Para Pendaki Manja

PROLOG

“Yah, papandayan mah gunung anak-anak.”

“Papandayan?! Itu mah gunung manja, tiap berhenti selalu ada toilet.”

Begitulah testimoni dari beberapa orang ketika gue menyebut Gunung Papandayan. Saat itu, kira-kira setahun yang lalu, gue belum tertarik untuk naik gunung meski rasa kepengen itu ada. Entah kapan, pokoknya suatu hari nanti. Gue hanya bilang, kalau nanti ada kesempatan dan niat buat nanjak, Papandayan akan menjadi yang pertama karena katanya cocok buat pemula.

Sejak awal 2018, gue sudah membuat resolusi bahwa tahun ini harus mendaki gunung, sebelum umur mencapai kepala tiga (which is berjarak tiga tahun lagi). Puji Tuhan, di usia 27 akhirnya gue merasakan pengalaman pertama mendaki gunung (ketuaan yak, wkwkwk) dan bagaimana akhirnya gue berhasil keluar dari zona nyaman.

Jujur saja, ada beberapa alasan mengapa gue enggan naik gunung. Masalah kenyamanan saat tidur dan sanitasi menjadi alasan utama, ditambah gue nggak yakin apakah secara fisik sanggup untuk nanjak. Namun salah satu alasan mendaki gunung adalah untuk keluar dari zona nyaman dan melawan rasa takut, bukan begitu?

Back to topic. Setelah membuat resolusi untuk mendaki gunung, ternyata Papandayan bukan menjadi gunung pertama yang gue daki. Tuhan mengizinkan gue untuk melihat keindahan dan kemegahan Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu dari kejauhan di puncak Gunung Prau terlebih dahulu.

IMG20180728104848

Akan tetapi keinginan untuk menapaki gunung yang terkenal di Garut itu masih ada dan di kesempatan berikutnya gue harus nanjak kesana. Karena Papandayan sudah masuk ke dalam bucket list tahun ini.

CHAPTER 1: “Bukan Wacana Forever”

Rencana untuk nanjak ke Papandayan terjadi pada Juni silam. Di WhatsApp Group komunitas Klub Buku & Blogger (KUBBU) terjadi percakapan menarik. Babang Eka, salah satu admin berkata bahwa dia berencana untuk camping di Papandayan “dengan atau tanpa siapapun”.

Pernyataannya ditanggapi oleh beberapa orang, seperti Titi dan Leni yang tiap tahun selalu ke Papandayan, lalu Kalena si suhu gunung juga ikut nimbrung. Merekapun ngomong ngalor ngidul, mulai dari cerita pengalaman masing-masing sampai rencana untuk kesana lagi.

Setelah manjat dan baca chat tersebut, akhirnya gue gatal untuk menanggapi.

“Jadi…. rencana ke papandayan ini mau direalisasikan atau sekedar wacana???”

Pertanyaan ini lalu ditanggapi dengan planning untuk kesana, menentukan hari baik, dll (meski sebenarnya ini masih berupa wacana). Btw, gue agak sedikit ngebet karena kebetulan rencana untuk nanjak ke Gede batal, jadi butuh trip pengganti. Hahahhaha.

Titik terang terjadi ketika Babang akhirnya bersabda:

“Langsung dibikin grupnya aja Den. Nanti kamu yang bawa kesana.”

Tak lama kemudian, Mas Achi which is admin satunya lagi tiba-tiba japri gue dan minta ikut jika jadi ke Papandayan (katanya pengen ngerasain naik gunung karena belum pernah #wkwk).

Mendapat persetujuan dari admin dan dipercaya sebagai CP, akhirnya rencana untuk nanjak ke Papandayan bukan wacana forever #Yeayyy. Grup trip dibuat, woro-woro dishare guna mencari peserta. Saat itu dibatasi hanya 15 peserta saja. Kami juga mulai membagi perlengkapan dan logistik selama pendakian.

