opsi terakhir menjadi pilihan dan kami akan berangkat pada akhir Juni.

Drama pun lagi-lagi kembali terjadi. Kali ini jujur aja, saat itu gue lagi bener-bener miss queen. Rasanya pengen banget ikut karena kebersamaannya, bukan tempatnya. Kebetulan, fee gue sebagai blogger belum turun dan berharap duitnya cepet-cepet cair biar bisa ikut anniversary trip ke Pulau Tunda.

Apa mau dikata, ternyata masalah pembayaran fee juga penuh drama yang bikin naik darah turun taik. Karena selain terlambat meski semua tugas dan kewajiban sudah diselesaikan, tak ada kejelasan kapan fee akan turun. Akhirnya dengan terpaksa gue kembali mengarang cerita soal gue batal ikut trip yang kembali ditanggapi dengan “diam” #merekasudahsangatlelah.

Dan liburanpun akhirnya kembali terTUNDA. Oh Lord…

gunung-gede

GUNUNG GEDE, GEDE WACANA

Oke, setelah berhasil nanjak ke Prau, gunung berikutnya yang ingin gue daki adalah Papandayan dan Gede yang relatif bersahabat untuk pendaki pemula (maklum, namanya juga nubitol). Rencana buat nanjak ke Gunung Gede ini akhirnya dibuat setelah konferensi dan rapat dadakan di bawah kucuran air terjun Jurang Landung di Kuningan, Jawa Barat. Lima orang berkumpul, yaitu gue, Mas Yus, Paskah dan dua kakak adik Tya dan Arum.

Ditemani kopi dan rokok dengan tubuh yang basah karena air curug, kami membahas soal mendaki gunung dan diakhiri dengan rencana nanjak ke Gunung Gede pada pertengahan Juli. Peserta maksimal 16 orang, grup WhatsApp juga sudah dibuat dimana ternyata didominasi pendaki cantik, seperti gue #eh.

Pada prosesnya, kita mencari dan mengajak teman-teman lain dan gue pun akhirnya mengajak Pingkan (setelah gue nyeritain planning ini pas bukber). Awalnya Mas Yus sebagai CP pengennya yang ikut itu sudah punya pengalaman nanjak. Bahkan dia bertanya, Pingkan itu pernah nanjak kemana aja.

“Oh tenang Mas, dia udah pernah ke Lembu, Krakatau sama Kawah Ijen,” kata gue mencoba meyakinkan. (Yang penting punya pengalaman “nanjak”, bodo amat itu disebut gunung apa bukan)

Namun, grup ini sepi dari segala persiapan. Tak ada share mengenai pendaftaran simaksi, biaya sharecost sampai sharing logistik dan perlengkapan. Bahkan gue bertanya-tanya dalam hati, ini jadi apa nggak sih nanjaknya. Tiba-tiba, tiga minggu sebelum nanjak gue mendapat tawaran job yang nggak bisa gue tolak duitnya. Sialnya itu bertepatan dengan hari H nanjak ke Gede.

Gue pun mulai linglung, karena untuk kesekian kalinya lagi gue harus ngecewain Pingkan yang udah gue ajak. Saking sibuknya gue sampai lupa kasih tahu dan akhirnya dia yang chat gue duluan.

“Den, ini ke Gede jadi apa nggak sih? Kalau kesana kan simaksinya mesti booking online dulu. Ini udah kurang dua minggu lho, keburu full,” ujarnya menurut teks WA.

“Aduh iya. Eh begini bu, sorry ternyata tanggal segitu gue nggak bisa karena ada kerjaan #KasihEmoticonNangis,” kata gue dengan rasa bersalah.

“Nggak tanggung jawab lu,” balasnya dengan dingin.

“Iya.. iya.. sorry nih. Sebagai gantinya, mau ikut ke Papandayan gak akhir Juli. Tenang, ini pasti jadi karena gue CP-nya,” kata gue mencoba merujuk.

“Duh, pastiin dulu lah itu Gede jadi atau nggak. Jangan main langsung ngajak ke Papandayan aja,” jawabnya.

“Coba nanti gue tanyain di grup dulu ya mereka jadi nanjak atau nggak.” (Btw, saat itu gue udah jarang buka grupnya)

“Lah, mau nanya gimana. Itu orang-orangnya pada left semua,” jawab Pingkan, tak lama setelah mengecek grup itu.

“Hah, seriusan!”

Akhirnya gue buka grupnya dan ternyata rata-rata orangnya pada keluar semua. Mungkin mereka kecewa, atau merasa tripnya gak ada kejelasan. Gue yang awalnya mau pamit malah nanya mereka nanjak atau gak. Maklum, kedua CP-nya (Mas Yus dan Kak Tya) sama-sama orang sibuk.

Karena gue juga nggak bisa ikut akhirnya gue pun left. Nanjak gunung gede pun hanya gede wacananya aja. Pingkan akhirnya gue ajak buat ke Papandayan, meski awalnya dia ragu lalu akhirnya setuju lengkap dengan pesan dan kesan.

“Jangan jadiin gue korban PHP lagi ya. Lelah tsay…”

Kurang lebih sekitar seminggu setelah kejadian itu, Paskah, salah satu orang yang left dari grup Gunung Gede tiba-tiba WA gue.

“Pertengahan Agustus ada acara gak? Ke Gede yuk, sharecost 350k tinggal bawa badan,” begitulah bunyinya tulisnya.

Sejujurnya gue sedikit berminat. Apa daya ternyata di tanggal yang dijadwalkan tersebut, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sedang ditutup selama hampir seminggu lebih (saat menulis cerita ini, TNGGP juga masih tutup). Hal itu dilakukan demi menjaga ekosistem dan kelestarian alam serta menghindari padatnya gunung oleh para pendaki yang ingin melaksanakan upacara 17 Agustus-an disana.

