Jejak Langkah, Deru Nafas dan Sakit Mendera

Langkah kaki..

Berapa jalan lagi yang harus kau jejaki..

Berapa tanjakan lagi yang harus kau tapaki..

Apakah kau sanggup untuk melangkah tanpa henti..

Langkah kaki..

Belum selesaikah kau mengangkangi..

Kapan kau akan mulai menepi..

Apa kau tak pernah bisa mendiami..

Langkah kaki..

Setiap jengkal telah kau lewati..

Setiap terjal telah kau arungi..

Hingga rasa sakitmu akhirnya mati..

Sabtu, 25 Agustus 2018

~ 15.22 WIB ~

Selangkah demi selangkah. Tanah, debu, ditambah bebatuan terjal dan berpasir menjadi musuh gue saat ini. Berjalan sendirian saat mendaki rasanya nggak enak. Kim sudah berjalan jauh di depan, sementara jauh di belakang masih ada Mami, Azizah dan Bang Wawin, sang CP yang bertindak sebagai sweeper.

Naik Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri memang PR banget. Treknya mengingatkan gue akan jalur Patak Banteng menuju puncak Prau. Bedanya, gunung putri ini tiga kali lebih panjang dan lebih sadis nanjaknya. Apalagi dari Pos 3 menuju Pos 4, jalurnya mulai terjal, berbatu dan berpasir.

And yessss! Disinilah gue saat ini, mendaki sendirian dengan langkah tertatih-tatih dan ditemani oleh tracking pole. Tujuh jam sudah gue berjalan, dan masih belum mencapai Alun-alun Suryakencana dimana kami akan camping. Dengkul mulai terasa sakit, dan akhirnya gue menyadari batas kemampuan kaki gue yang hanya bisa “dipakai” nanjak sekitar 5-6 jam. Selebihnya, katakanlah hampir wasalam.

“Ayo mas, semangat…!!!”

Terdengar kata-kata penyemangat dari para pendaki yang berpapasan. Gue terduduk di batang pohon sambil minum air di botol yang pecah. Pantas saja gue merasakan air menetes dari keril, ternyata botol yang sejam lalu jatuh saat gue bangun terhuyung-huyung itu membuat bagian bawahnya retak.

“Sayang sekali. Pertama kali pake botol ini dan langsung pecah,” gumam gue dalam hati sambil menenggak air minum yang tersisa.

Teman-teman kami sudah di atas. Rombongan pertama sepertinya sudah sampai suryakencana dan mendirikan tenda. Sementara ada dua sejoli dimabuk cinta di belakangnya yang (mungkin) sudah sampai juga (jika mereka nanjak serius, bukan nanjak modus). Kim mengintil dewekan, setelah itu ada gue yang sedang duduk sendirian.

Kencangkan keril. Kencangkan tali sepatu. Meski kaki sudah pegal dan dengkul mulai senut-senut, perjalanan ini masih panjang. Akankah langkah kaki ini sanggup melewatinya?

Minggu, 5 Agustus 2018

~ 12:51 WIB ~

“Siang gan.. ini yang mau nanjak ke gunung gede ya? Masih ada slot kah?”

“Iya kak, rencana berapa orang? Kalau 1-2 orang masih bisa.”

“Ane single fighter gan #emoketawa.”

“Mantap! Sudah sering mendakikah?”

“Yah.. baru 2-3 bulan ini mendakinya.”

Sebuah percakapan remeh-temeh dan penuh basa basi inilah yang menjadi awal mula pertemuan kami. Gue menghubungi Bang Wawin selaku CP. Kami mendaftar simaksi via online, lalu membagi biaya logistik dan sharing perlengkapan.

Drama terkonyol terjadi ketika gue sounding di salah satu grup kalau gue akan mendaki ke Gunung Gede. Mbak Siti langsung japri gue minta diajak ikut. Biasanya dia suka traveling bareng anak bungsunya yang cantik dan berwajah indo-blasteran, Dylan.

“Den, ajak-ajak dong kalau mau treking. Apa kamu malu ya kalau pergi sama nenek-nenek,” begitulah omelnya via WhatsApp.

P_20180826_091200_vHDR_On

Gue dan Mbak Siti sudah dua kali ngetrip bareng, dan akhirnya gue berusaha untuk mengikutsertakan mereka berdua ke dalam trip kali ini. Bang Wawin setuju ketika gue mengatakan ada dua teman yang mau ikut. Apalagi ternyata ada dua orang dari grup kami yang batal, jadi intinya ya “gantiin” orang.

Gebleknya, Bang Wawin mengira bahwa dua teman yang mau gue ajak adalah batangan. Ketika tahu bahwa dua-duanya adalah betina, akhirnya rencana diubah dari awalnya ngegantiin lalu jadi beli pake calo. Dylan batal ikut karena tugas sekolahnya menumpuk, Mbak Siti akhirnya pergi sendiri.

Bang Wawin malah sempat waswas ketika meminta foto KTP Mbak Siti untuk keperluan simaksi.

“Itu dia pernah naik gunung? Kamu serius? Umurnya udah 40-an lho..”

“Expert bang. Malah gue yang newbie #emoketawa,” gue mencoba meyakinkan Bang Wawin.

Pada akhirnya, Mbak Siti (yang selanjutnya kami panggil Mami) ikut trip kami dan gue lupa kalau umur juga membuat tenaganya berkurang. Jadilah selama mendaki, dia terlihat lelah meski banyak pendaki yang menyemangatinya tiap kali bertemu karena masih nanjak meski sudah berumur.

Sabtu, 25 Agustus 2018

~ 08:40 WIB ~

“Kita telat nih. Dari basecamp ke Alun-alun Suryakencana bisa 6-8 jam. Kalau timnya kayak gini, mungkin maghrib baru sampe,” keluh Desy yang sudah beberapa kali ke Gede.