Drama mulai terjadi beberapa hari kemudian. Pertama, Mbak Nanisa tiba-tiba menshare job di grup yang mana waktunya sedikit bentrok dengan hari H pendakian. Beberapa orang yang ikut ke Papandayan ada yang tertarik untuk ikut meski sebagai CP gue sudah mewanti-wanti. Ternyata acaranya Jumat sore, dan kami berangkat Jumat malam (dan gue malah ikutan jobnya juga, pe’a kan CP-nya #wkwkwk).

Kedua, sama seperti drama-drama trip umumnya. Meski sudah direncanakan sebulan sebelumnya tiba-tiba ada aja peserta yang cancel dan batal ikut dengan berbagai alasan. Well, sempat mikir karena trip ini nggak nagih DP sharecost (karena kami pergi ngeteng, dan sharecost juga on the spot) jadinya kalau cancel mereka juga nggak rugi #hhhuufffttt.

Meski begitu, kami mencoba mencari peserta lain, bahkan di luar KUBBU (karena awalnya trip ini memang hanya untuk member KUBBU). Achmadi mengajak dua temannya, Titi dan Leni mengajak Siska yang katanya mau ikut tapi sempat masuk waiting list. Gue sendiri akhirnya mengajak Pingkan ikut serta ke dalam trip ini. (gimana ceritanya kenapa gue bisa ngajak Pingkan, bisa dibaca di “Balada Batal Piknik)

Ketiga, honestly gue merasakan perbedaan antara jadi CP trip gunung sama CP trip jalan-jalan cantik/city tour. Jadi CP trip gunung memang benar-benar menguji mental dan kesabaran, especially buat gue yang orangnya emosional.

Contoh kecilnya waktu pembagian perlengkapan. Beberapa orang ikut ngelist perlengkapan apa yang dibawa olehnya, namun ada aja yang kagak ngelist, even untuk barang kecil sekalipun (terutama orang-orang di luar KUBBU yang akhirnya malah batal ikut. Kalian sungguh kampreeettsss).

Selain itu masih ada momen-momen menguji kesabaran lainnya yang nggak bisa gue jabarin satu per satu karena kalian bisa bosen atau mungkin emosi bacanya #wkwk. But the show must go on, setelah mengurus ini itu akhirnya sampai juga hari H dimana kami akan memulai petualangan kali ini.

CHAPTER 2: “Balada Keberangkatan”

Oke! Gue, Bang Eka dan Mas Achi akhirnya terpilih untuk ikut job dari Mbak Nanisa yang dihelat di Universitas Indonesia, Depok. Acara ini adalah konser musik tribut untuk Koes Plus dan Panbers yang dibawakan oleh The Professor Band (grup band yang semua anggotanya bergelar profesor).

Rencana awalnya kami ingin ke skretariat BPJ di Cawang terlebih dahulu untuk menitipkan carrier, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Depok via commuter line. Literary begitulah rencana awal kami. Namun karena ribet, akhirnya gue dan Mas Achi memutuskan untuk berangkat langsung, which is kita akan membawa keril segede kulkas dua pintu ke UI. You know lah, meski hard tapi kita tetap menjalaninya karena it is a simple choice #bacotalaanakjaksel #lol.

Bang Eka bilang dia akan jalan duluan. Jadilah gue dan Mas Achi janjian ketemu di Stasiun Tanah Abang. Sekedar info, kami datang kesana diwajibkan berpakaian batik, tapi gue berangkat dengan atribut pendakian, memakai jaket gunung, sepatu gunung dan topi. Niatnya pas nyampe gue baru ganti kostum. Malah tadinya kepikiran mau bawa pantofel, tapi karena berat, sebodo deh pake sepatu gunung aja #wkkwkw.

Akhirnya gue ketemu Mas Achi yang pake batik + bawa keril segede gaban. Ada momen lucu ketika kami menyusuri jalur stasiun di keramaian, setelah Mas Achi lewat ada 2-3 orang cewek yang melihat style Mas Achi sambil terpelongo.