Dua kali wacana ke Gunung Gede, dua kali pula gagal. Yah semoga plan berikutnya tidak gagal lagi, mungkin nanti gue akan nanjak kesini sama orang-orang yang tepat.

Let see..

3-lokasi-kemping-di-jawa-barat-yang-wajib-anda-datangi-CrAfSL8qux

***

Yes, inilah cerita batal piknik gue yang penuh balada dan drama. Dari cerita kegagalan ini gue bisa mengambil hikmah bahwa sebaik-baiknya manusia berencana, bila Yang Di Atas tidak menghendaki kitapun hanya bisa pasrah. Ada banyak cerita seperti uang tiket transportasi yang harus direlakan sebagian atau seluruhnya, belajar manajemen bajet ngetrip sampai bertanggung jawab buat gak ngecewain orang lain.

Cerita-cerita di atas adalah kisah pribadi bahwa setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya drama batal liburan menurut versi ngenesnya masing-masing. Biarlah setiap pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar ke depannya lebih baik lagi baik dalam persiapan maupun potensi timbulnya drama #wkwk.

So, apa cerita atau pengalamanmu saat batal piknik, yuk share di kolom komentar..

Advertisements

21 thoughts on “Balada Batal Piknik

  1. Gw juga pernah 2x di-php-in ke Karimun Jawa. Sempet kzl tapi akhirnya jalan juga. Rencana pertama bulan April, ke-2 Juni akhirnya baru Agustus terlaksana.

    Like

  2. Alhamdulillah sih enggak pernah kena php, wkwkwk. Palingan pernah tu salah beli tiket pesawat aja, 2rute yg enggak nyambung. 1 hr ini dan 1 nya besoknya. Padahal rute yg dinaikin duluan yg besoknya wkwkww. Anyway semua kejadian2 itu adalah pelajaran dan hikmah. Pertama, ujian kesabaran. Yang namanya ujian, kalau blm lulus ya ga bakal selesai, akan diuji terus.Kalau kejadian mulu, artinya blm lulus ujian kesabarannya. Hehehe. Yang kedua, kalo aku sih percaya banget apa yg kita lakukan itu apa yg kita dapatkan. Mungkin kmrn2 kita pernah melakukan apa, dapat uang dr mana..yg mungkin kita ga sadar kalau itu ga baik. Nah, kayak kita kehilangan uang karena rugi tiket ilang, dll, barangkali itu cara Tuhan utk ‘membersihkan’ diri kita.
    Eh kok kepanjanhan..hahaha
    Imo, maaf lahir batin kalau tdk berkenan. 😊

    Liked by 1 person

    1. Waduh kata²-nya bener² bikin aku instropeksi 🙇🏻
      Makasih pencerahannya Mbak Dew, mungkin ini memang ujian kesabaran dan/akibat “kesalahan²” lain yg tanpa sadar aku perbuat 🙏🏼

      Like

  3. Pernah juga batal ngetrip BPJ, waktu trip Blitar dan Kediri. Batal karena mendadak tugas ke luar kota. Uang pun hangus semua karena gak ada yang gantiin.
    Belajar dari situ, saya trip paling jauh ke seputaran Jawa saja. Kalaupun batal dan gak bisa nyari pengganti, gak terlalu banyak uang yang amblas.

    Buat yang memang tripnya jauh di seberang lautan, usahakan ambil cuti, biar bisa terjadwal pasti dan bisa ada win-win solution dengan tempat kerja.

    Saya pun di kantor terkadang besok, lusa atau minggu depan bisa ada pekerjaan mendadak.

    Dari itu, kalau ada acara dan tidak terlalu yakin bisa ikut, saya pilih tidak ngelist atau daftar, soalnya kalau PHP kan repot.

    Like

    1. Kalo terlanjur ngelist, sudah beli tiket, akomodasi, sharecost tapi batal dan gak ketemu pengganti mau gak mau mesti ikhlasin yah 😢😥😥

      Mungkin kita harus punya persiapan juga biar trip gak PHP lagi 😩
      Tq sharingnya Mas Ris..

      Like

  4. Pengalaman batal piknik karena force majeur kadang jadi ‘memaksa’ kita untuk lebih sabar ya, Bang. Aku juga pernah ngalamin nih.

    Tapi hikmahnya bisa jadi pembelajaran untuk enggak langsung mengiyakan semua tawaran trip. Semangat, Kang PHP! 😛

    Like

    1. Gk semua tawaran trip diterima koq. Ini malah uda dipilih² 🤣
      Apa daya, mungkin emang belum dikasih kesempatan kesana 😢

      Like

  5. Den, gue terpikir untuk share artikel ini untuk anak-anak zaman now yang merasa “they deserve more.” Biar mereka mikir.. YES, kerja itu suka bikin kita sembelit dan berpikiran julid, tapi nggak ada pemasukan tetap malaj dijulidin sama hidup.

    Like

    1. Hahahaha..
      Itu udah risiko kak kalau mereka berpikir “they deserve more”. Tiap orang jg punya pengalamannya masing². Mungkin sekarang gue harus bersakit² dahulu, bersenang²-nya entah kapan.. 🤣🤣

      Like

  6. Ternyata elo kang PHP ya den.. haha.. sian kak pinkan sudah lelah dengan aksi php lo ya.
    Oh kak pinkan yang sekarang di flores tuh rencana jalannya geng kalian ya?

    Like

  7. Ternyata di balik trip2 receh lo yang hits banget itu banyak juga trip-trip yang masih tertunda yah, Den. Pernah cancel tiket sih gw, tapi ga separah lo, refund 10 persen itu sakit, Bro…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s