Perjalanan memang selalu di luar ekspektasi. Setelah mengurus simaksi resmi untuk 14 orang dan 1 simaksi calo untuk Mami, kami ternyata juga harus cek kesehatan yang memakan banyak waktu. Awalnya kami akan berangkat jam 6 pagi. Apa daya, perjalanan baru bisa dilanjutkan jam setengah sembilan kurang.

Kami sudah menyiapkan logistik untuk makan siang di tengah jalan. Trek awal masih dilalui dengan jalan landai melewati ladang, sayangnya “penyakit” ngos-ngosan gua mulai kambuh. Penyebabnya, apalagi kalau bukan beban yang kelewat berat.

Akhirnya beban air mineral dan logistik dibagi untuk yang lain. Bang Wawin juga meminjamkan tracking pole miliknya. Selangkah demi selangkah, akhirnya kami mencapai jalur “sesungguhnya” yang nanjak terus dari awal sampai akhir.

***

Nafas itu menderu..

Nafas itu mulai kembang kempis..

Suaranya mulai tercekat peluh..

Aliran udara di kerongkongan kian menipis..

Nafas itu semakin menggebu..

Entah karena semangat atau rasa lelah..

Hembusan angin keluar sayu-sayu..

Melewati hidung tanpa mau mengalah..

Sabtu, 25 Agustus 2018

~ 18.48 WIB ~

Entah setan apa yang merasuki Mami dan Azizah. Setelah berhenti di warung dadakan dan makan cemilan, mereka seperti punya tenaga ekstra untuk nanjak setelah treking berjam-jam. Sesuatu yang luar biasa untuk wanita berusia 40-an dan cewek dengan berat 105 kg (hasil pemeriksaan kesehatan yang disaksikan oleh kami semua #wkwk).

Sementara, kaki gue sepertinya sudah mencapai batasnya. Gue sudah mulai berjalan terpincang-pincang, beban keril dan treking pole membuat langkah kian berat. Nafas juga mulai tersengal-sengal. Walhasil, di belakang hanya tinggal gue dan Bang Wawin yang “bertanggung jawab” untuk membackup.

“Aduh sampai Surken berapa lama lagi sih…???!!!”

Sekonyong-konyong dan tanpa sadar kalimat setengah berteriak dan bersungut itu keluar dari mulut gue. Mendaki gunung memang bisa mengeluarkan sifat asli seseorang, bahkan tanpa dia sadari.

Hari mulai gelap, berbekal headlamp gue berusaha mencari dan melihat jalan. Terkadang gue meminta istirahat dan duduk sejenak untuk mengatur nafas. Namun udara dingin langsung meyergap, beristirahat 5 menit saja kaki gue mulai dingin dan harus segera “digerakkan”. Sementara kedua kaki ini jelas butuh “istirahat”.

Bang Wawin sebagai CP sungguh penyabar, bahkan memberi semangat meski sejujurnya gue udah muak mendengar kalimat semangat penuh PHP itu. Jalur mulai sepi, sepertinya kami adalah pendaki terakhir yang naik. Kami mencoba untuk, setidaknya mencapai batas vegetasi.

Teringat kata-kata Bang Wawin dua jam sebelumnya ketika bertemu Mami dan Azizah di jalan, sebelum mencapai Pos 4.

“Kalau memang waktu tak memungkinkan. Nanti kita cari tanah lapang dan pasang tenda saja disitu.”

Sangat wajar, mengingat Mami dan Azizah sudah kepayahan. Tentu ini sebelum Azizah mendapat doping cemilan dan minuman segar karena badannya yang “telat panas”, juga sebelum gue memisahkan diri dan naik duluan karena ingin mengejar teman-teman lain.

~ 19:36 WIB ~

“Pak, ngelihat dua orang cewek nggak? Satu ibu-ibu, satu lagi gemuk?” tanya Bang Wawin.

“Lah ini ibunya (sambil nunjuk Mami). Kalau cewek satu lagi sudah jalan duluan,” jawab si bapak.

“Dimana mereka camping?” tanya gue dengan parau.

“Mereka camping di Suryakencana timur, dekat mata air. Dari sini setengah jam, tapi kalau kita jalan mungkin satu jam,” jawab Bang Wawin dengan nada realistis.

Hari sudah larut, kaki gue mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah berjuang melewati jalur gunung putri yang menguras fisik. Mami duduk di tikar lesehan dekat lapak di sampingnya. Setelah minum teh manis panas, entah kenapa badan gue automaticly ingin rebahan. I really need a rest!

Melihat gue yang sudah mencapai batasnya, Bang Wawin langsung berinisiatif mendirikan tenda agar kami bertiga bisa bermalam. Sementara itu tubuh lelah gue mulai kehilangan kesadaran perlahan-lahan.

“Den… den.. bangun… yuk pindah ke tenda..”

Terdengar suara pria yang mencoba membangunkan. Tapi gue bener-bener nggak sanggup untuk bangun. Keril gue sudah dipindahkan ke tenda, tinggal pemiliknya saja yang menunggu dipindahkan. Dengan bersusahpayah gue berhasil duduk, dan Bang Wawin langsung menggendong gue.

“Hhmm.. enteng ini mah. Berat lu berapa sih?”

“55”

Akhirnya gue direbahkan ke dalam tenda. Beruntunglah kami membawa beberapa logistik. Tengah malam mereka mambangunkan gue untuk makan. Sayangnya tubuh gue akhirnya sudah menyerah. Matanya mulai sayup-sayup, deru nafasnya perlahan mulai teratur, dan malam yang panjang dan dingin itu akhirnya berakhir.

***

Untuk apa kau naik gunung yang tinggi itu..

Untuk apa kau membawa keril yang berat itu..

Apakah hanya untuk mempercantik tampilan instagrammu..

Apakah hanya untuk pamer demi ego dan rasa banggamu..

Tidak..

Bukan..

Jangan salah paham..

Aku mendaki bukan untuk pamer..

Aku mendaki bukan karena ikut-ikutan..

Aku mendaki karena ingin keluar dari zona nyaman..