“Eh lihat deh, itu orang pake batik tapi bawa-bawa keril,” kata salah satu cewek.

“Mungkin abis itu dia mau nanjak kali,” kata temannya menanggapi.

“Misi mbak,” tiba-tiba gue, dengan style anak gunung abiz, menimpali dan numpang lewat sambil ketawa geli dalam hati.

Anyway, konser musik tersebut dihelat di Auditorium Makara Art Center, Kampus UI Depok, jam 16:00 – 18.00 WIB. Kami berhenti di Stasiun Pondok Cina karena literary lebih dekat dan kami not much walking too far #apasih #wkwk. Sampai stasiun pocin, gue dan Mas achi bertemu dengan Robit dan Akmal, anak Blogjak a.k.a Blogger Jakarta, yang juga ikut acara ini (ternyata kita naik satu kereta yang sama).

Akhirnya kami menuju Makara Auditorium yang labih mirip rumah kaca kalau dari luar. Momen geblek berikutnya terjadi ketika kami masuk ke gedung. Apalagi kalau bukan karena style gue yang nggak nyambung abis. Untunglah gue masuknya rame-rame, bukan sendirian (kayaknya bakal diusir kalau nylonong dewekan #wkwk).

Beberapa mahasiswa menyambut kami di pintu masuk, lalu melihat gue dengan tampang melongo. Mas Achi masih mending karena walaupun bawa keril dia masih pake batik, nah gue???

Mungkin saja mereka sebenarnya ingin menegor.

“Maaf mas, salah masuk. Ini auditorium musik, mapala di sebelah sana.”

#wkwkkwkwkwk

Finally, kami masuk ruangan konser lalu bertemu Mbak Nanisa dan teman-teman blogger lain. Tak lupa, gue langsung naroh keril dan ganti kostum secepatnya sebelum mereka berpikir gue orang yang nyasar masuk kemari.

Singkat kata, kami menikmati konser musik dan bernostalgia dengan tembang lawas Koes Plus dan Panbers. Sebelum pulang kami diberi amplop berisi fee karena setelah ini kami harus mengulas acara tersebut di blog. Lumayan, feenya bisa buat nambah jajan dan bayar simaksi di Papandayan, hahhaha. (Reportase konser ini bisa kalian baca di “Bernostalgia Bersama Tembang Lawas Koes Plus dan Panbers)

Kembali ke topik utama. Di itinerary, kami berkumpul di pool bus Prima Jasa Cawang sebagai mepo atau meeting point pada jam 8 malam. Selesai acara di UI kami juga langsung menuju kesana (namun diselingi dengan makan bakso di dekat stasiun dulu #huufftt). Kamipun baru berangkat naik kereta jam tujuh lewat.

Pingkan sudah WA gue nanya soal mepo, jam berangkat, dll. Sementara Titi katanya baru berangkat setelah maghrib, naik kereta dari Serpong yang mana kemungkinan dia baru sampai Cawang jam setengah 10 malam. Lebih tsadeesstt, Mas Ristiyanto atau Mas Ris baru saja mendarat dari Medan dan langsung menuju pool bus.

Keberangkatan ini cukup dramatis karena selain terlambat dari waktu yang ditentukan (rencananya jam 9 kami sudah berangkat) ternyata Mas Ris juga belum sampai di mepo. Sementara kami yang sudah sampai langsung ngetag tempat duduk dan memasukkan keril ke bagasi bus.

Kampretnya, kenek bus “menakut-nakuti” dengan mengatakan bahwa ini bus terakhir menuju Garut (padahal pasti setelah ini masih ada bus-bus lainnya). Akhirnya kami semua memutuskan untuk masuk bus dulu sambil berharap-harap cemas kapan Mas Ris akan sampai.

IMG_1319

Drama berikutnya terjadi ketika Titi dan Leni sedang berdebat dengan kenek bus menanyakan dimana barang mereka. Jadi, saat menunggu kami menumpuk keril dan ketika hendak berangkat dan menuju bus, kami membawa semua barang-barang termasuk perintilannya (keril, tenda, tas kecil, dll).

Saat itu Leni bertanya dengan nada kesal ke abang kenek (kalau diinget-inget gue mau ketawa juga, muka si Leni histeris kepengen nangis #wkwkkw). Gue pun bertanya apa yang mereka cari.

“Totes bag gue Den, warna putih. Disitu ada baju dan barang-barang gue!!!” katanya dengan nada histeris. Nggak nyangka, Leni punya bakat juga jadi artis FTV.

“Ada di atas. Ayo naik aja,” kata gue.

Untung gue inget, karena pas bawa keril-keril gue sempat nanya ini totes bag siapa. Lalu disuruh bawa aja, karena itu pasti punya salah satu dari kami, terus gue bawa masuk ke dalam bus dan taroh di bangku buat ngetag tempat.

“Makanya neng, sebelum marah-marah nanya dulu ke temennya,” kata si abang kenek dengan emosi. Ok, case closed! #wkwk.

Kembali ke Bang Toyib alias Mas Ris yang masih belum nyampe-nyampe. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat. Perlahan bus mulai bergerak, lewat grup WA kami menyarankan Mas Ris untuk nyusul (jangan sampai batal, karena dia bawa bolu Meranti buat kami #lho).

IMG-20180730-WA0044

Mas Ris menitipkan motor di sekretariat BPJ, lalu menuju pool bus Cawang. Sambil teleponan dengan Babang untuk koordinasi, ketiga cewek halu (Titi, Leni, Siska) mulai menunjukkan gejala halusinasi lagi.

“Eh, ini bus kan ke arah sekret. Siapa tahu bisa ketemu Mas Ris,” kata Titi.

“Sebentar, ini kita mau ke arah sekret, coba lihat ada bus kami nggak. Kebetulan lagi macet, siapa tahu Mas Ris bisa naik,” Babang memberi arahan lewat telepon, bahkan sambil kasih tahu kenek untuk berhenti sebentar.

“Duh, iya ayok donk Mas Ris,” Leni mulai meracau dan kembali halu.

Ternyata eh ternyata, kami sebenarnya sudah melewati sekret. Babang yang ngeh kalau sekret sudah kelewat akhirnya menyarankan Mas Ris untuk menyusul saja dan tetap berkomunikasi. Trio Cewek Halu pun akhirnya terdiam #alhamdulilah.

Bus terus melaju. Kami berencana turun di Pom Bensin Ciateul dan meneruskan perjalanan ke basecamp Papandayan naik mobil Avanza yang sudah disewa dari jauh hari #uhukuhuk. Sekitar jam 3 subuh kami sampai di pom bensin, udara dingin benar-benar menyergap, tapi bonusnya kami bisa melihat fenomena gerhana bulan dengan mata telanjang di kota Garut (silakan gugling gerhana bulan tanggal 26-27 Juli 2018 silam).

IMG_1137

Kami menunggu Mas Ris yang ternyata berhentinya kelewat. Dia diturunkan di pom bensin berikutnya dan akhirnya naik ojek nyamperin kami. Kang Mbo, driver “GrabGarutCar” sudah stand by dan langsung membawa kami menuju Gunung Papandayan.

Kami juga mampir sebentar ke minimarket buat belanja logistik tambahan sambil menghangatkan badan. Lucu juga ya kalau dipikir-pikir, di Jakarta kita masuk ke Alfamart/Indomaret buat ngadem, disini kita masuk kesana malah biar nggak menggigil karena kedinginan.

Tim kami juga belum lengkap. Masih ada Lia, urang asgar alias asli Garut yang akan menyusul langsung kesana. Tak lupa, sebelum berangkat Kang Mbo memberitahu something ke gue sebagai CP trip ini.