Aku mendaki karena ingin tahu dimana batasanku..

Aku mendaki karena ingin melatih kaki yang tak sempurna ini..

Semenjak pangkal paha kanan mengalami patah tulang, delapan tahun silam..

P_20180826_073449_vHDR_On

Minggu, 26 Agustus 2018

~ 05:24 WIB ~

Pagi sudah menjelang, Bang Wawin dan Mami sudah bangun dan mulai memasak. Sarapan gue saat itu adalah telur rebus, kentang rebus, dan cream soup. Ternyata kami berada di gerbang alun-alun suryakencana, tepatnya di suryakencana barat.

Saat membuka tenda terlihat padang savana, pohon edelweis, matahari terbit, dan tenda kami yang berada tepat di batas vegetasi. Kami dibangunkan oleh penjual nasi uduk yang berkeliling menjajakan dagangannya. Dan gue terpaksa bangun karena harus “setor” pagi.

Seriously, ini pertama kalinya gue boker di gunung. Bang Wawin yang juga habis boker (dan ternyata itu pengalaman pertamanya juga) menunjukkan tempat yang aman dan nyaman untuk buang hajat. Gue mulai berjalan ke tempat itu dan melihat banyaknya tisu-tisu kering bercak coklat yang berceceran #ueeekkss.

Tak perlu ditanya, inilah tempat dimana pendaki membuang hajat. Gue berjalan pelan-pelan agar tidak menginjak ranjau. Finally, ada seonggok tanah berlubang. Buru-buru gue menyelesaikan urusan hajat, membuang tisu di atasnya, lalu menguburnya dengan tanah dan dedaunan.

Setelah istirahat (dan habis boker), tubuh gue mulai fit. Ternyata beban berat itu ada di kaki dan pantat. Kami membereskan peralatan dan berjalan buat nyamperin teman-teman kami. Di tengah perjalanan (sambil foto-foto tentunya), kami bertemu Dimas, Susi, Kim dan Azizah yang datang menjemput kami.

Akhirnya kami semua berkumpul kembali. Mereka sedang sibuk memasak untuk sarapan. Dari pembicaraan tersebut, mereka sampai di suryakencana pada sore hari dan makan seadanya (karena 50% logistik ada di gue dan Bang Wawin #duh #feelsosorry). Untungnya beberapa ada yang membawa logistik pribadi masing-masing.

~ 12:15 WIB ~

ZOOOONNNKKKKK

Kami kembali telat jalan. Di itinerary, seharusnya kami mulai jalan muncak jam 8 pagi dan sampai di atas jam 9. Apa daya, kami baru jalan menuju puncak jam 10 lewat. Perjalanan ke atas tak kalah melelahkan. Entah sudah berapa liter air yang diminum, dan berapa bungkus madu rasa yang dilahap. Kaki gue pun mulai merasakan sakit lagi.

Jam 12 lewat, akhirnya gue sampai di puncak. Beberapa teman sudah ada yang sampai duluan. Setelah sampai puncak gunung gede, yang gue rasakan adalah:

ZOOOONNNKKKKKK

Kabut putih menyelimuti puncak. Jangan harap melihat view Gunung Pangrango dari kejauhan. Tugu puncak gede pun banyak yang ngantri untuk foto. Awalnya gue, Eha dan Yani mau berfoto disana tapi urung setelah melihat panjangnya antrian. Dan kami akhirnya hanya mengabadikan momen di papan penunjuk puncak yang kebetulan sepi peminat selfie.

“Duh, PR banget sih ini kalau mesti kesini lagi karena gagal lihat sunrise atau view Gunung Pangrango,” batin gue.

Kami harus segera turun, karena kami akan melewati jalur Cibodas yang puannnjaaaanngggg itu. Perkiraan, kami akan mencapai basecamp jam 9 malam. Bang Wawin bahkan sudah mewanti-wanti agar menyiapkan “dengkul” karena jalur cibodas berbatu-batu. Ditambah kami akan beristirahat sejenak di Kandang Badak untuk makan siang.

***

Rasa sakit itu mendera, menghujami lutut dengan nyeri..

Rasa sakit itu menyergap, meliliti paha dengan perih..

Langkah kaki mulai melamban..

Ayunannya melambat perlahan-lahan..

Sesungguhnya, ia sudah tak mampu berjalan..

Namun, ia mencoba untuk terus bertahan..

Minggu, 26 Agustus 2018

~ 14:52 WIB ~

“Mih… kaki aku mulai sakit,” kata gue dengan lirih.

“Kaki kiri, lutut dan dengkulnya udah kena. Ditekuk sedikit nggak bisa. Paha kanan juga mulai sakit.”

Kami baru saja meneruskan perjalanan setelah makan siang di kandang badak. Mereka yang bergerak “lebih cepat” memutuskan untuk berjalan lebih dulu. Alasannya ingin mengejar kereta menuju Jakarta, karena besok sudah harus masuk kerja. Di kandang badak kamipun berpamitan.

Tim “lelet” sepertinya berada tak jauh di depan kami. Gue berjalan sama Mami, sementara Bang Wawin jalan belakangan sebagai sweeper. Dari kandang badak menuju kandang batu, disitulah gue mulai mengalami cedera.

“Ya sudah, kamu duduk dulu aja istirahat. Olesin krim dulu kakinya,” kata Mami memberi saran.

Kecepatan gue sepertinya sudah sangat lambat. Mungkin 100m/jam (kebayang kan betapa leletnya). Kaki ini sudah terhuyung-huyung. Bahkan berdiri saja udah gak sanggup. Sambil berjalan, Mami mengatakan bahwa keseimbangan gue sudah nggak ada. Bang Wawin bahkan langsung menyusul kami dengan cepat dan harus membackup gue lagi dan lagi #mysigh.

Jalur masih panjang dan berbatu-batu. Tiap kali gue turun rasa sakit itu selalu mendera. Dengkul kiri gua yang paling fatal karena selama nanjak kemarin terus diforsir. Sepertinya ia ingin berteriak dan menyuruh istirahat. Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki, merekapun bertanya mengenai kondisi kaki gue.