CHAPTER 3: “Pendakian nan Melelahkan”

Kami berangkat menuju Papandayan. Dulu, yang mau kesana harus carter angkot dan naik mobil pick up. Sekarang, mobil pick up sudah dilarang naik. Jadilah kami naik Avanza yang nyaman #ehem.

“Ini jumlahnya berapa orang?” tanya Kang Mbo.

“Kita 14, tapi ada satu mau nyusul disana. Jadi sekarang cuma 13 kang,” jawab gue.

“Ya udah, nanti simaksinya dikasih bonus satu. Jadi bayar 12 orang aja. Di pos jangan lupa bilang, simaksinya 12 + bonus 1,” kata Kang Mbo yang gue tanggapi dengan mata berbinar-binar dan membentuk simbol dollar, eh maksudnya rupiah, wkwkwk.

Kurang lebih satu jam, kami sampai di gerbang loket dan membayar simaksi “istimewa” tersebut di pintu masuk. Kami diturunkan di Camp David atau titik awal pendakian dan disambut dengan udara yang sangat duuuwiinngiiinnn. Untunglah dekat sana ada perapian, beberapa dari kami mendekati api unggun untuk menghangatkan badan.

Bonusnya lagi, ternyata milkyway atau pijar bintang di langit saat itu benar-benar indah. Setelah melihat gerhana bulan dengan warnanya yang merah, kini kami melihat gugusan bintang yang pendarnya membuatku terpesona. Ah, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.

Tanpa menunggu lama, gue langsung melapor di pos registrasi untuk mengurus administrasi dimana petugas disana bertanya kami akan turun hari apa dan camping dimana (pondok saladah, ghober hoet, atau buperta) serta melapor kembali ke petugas pos camping ketika sampai dan hendak turun. Terakhir, kami harus melapor kesini lagi jika sudah kembali di bawah atau camp david.

Sambil menunggu Lia yang belum sampai, karena HP kami lost signal (kecuali pengguna TCASH, absolutely), kami mulai menyibukkan diri sambil menunggu pagi. Ada yang sholat subuh, ada yang mandi dan bersih-bersih, ada juga yang sarapan indomie.

Perlahan matahari mulai terbit di ufuk timur. Momen ini tak disia-siakan oleh kami dan pendaki lainnya. Sekarang ini sudah ada gardu pandang yang bisa digunakan untuk melihat dan mengabadikan sunrise. Kamipun menyaksikan sinar matahari pagi yang membasuh wajah sambil foto-foto.

After that, waktunya bersiap-siap untuk memulai pendakian. Lia bergabung setelah mencari-cari kami dan akhirnya ketemu. Kami mulai repacking dan membagi logistik. Sejatinya kami akan berangkat jam 06.30 pagi, tapi sampai jam 7 masalah pembagian logistik masih belum beres (logistik kami kebanyakan sob).

Ditambah, Leni dan Siska menghilang entah kemana sementara disana susah sinyal #Zzzz. Akhirnya mereka berdua muncul dengan alasan masih foto-foto #hadehhh. Pendakian baru dimulai jam delapan lewat (parah kan ngaretnya).

Setelah berdoa dan foto di depan gerbang, pendakian pun dimulai. Trek awal masih melewati jalan beraspal sedikit menanjak. Banyak motor berlalulalang yang ternyata itu adalah ojek carrier. Jadi pendaki manja yang nggak mau capek-capek bawa kerilnya bisa pake jasa mereka dan menurunkan keril di tempat mereka camping.

Disinilah yang gue “takutkan” mulai terjadi. Oke, sejujurnya seminggu lebih sebelum berangkat nanjak badan gue benar-benar sedang tidak fit, dan dua hari sebelum hari H baru agak mendingan (noted: agak “mendingan“, bukan sembuh). Jadi boro-boro deh olahraga sebelum nanjak, gue juga ragu apa bisa ke Papandayan apa nggak.

But, trip harus tetap berjalan. Apalagi gue adalah CP-nya. Jadi mau nggak mau harus tetep maksain diri buat berangkat. Ditambah di perjalanan menuju Garut, sejak naik bus disambung Avanza gue sama sekali belum “memejamkan” mata alias nggak bisa tidur. (FYI, yang lain nggak tahu kalau sebenernya gue nanjak ke Papandayan dengan kondisi kurang fit)

Walhasil, setelah beberapa langkah gua mulai sempoyongan. Beban di keril sangat berat, dan kejadian inilah yang menyadarkan gue kalau ternyata gue nggak sanggup bawa keril berat-berat. Beberapa kali gue membungkukkan badan, sementara teman-teman lain berjalan dengan santai duluan di depan.

Gue berhenti sambil sesekali minum air dan kenyot madu rasa. Sampai di jalur berbatu-batu, nafas gue kembali tersengal-sengal dan berhenti lagi di pos (entah pos apa bukan, bentuknya seperti gazebo). Saking capeknya, gue sampai halu. Cek jam, menunjukkan pukul setengah 11. Mungkin karena faktor kagak tidur, gue sampai lupa kalau ini masih pagi.

Mas Ris sebagai sweeper akhirnya menawarkan untuk membagi logistiknya, setelah melihat gue kepayahan.

“Udah sini mana logistiknya, dibagi aja ke saya.”

Akhirnya gue mengeluarkan beberapa logistik. Yang paling berat adalah botol air minum 1,5 liter dan minyak goreng 2 liter (pantes aja berat). Kebetulan carrier Mas Ris berukuran 80L dan logistik gue sebagian dioper kesana. Setelah membagi logistik, ternyata beban gue berkurang dan bisa nanjak dengan hati gembira #wkwk.

Tapiiii… saat gue nanjak dan nengok ke belakang, gue terkaget-kaget melihat Mas Ris yang nanjak pelan-pelan dengan keringat sebesar biji jagung menetes di wajahnya. Ternyata dia sudah kelebihan “muatan”. Ekspresi wajahnya mirip seperti suami yang stres gara-gara istrinya minta duit belanja dan anak minta uang jajan, sementara dia lagi bokek.

Melihat wajah Mas Ris yang penuh derita itu sebenarnya gue tega nggak tega juga. Apalagi itu karena sebagian “beban” gue sebelumnya diambil sama dia. Di tengah rasa bersalah itu tiba-tiba Titi dan Leni muncul sambil merogoh-rogoh keril yang bikin gue kaget.

“Sini Den, mana logistik lu. Gue yang bawa aja,” kata mereka.

“Eh.. eh.. jangan, logistik gue udah diambil Mas Ris. Kalau mau bantu dia aja tuh,” ujar gue sambil menunjuk Mas Ris yang melangkah dengan penuh derita dan beban berat #wkwk.

Ternyata yang lain sedang menunggu di pos. Mas Achi bahkan menyarankan agar keril gue dibawa sama ojek namun gue tolak karena bebannya sudah dibagi ke yang lain. Kami beristirahat sambil ngemil, sebagian sedang berfoto-foto. Perjalanan kemudian dilanjutkan.

Setelah sampai di pos yang ada warungnya (entah itu pos berapa, pokoknya dekat kawah), Kalena yang lupa-lupa ingat jalur bertanya pada penjaga warung dan petugas disana. Ternyata kami sampai di pertigaan jalur dan memutuskan untuk jalan menuju Ghober Hoet (yang ternyata lebih panjang dan memutar). Pulangnya baru lewat Hutan Mati.

Gue yang nggak paham jalan, ho’oh-ho’oh saja karena mereka lebih tahu dan sudah pernah kesini (CP sudah pasrah #wkwk). Perjalanan dilanjutkan melewati hutan, vegetasi, serta jalur berbatu-batu di tengah cuaca yang panas terik. Pendakian ini sungguh melelahkan, bahkan gue sempet mikir dan ngomong dalam hati.

“Katanya Papandayan cocok buat pemula. Koq ini jalannya panjang amat ya. Mana berbatu-batu dan nanjak pula.”