P_20180826_150144_vHDR_On

Musuh gue saat ini ada tiga: kaki yang mulai capek dan lelah, pundak yang pegal karena menggendong keril, dan perut yang terus berbunyi dan melilit ingin menumpahkan sisa-sisa isinya. Tak ayal, mereka bertigalah yang membuat kaki gue mulai goyah dan tak mampu lagi berjalan.

“Mau dibawain nggak tasnya? Biar kamu jalannya nggak berat,” ujar Bang Wawin menawarkan bantuan.

“Nggak bang. Ini masalahnya di kaki, bukan di pundak,” tolak gue. Namun setelah berpuluh-puluh meter akhirnya gue nyerah juga dan merelakan tas keril itu berpindah pundak.

Entah berapa kali gue duduk untuk istirahat. Padahal keril gue sudah dibawa oleh Bang Wawin. Gue berjalan hanya bermodal kaki dan tracking pole. Terlihat Mami dan Bang Wawin bisa berjalan dengan normal, namun mereka tidak tega meninggalkan gue berjalan sendirian.

~ 17:49 WIB ~

“Ayok, kalau bisa kita jangan sampai ke pos air panas sebelum maghrib,” seru Bang Wawin.

Setelah perjalanan yang melelahkan (bagi gue), akhirnya kami mencapai shelter air panas. Bang Wawin bahkan sudah berendam. Mami menyarankan gue untuk merendam kaki di air yang hangat ini. Sambil membasuh muka, rasanya segar sekali karena badan sudah 2 hari nggak mandi.

Kurang lebih 15 menit, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami melewati air terjun nan panas dengan jurang menganga di kirinya (meski sudah diberi pembatas tali). Btw sejak dari kandang badak gue sudah berganti alas dan menggunakan sendal gunung, meski masih memakai kaus kaki.

Sebelum melewati air panas, Bang Wawin sudah mewanti-wanti apakah gue yakin hanya memakai sendal saja.
Benar saja, melewati jalur air panas cukup sulit. Kami harus berpijak di atas bebatuan, ditambah dengan langkah gue yang terhuyung-huyung.

Sempat satu kali kali gue terpeleset dan kaki kiri masuk ke dalam air dan rasanya:

“AAANNJRRRRIIIITTTT…!!! PPPUUAANNAASSS BBAAANGGEETTT..!!”

Air terjun di sebelah kanan kami memang mengalir deras, mengeluarkan uap asap. Airnya benar-benar mendidih (kaki gue udah ngerasain sob), dan saat berjalan mereka menjadi “musuh” keempat gue. Apalagi kalau bukan masalah “embun” bagi orang berkacamata yang mengaburkan pandangannnya.

“Sabar yah. Kacamataku berembun,” seru gue.

Gue berjalan paling depan. Mami dan Bang Wawin di belakang. Gue berpegangan pada tali, sesekali melepas kacamata meski bayangannya sangat kabur. Yang penting bisa melangkah. Akhirnya kami melewati pos air panas, dan… perjalanan kembali dilanjutkan ke jalur berbatu-batu.

~ 20:05 WIB ~

“Tuhan Yesus… tolong aku… beri kekuatan pada kaki ini untuk terus melangkah..”

Entah berapa kali gue mengucapkan doa ini dalam hati ketika berhenti. Rasa sakit dan menderita memang membuat orang mengingat Tuhannya dengan cepat. Ketika lagi senang dan happy, boro-boro mereka mengingat Tuhan #begitulahmanusia. Dan saat ini, entah kenapa gue berdoa dengan sungguh-sungguh. I’m struggling in pain!

“Kira-kira kalau istirahat tiga jam bisa nggak kaki kamu fit lagi, terus kita baru jalan,” kata Bang Wawin.

“Semua ini tergantung kamu, Den. Kamu mau istirahat atau lanjut jalan,” kata Mami.

“Kalau jalan kayak gini terus, mungkin jam 5 pagi kita baru nyampe basecamp. Apa bedanya kalau kamu istirahat tiga jam, terus lanjut jalan. Sampenya sama-sama juga,” Bang Wawin melanjutkan.

“Dia mah bukan mau istirahat, maunya tidur,” ujar Mami terkekeh-kekeh.

Kaki gue sudah benar-benar melampaui batasnya. Perjalanan turun ternyata lebih menyiksa daripada naik. Honestly, kaki gue sudah cedera cukup parah. Rasa sakit, nafas tersengal dan dinginnya malam semakin menambah perih perjalanan turun ini.

Kala berpapasan dengan pendaki yang turun, Bang Wawin menitip pesan untuk memberitahu petugas di basecamp bahwa ada pendaki yang cedera dan butuh evakuasi. Yeah, rasanya gue memang sudah nggak sanggup melewati perjalanan ini.

Setelah berjalan dan waktu menunjukkan jam sembilan malam, kami sampai di Pos Batu Kukus 1. Gue pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Menggelar matras dan sleeping bag, gue mencoba untuk tidur.

Kaki ini benar-benar lemas dan sudah tak bisa bergerak lagi. Semoga setelah bangun, ia sudah fit dan bisa dipakai untuk berjalan.

***

Suara itu terdengar samar-samar..

Terdengar percekcokan di antara dua mata nanar..

Wanita tua merujuk agar si pria berhenti dari sadar..

Sementara si pria terdiam dan mencoba untuk sabar..

Wanita tua memintanya untuk beristirahat..

Si pria tahu bahwa sesungguhnya ia tak bisa rehat..

Perlahan ia mencoba membangunkan pria lain yang sedang terlelap..

Namun ia tak akan terbangun di malam yang masih gelap..

Senin, 27 Agustus 2018

~ 03.04 WIB ~

Mungkin sekitar jam 12 malam lewat sedikit, gue terbangun karena “dicolek” oleh Bang Wawin. Terdengar suara Mami yang menyuruh Bang Wawin untuk tidur dan beristirahat namun dia tidak mau. Mami paham dan merasa kasihan pada Bang Wawin yang harus menjaga kami berdua. Dia pasti kelelahan dan butuh istirahat.