Sesekali gue berhenti untuk sekedar minum atau ngisep madu rasa. Ada momen ketika kami sedang beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba Leni nyeletuk.

“Dih den, lu pake lipstik ya? Bibir lu merah amat,” katanya.

“Eh iya, koq merah. Pake pelembab bibir ya?” Siska menimpali.

Terang aja gue menyangkal dibilang pake lipstik. Emangnya eike cowok apaan #wkwk. Entah apa yang membuat bibir gue merah, mungkin karena efek madu rasa dari rasa yang pernah ada #halah.

Perjalanan kembali kami lanjutkan melewati hutan-hutan. Setelah satu jam lebih sejak berjalan dari pertigaan jalur, akhirnya kami sampai juga di… ghober hoet. FYI, ghober hoet ini adalah salah satu area camping dan spot untuk melihat sunrise. Kami beristirahat sejenak sambil ngemil gorengan di warung.

Mas Achi, Kalena dan Probo sudah jalan duluan. Dari ghober hoet, sekitar 20 menit kami akan segera sampai Pondok Saladah, tempat kami ngecamp. Setelah bertemu yang lain, perjalanan kembali dilanjutkan (btw, pas lanjut jalan kaki gue tiba-tiba hampir kram disini #hadeh). And finally, setelah jalur berliku kami tiba di pondok saladah #yyiippppyyyy.

Tak lupa, gue melapor di pos setempat sambil membawa simaksi. Disinilah keplongoan terjadi.

“Kang. Ini kita lapor jumlah kita 14 orang.” (Sementara di simaksi tertulis 12+1)

Gue pun lupa meminta simaksi Lia yang datang menyusul. Petugas disana kembali bertanya jumlah kami.

“Eh, kita 13 atau 14 orang sih?”

“13 cuy,” kata Achmadi, yang bareng-bareng ke pos juga.

“Jadi ini 13 ya?” Si akang nanya lagi.

“Oh iya kang. 13 itu maksudnya 12 sama 1 bonus,” persetanlah dengan simaksi satu lagi, bilang aja begini dulu.

“Yang bener nih. Nanti ternyata ada yang nyempil satu,” tanyanya dengan nada bercanda.

“Nggak kang. Bener itu sesuai simaksi,” gue mencoba memahami situasi dan sedikit ngeles.

“Oke, nanti kalau mau turun jangan lupa ya lapor lagi,” katanya.

IMG_20180728_120835

Kami juga bertanya mengenai Omen atau fenomena babi hutan yang suka mengendus tenda pendaki. Namun petugas mengatakan kalau belakangan ini omen lagi jarang muncul. Mungkin lagi musim kawin #eh.

Setelah itu kami langsung menyusul teman-teman lain yang sedang mendirikan tenda, lalu mengeluarkan logistik untuk masak makan siang. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam tiga kurang. Titi dan Leni berencana ke Tegal Alun a.k.a padang edelweis yang terkenal di Papandayan itu.

“Berapa lama ya kesana?” tanya gue.

“Kira-kira satu jam, itupun lari kesananya,” jawab Leni.

Mendengar itu nafsu gue langsung hilang, kalau kesana cuma 10-15 menit gue jabanin deh. Jangan lupa, gue masih letih ditambah belum tidur semaleman.

“Kalau kalian kesana, nanti kesini lagi jam berapa?” tanya Babang.

“Jam setengah tujuh lah bang,” jawab Titi.

“Ya sudah, kalau memang mau, jalan dari sekarang. Biar nggak terlalu sore,” Babang mengizinkan.

Akhirnya tujuh dari kami berangkat kesana. Titi, Leni, Siska, Lia, Eva, Probo dan Achmadi langsung berangkat menuju Tegal Alun. Sisanya, gue, Bang Eka, Mas Achi, Mas Ris, Pingkan, Kalena dan Vivi memutuskan untuk beristirahat.