Sekitar jam tiga gue dibangunkan oleh Bang Wawin untuk pindah ke dalam tenda. Kami membangun tenda di dalam shelter. Tiga jam kemudian akhirnya gue bener-bener bangun. Bang Wawin memasak makanan dari logistik yang masih tersisa untuk sarapan kami.

Gue kembali mencoba bangun, berharap kaki ini kuat lagi, seperti ketika gue terbangun di Alun-alun Suryakencana Barat. Setelah membereskan tenda, gue mulai berjalan duluan. 10 menit pertama kaki ini terlihat normal, namun…. ternyata rasa sakit itu masih mendera. Tak jauh beda sebelum tidur, lutut kiri dan paha kanan masih terasa nyeri dan ngilu.

Bang Wawin sudah berinisiatif memasangkan dekker di lutut gue tapi sudah nggak mempan. Mami berjalan jauh di depan. Sesekali mereka berdua duduk dan nungguin gue. Kaki gue sudah tak sanggup melangkah, sejengkal demi sejengkal rasanya seperti ribuan kilometer. Ditambah jalur menurun, berbatu dan terjal. Nangis aja rasanya nggak bisa meski sebenarnya pengen.

“Duh, sorry ya bang.. gue jadi nyusahin gini,” kata gue ke Bang Wawin.

“Hahahaha.. selow aja. Dulu aku juga pernah cedera, lutut yang kena dan ditungguin sama teman juga,” kata Bang Wawin sambil bernostalgia. (Karena itulah sekarang dia menggunakan dekker)

“Mereka kira-kira udah sampe belum ya, atau pulang duluan,” kata gue, dan memang wajar kalau mereka pulang duluan dan meninggalkan kami bertiga.

“Aku belum dapet sinyal HP. Jadi belum dapet info. Kalau di basecamp mereka nggak ada, artinya sudah pulang duluan.”

***

Kenapa seseorang menangis..

Kapan seseorang harus meringis..

Saat lahir, kita semua menangis..

Ketika sakit, kita semua meringis..

Apakah rasa sakit ini membuatku menangis..

Akankah rasa nyeri ini membuatku meringis..

Sesungguhnya tidak..

Air mata ini sudah mengering..

Air mata ini sudah tak mengeluarkan lelehan hangat di pipi..

Air mata ini bahkan tak pernah mengalir lagi..

Karena terakhir kali air mata ini tumpah dua tahun silam..

Di atas peti mati seseorang yang yang dipanggil “ibu” olehnya..

Senin, 27 Agustus 2018

~ 09:21 WIB ~

“Nah ini dia, kamu masih ingat saya?”

Dari jauh gue dan Bang Wawin melihat dua orang pria menghampiri kami. Salah satunya adalah calo yang wajahnya gue ingat karena ia yang memberikan simaksi calo untuk Mami. Satunya lagi bapak-bapak berbadan gempal dan memakai topi.

“Kamu selamat, luar biasa,” kata si bapak calo sambil memeluk dan memberikan air minum.

Ternyata pesan kepada petugas di bawah sudah sampai. Sayangnya mereka tidak bisa bergerak karena hari sudah larut malam. Pagi-pagi mereka langsung mencari kami. Ternyata lima teman kami dari tim lelet belum pulang dan masih menunggu kami #warbiyasak. Dimas bahkan menghubungi petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk proses evakuasi.

Di Pos Panyancangan dekat air terjun, kami bertemu Mami dan satu petugas SAR lainnya. Kami bertiga bahkan sudah disiapkan nasi bungkus untuk sarapan. Tim SAR ternyata adalah warga sekitar yang bukan petugas resmi dari TNGGP. Mereka bekerja dengan rasa ikhlas demi membantu dan menolong sesama, meski hanya dengan imbalan “terima kasih”.

Bergantian mereka bertiga menggendong gue sampai ke bawah. Jalur cibodas memang benar-benar panjang. Kami pun melewati Telaga Biru, Jembatan Rawa Gayonggong, dll. Jalur ini memang banyak bonus dan pemandangan, tapi sangat panjang dan melelahkan.

Beberapa kali kami bertemu pendaki yang berpapasan yang melihat gue dengan tatapan bertanya-tanya.

“Dia habis patah, patah hatinya,” kata si bapak calo dengan terkekeh.

Ada sedikit kejadian konyol, setiap kali ganti digendong mereka selalu meminta difoto baik selfie atau groufie. Gue yang “sadar kamera” otomatis langsung memasang pose karena sadar mau dijepret #wkwk.

“Eh jangan begitu. Mukanya yang sedih, kayak orang lagi sakit,” kata salah satu di antara mereka.

“Aduh iya, maap lupa. Wkwkkw. Ngomong-ngomong nanti fotonya bisa dikirim ke saya nggak pak?”

“Tenang. Nanti dikirim,” jawab mereka.

Kamipun terus berjalan, sampai menuju pos pemeriksaan dimana gue dibawa oleh petugas untuk verifikasi dan pengecekan sebagai korban evakuasi. Huhuhuhu..

~11:43 WIB ~

Gue terduduk di Pos Mabes Jagawana atau lebih tepatnya kantor dimana para petugas TNGGP di jalur Cibodas bekerja dan berlalulalang. Bapak calo sudah mengingatkan agar gue menyebut jumlah rombongan kami 14 orang, sesuai simaksi online.

Disana gue diverifikasi apakah sebagai pendaki “resmi” atau bukan. Karena jika melewati calo, maka kami akan di-blacklist dari TNGGP dan tidak bisa nanjak Gunung Gede atau Pangrango lagi. Bang Wawin menginformasikan bahwa gua mengalami cedera ketika hendak turun ke Kandang Batu dari Kandang Badak.

Kami baru ditemukan oleh Tim SAR warga setempat dalam perjalanan menuju pos air terjun. Setelah itu gue menandatangani surat pernyataan evakuasi, lalu diberi pesan bahwa TNGGP selalu terbuka untuk menerima kami kembali, juga biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi tim pendaki.

“Ini naiknya dari Gunung Putri turun di Cibodas. Kalau teman-temannya nggak kuat, gak apa-apa turun Gunung Putri juga meski di simaksi tertulis turun di Cibodas.”

“Kalau bawa rombongan sampai belasan orang. Jangan lupa bawa HT, atau sewa porter saja.”

P_20180827_103036_vHDR_On

Begitulah pesan para petugas kepada kami. Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit, gue dan Bang Wawin dibonceng motor menuju basecamp dimana teman-teman kami sedang menunggu. Tak lupa, kami sedikit memberikan rasa “terima kasih” kepada Tim SAR yang sudah membantu turun.

Di basecamp, sudah ada Mami yang sedang duduk beristirahat, ditemani oleh Dimas, Kim, Dion, Susi dan Azizah yang menunggu dengan rasa cemas tetapi lega setelah bertemu kami semua. Luar biasa sekali solidaritas mereka yang masih menunggu kami turun dan tidak pulang duluan (Tujuh di antara kami sudah pulang lebih dulu).

Mereka juga berkoordinasi dengan teman-teman lain yang sudah pulang duluan lewat grup WhatsApp. Kak Eva dan Desy membantu koordinasi untuk masalah transportasi, Dimas yang menunggu di basecamp juga berkoordinasi dengan petugas dan Tim SAR.

Yeah, gue tahu mereka yang menunggu sudah berkorban waktu, tenaga dan materi, semoga Tuhan mengganti rejeki kalian berlimpah-limpah. Perjalanan akhirnya kami lanjutkan dengan menaiki angkot yang sudah kami sewa menuju Stasiun Bogor dan sempat mampir untuk makan siang di daerah Tajur.

Setelah sampai, kami berpisah satu sama lain. Dimana gue adalah orang terakhir yang rumahnya paling jauh. Perjalanan ke Gunung Gede akhirnya berakhir. Sebuah perjalanan penuh perjuangan dengan keringat, tetes peluh dan melawan rasa sakit, namun kami semua berhasil melaluinya.

Terima kasih Tuhan.

~ 16:12 WIB ~

Di kereta menuju Stasiun Duri, gue teringat kata-kata bapak calo yang mengomentari cedera gue.

“Mungkin sekarang kamu ngerasa kapok. Tapi lihat tiga bulan, atau satu bulan lagi deh. Nih kaki pasti gatel pengen nanjak lagi.”

Sambil tersenyum, gue hanya bisa berujar dalam hati.

“Jangankan tiga bulan pak, tiga hari lagi aja gue mau nanjak ke Semeru.”

Memang benar. Dalam perjalanan gue suka mikir ‘ngapain ya capek-capek naik gunung, bawa tas berat-berat. Mending di rumah tidur dan nonton tv’.

Tapi, kalau nggak naik gunung gue nggak akan tahu batas kemampuan gue, gue nggak akan ngalamin momen tak terlupakan seperti “peristiwa” ini, dan gue juga gak bakal lihat pemandangan indah dari puncak gunung yang membayar semua rasa lelah dan capek itu.

Setiap perjalanan memang memiliki cerita tersendiri. Bertemu teman-teman baru, merasakan pengalaman berbeda dan menciptakan kenangan bersama. Nikmati, jalani dan syukuri semuanya itu.

***

Jejak langkah..

Sudah sejauh manakah engkau melangkah..

Ingatlah, selalu ada jalan baru di tiap langkah..

Dan kau bisa melewatinya selangkah demi selangkah..

Deru nafas..

Aturlah setiap udara dalam helaian nafas..

Meski tersengal-sengal kau harus terus mengatur nafas..

Kau masih harus berjuang dalam setiap hembusan nafas..

Sakit mendera..

Apakah nyeri itu membuatmu menderita..

Mungkinkah lelah itu membuatmu menyerah..

Sudikah kau tunduk pada perih dan mengaku kalah..

Teruslah berjalan..

Teruslah berjuang..

Sakit ini bukan untuk membuatmu menyerah..

Sakit ini bukan memaksamu mengaku kalah..

Sakit ini justru akan semakin menguatkanmu..

Bahwa masih ada banyak kesempatan untukmu..

Kesempatan menjejaki tempat-tempat indah lewat kedua kakimu..

Teruslah berjalan kawan..

Semoga suatu hari kita berpapasan..

***

N.B : Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya dan setulusnya kepada teman-teman Backpacker Rutok (BPR) yang menyertai selama perjalanan. Juga untuk Tim SAR dari warga sekitar yang sudah membantu evakuasi. Tuhan memberkati kalian semua.

Advertisements

63 thoughts on “Jejak Langkah, Deru Nafas dan Sakit Mendera

  1. I think i spent more than 10 minutes reading this post. Cerita naik gunung terenak dibaca so far, gw sampe bolak-balik atas bawah buat cek catatan waktunya… Hahaha… Salut buat Mami yang tough banget menaklukkan Gunung Gede.

    Like

  2. Seru dan detail sekali tulisannya. Kok jadi ikutan ngerasa capek, kaki panas, ngantuk dan lain lain.
    Btw mba Siti atau si mami hebat juga ya…jadi semangat lagi nih utk hikking..eh

    Like

    1. Treking tak memandang usia. Jangan takut untuk treking lagi Mbak Ifa.. 🤗

      Kemarin di semeru aku malah lihat bapak² umur 60-an yg masih kuat nanjak.. 👏🏻👏🏻

      Like

  3. Baca ini, apalagi kenal banget dengan lokasi membuat saya seolah ada di sana, ikut ngos-ngosan bareng. Selama ini ke Gede selalu lewat Cibodas turun di Putri, tapi baca kisah ini jadi pengen jajal lewat Putri turun Cibodas. Btw, Den gue pernah ngalamin horor story di Shelter Rawa Denok 2

    Liked by 1 person

    1. Biasanya sih orang² naik dari gunung putri, turun di cibodas. Alasannya kalau di cibodas banyak sumber mata air, sementara kalau di gunung putri bener² gersang, palingan dari sumber mata air di surken pas sampe atas..

      Wah, kali² boleh nih ceritain kisah horornya pas nanjak ke Gede.. 😏😏

      Like

  4. Bang Den, saya deg deg kan baca saat cedera sampai di evakuasi. Tapi jangan kapok untuk nanjak2 ya Bang. Masih banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik. Next lebih persiapan ya Bang. Over that saya suka kok cara penuturan Bang Den di tulisan ini, catatan personal banget…keren puisi, narasi dan foto2 nya

    Like

    1. Nggak kapok nanjak koq teh, kan abis itu langsung ke Semeru. 🤣🤣

      Anyway di antara gunung lain, malahan ke Gede ini aku bener² nyiapin fisik, ternyata malah cedera. 😭😭

      Mungkin next harus lebih matang lagi persiapannya.

      Like

  5. Aku merasa terhipnotis baca ceritamu Den…perjuangan naik gunung yang mengharukan sekaligus sangat menyemangati. Tidak lantas menciutkan keingingan naik gunung yang tak pernah terlaksana ini hehhe. Lebay yak.. Selamat Deny, kamu sudah menaklukkan dan meraih ‘batasmu’ sendiri..

    Liked by 1 person

    1. Tengkyu pasangan duet Dewi² ku 🤪🤪🤭

      Sok lah dicoba naik gunung biar ngerasain gimana perjuangan melawan rasa sakit, sampai akhirnya kita berteman dengan rasa sakit itu.. 😊

      Like

  6. Ntah ini tulisan berapa kata, yang pasti panjang banget tapi nggak bosen dibaca. Baca ini berasa ikut naik gunung juga, kebayang capeknya jalan nggak sampe-sampe haha
    Btw di atas ada tanggal 25 September 2018, salah liat nggak sih gue?

    Salut banget den abis cidera gitu langsung nanjak lagi ke semeru, ditunggu cerita Semeru-nya.

    Like

    1. 25 Agustus, udah dibenerin tin. Wkwkwkkw

      Karena kepalang tanggung dan schedule ke semeru emang mepet. Untung cederanya udah agak sembuh pas berangkat kesana. Hahhaha

      Like

  7. Next kalo mau nanjak, 1 / 2 bulan sebelumnya lo harus rajin² olahraha Den buat meminimalisir cidera, ampe deg²kan gw bacanya wkwkkw. Tapi gue salut sama si cp yang kesabarannya tingkat tinggi.

    Like

    1. Ini 2 minggu sebelum nanjak udah olahraga lho. Bahkan jarak 2 km gw jabanin jalan kaki biar fisik kuat. 🙄🙄🙄

      Tapi ternyata emang badan gw aja yg nggak sanggup. Atau mungkin karena gw ngremehin karna mikirnya Gede itu treknya gampang. 😢😢

      Like

  8. Saya pernah ngalami kelebihan “muatan” waktu ke Semeru dan rasanya luar biasa menderita. Buat satu langkah saja sudah berat banget.
    Hikmah dari hal tersebut, pembagian logistik dan peralatan pendakian harusnya merata.

    Untuk para petugas SAR, saya selalu respek sama mereka, entah itu petugas resmi maupun dari warga sekitar. Mereka selalu siap membantu jika ada sesuatu hal dalam pendakian.

    Like

    1. Aku pertama kali nanjak (ke Prau) juga ngalamin kelebihan “muatan”. Bahkan lebih parah dan berat daripada ke Papandayan atau Gede kemaren. 😅😅

      Selain petugas SAR saya juga salut sama porter yang bisa ngangkat banyak keril + logistik sekaligus. Apalagi mereka cuman pake kaos sama sendal jepit. Luar biasa! 👏🏻👏🏻👏🏻

      Like

  9. Kak Den, syukurlah engkau selamat! Bahkan beberapa hari lalu, kusempat melihat IG Story mu yang sedang menuju ke Malang *wink*

    Jangan kapok naik gunung ya, Kak. Salut banget dengan perjuangan Kakak trekking all the way Putri dan Cibodas. Lebih-lebih lagi, salut banget dengan artikel yang detil dan personal, tapi nggak ngebosenin. Gaya bahasanya kasual, tetapi dituliskan dengan rapi dan apik. Four Thumbs Up!

    http://www.CeritaMaria.com

    Like

    1. Tengkyu Mbak Maria..

      Ke Malang itu emang abis peristiwa “evakuasi” di gunung gede ini. 🤣🤣

      Nggak kapok koq. Malah uda planning buat naik 2 gunung lagi, at least buat tahun ini. 🤭🤭

      Like

    1. 🤣🤣🤣

      Kuncinya cuma satu, jadilah “diri sendiri” saat menulis, jangan mencoba jadi orang lain..

      Goresan tinta itu akan menjadi karaktermu dan menjadi branding kuat yang akan terus diingat pembaca..

      Like

  10. Panjang banget ceritanya, detail banget. Jadi inget pas nanjak gede lagi musim hujan. Naik via cibodas turun via puteri. Bahu cidera, paha cidera.
    Alhamdulillah selamat ya Mas Sampai balik lagi ke Jakarta. Kapok ga naik gunung?

    Like

    1. Naiknya lewat cibodas aja. Jalur yang panjang dan nyiksa.. 🤭🤭🤭
      Kalau gk bisa sampe atas lumayan bisa ke telaga biru dan air terjun cibeureum..

      Like

  11. Seru amat ini gua bacanya. Kebawa gua sama kalimat-kalimatnya. Tulisan ini buat gua inget dulu waktu gua nanjak Prau, dan sedikit cidera. Prau aja udah cidera apalagi Gn. Gede yak wkwkw

    Yang bikin ngekek bagian ini nih, “Bang Wawin sebagai CP sungguh penyabar, bahkan memberi semangat meski sejujurnya gue udah muak mendengar kalimat semangat penuh PHP itu.” 🤭

    Like

    1. Hahhaha.. Kalo naik gunung pasti sering dengerlah kalimat semangat penuh PHP dari pendaki yang berpapasan..

      Awal² kita dengernya masih ketawa². Tapi kalo uda capek rasanya pengen muntah karena kita butuh kepastian, bukan kepalsuan.. 🤢🤢🤮

      Like

  12. Asli bacanya berasa ikut ngos-ngosan, kaki letih apalagi pernah bermasalah dengan pangkal paha kanan, pundak yang juga lelah kelebihan muatan, ditambah jalur Gunung Putri yang memang sadis. Keren banget nih Bang Den penuturan di tulisan ini!

    Btw, syukurlah yak bisa pulang dengan semangat dan malah nggak kapok naik gunung 😂

    Like

  13. gw belom pernah naik gunung den, tapi baca perjuanganmu, walaupun paha kanan pernah patah, itu wow banget. Gw aja yg cedera lutut ngga berani aktivitas fisik yg berat. Salut deh!

    Like

    1. Justru karena kaki bekas patah inilah yg bikin gue pengen nanjak mulu..
      Biar melatih dan mencaritahu dimana batas “kemampuan”-nya. Akhirnya Gunung Gede yang ngasih tahu dimana batas itu.. 😥😥😥

      Like

    1. Tengkyu Mbak Pena 🤭🤭🤭

      Masih belajar bikin puisi koq. Sengaja cerita ini aku selipin beberapa bait puisi biar tambah dramatis. Wkwk

      Like

  14. Ya ampun kaki pernah patah, masih ajah ya k Den naik gunung?!!

    Saya pernah jatoh dr motor, cuma trauma kaki, dan kalau kaki sudah keserang tuhh rasanyaaa…

    Like

    1. Waduh, semenjak kaki patah malah gak keitung udah jatuh dari motor berapa kali..

      Pas nanjak/turun gunung aku juga beberapa kali jatuh. Tapi kuanggap itu sebagai “work out” di alam bebas. 😆😂😍

      Like

    1. Bang Wawin uda berkorban banyak banget.. 😅😅
      Malah bulan ini dia mau bawa trip ke Gede lagi naik dari cibodas. Tapi setelah kejadian gue dia malah jadi ragu² karena katanya yg ikut rata² pemula.. 🤣🤣🤣

      Like

  15. Whaaaat? itu digendong beneran sampai bawah? Kocak amat sih. Hahaha… Padahal jalur turunnya kan asik ya. Malah ada bonus air panasnya segala di bawah. Seru banget perjalanan ke Gn. Gede.

    Like

    1. Digendong dari pos panyancangan sampe pos mabes di bawah. Sekitar 2 jam lah digendong. Tapi kadang aku juga minta turun dan jalan sendiri buat lemesin otot.. 😁

      Like

  16. Aku salut sama Mba Siti dan si Mami. Aku yg masih muda dan berat badan normal aja belum pernah naik gunung. Bukan enggak ada temennya. Tp engga dibolehin orang tua. Aku mesti gimana dong Bang Den? :’)

    Like

    1. Kalau memang gak dibolehin ya jangan dipaksa. Takutnya kualat dan kenapa²..

      Aku punya teman yg dibolehin nanjak, tapi dilarang ama ortunya untuk naik gunung tertentu. Kurang paham apa alasannya, tapi anaknya nurut² aja. Haha..

      Like

  17. Wkwkwk.. Yg paling gw inget dari cerita ini malah pas lg di gendong mau di foto.. Trus sadar kamera.. Wkwkwk.. Tetepp yaa.. Narsisnya bawaan orok.. Hehe..

    Jalur dari Gn. Putri ada yg naik tebing akar pohon kan ya..
    Sebelum naik.. Ane sempet drop disitu dan minta di tinggal..
    Tiba2.. Setelah ngucapin itu.. Lsg disambut bau wangi dan ada yang berkelebat.. Lsg gw ralat ucapan gw.. Kalau gw mau pulang ke rumah dengan selamat.. Dari kejadian itu.. Ane selalu jadi yg paling depan.. Wkwkwk.. Ngacirrr..

    Wocee Kakak pendaki cantik.. Semoga lain waktu.. Bisa jalan bareng ama “Keong” yg satu ini.. See you.. Mmmuahh.. 😀

    Like

    1. Duh, gunung putri banyak koq tanjakan tebing yg terjal dari akar pohon.. 😅
      Kemarin untungnya gk ngalamin kejadian mistis atau semacemnya. Apa mungkin karena terlalu capek jadi bodo amat juga kalo ketemu atau ngerasain gituan. Hahahha..

      Sip, mbak evi. Kapan² kita pendaki cantik nanjak bareng ya. Wkwkwk..

      Like

  18. Panjang dan lengkap ceritanya. Sepanjang baca tulisannya saya bergumam dalam hati “I feel you”. Pendakian Gunung gede emang ngajarin banyak hal yaa dan pastinya di batas terendah kita pun kembali ingat Tuhan 🙂

    Like

  19. gw kok terharu ya den bacanya, keren lah bang wawinnya. loh.

    beruntung ya lo naik sm mereka, salut. dan buat lo, angkat topi sm semangat lo

    Like

    1. Makasih Mbak Titi.. 🤗🤗
      Gue pun merasa salut sama Bang Wawin a.k.a CP nanjak ke Gede ini. Totalitas dan tanggung jawab patut diacungi jempol.. 👍🏼

      Like

    1. Sediain “me time” buat nulis mbak. Tapi sebelum ditulis, inspirasinya sudah ada di kepala, jadi hanya tinggal menuangkan apa yg ada di dalam otak. Hehhehe..

      Btw thx sudah mampir.. 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s