Gue mencoba untuk tidur, dan baru sadar ternyata tenda kami didirikan di tanah yang miring #tepokjidat. Gebleknya, gue juga salah posisi dimana kepala gue direbahkan di tanah yang menurun. Tapi bodo amatlah, hayati lelah dan butuh istirahat. Sungguh pendakian nan melelahkan.

CHAPTER 4: “Malam Panjang”

Sekitar satu jam setelah bobok cantique, akhirnya gue benar-benar terbangun dengan rasa pening karena selama tidur kepala gue kaya mau jatuh ke bawah. Ditambah kedua bahu atau pundak terasa sangat nyeri. Efek membawa keril yang berat baru terasa sekarang.

Sayup-sayup terdengar suara Babang dan Pingkan yang sibuk memotong dan mengolah sayur untuk makan malam. Dengan gontai gue mulai bangun karena satu alasan, pengen B.A.B. Toilet berada tak jauh dari tenda, dan gue baru ngeh kalau di pondok saladah buaaanyyaakkk warung penjual makanan. Camping disini nggak bawa logistik rasanya masih akan tetap tertolong.

Di toilet, beberapa orang sedang mengantri, di samping juga ada yang sedang mengambil air. FYI, suplai air di Papandayan benar-benar melimpah. Airnya mengalir deras dan jernih. Sanitasi, persediaan air dan kebersihan bukan lagi masalah.

Tahu gitu gue nggak perlu bawa botol ukuran 1,5 liter berbiji-biji yang bikin Mas Ris nanjak dengan penuh beban dan derita #eh, tinggal ambil saja disini. Anyway, berkat sanitasi yang bagus, terhitung gue boker sampai 4 kali #wkwkwkwk. Yang penting siapin duit aja buat masukin ke kotak di depan toilet.

Setelah urusan belakang selesai, gue kembali ke tenda dimana Babang sedang curhat. Ternyata dia membahas teman-teman kami yang pergi ke tegal alun dan belum kembali. Bahkan Babang kepikiran gimana yah kalau tujuh orang ini tersesat atau kenapa-kenapa. Dan kenapa tadi ngijinin mereka pergi, which is terpisah dari kami.

Sambil menyiapkan cemilan bolu Meranti #uhuk kami juga menyiapkan minuman hangat agar mereka bisa makan dan minum setelah tiba. Tepat jam 18.30 WIB, mereka akhirnya kembali dengan selamat dan utuh #alhamdulilah #wkwk. Kamipun segera menyiapkan makan malam.

Malam itu, entah kenapa Papandayan sangat dingin sekali. Makin malam makin dingin, kami mensiasatinya dengan minum minuman hangat sambil menunggu makanan matang. Menu dinner kali ini ala-ala warteg: nasi, sop, tempe orek, tahu dan tempe goreng, chicken wings dan sambal.

Adegan berikutnya adalah momen yang merusak gambaran gue tentang cewek yang hobi diet, nggak mau makan banyak dan takut gendut. Tepat setelah semua menu disajikan, kami mengambil makanan dan cewek-cewek pada “ngegas”. Entah setan apa yang merasuki mereka sehingga mengambil makanan dengan geragas dan beringas.

“Buset.. buset.. ini koq cewek-cewek ngambil makannya lebih beringas ya daripada yang cowok,” kata gue yang mau nyendok nasi aja kayak rakyat mau ketemu presiden tapi dicegat paspampres.

Namun bukannya mengendur atau ngerem, cewek-cewek ini tetap ganas mengambil makanan. Bahkan ganasnya melebihi korban banjir di tenda pengungsian yang baru dikirimin logistik #imaginethat. Saking beringasnya, sup sampai tumpah ke flysheet yang jadi tatakan #wkwkwkkwk. Yowislah, yang penting semua kebagian makan.

Selesai makan malam, awalnya Babang ingin ada quality time atau ajang perkenalan atau semacam itulah. Namun setelah makan, hampir semuanya mager. Cewek-cewek merapikan dan membersihkan makanan (ya iyalah, mereka makannya paling sadis), lalu menggantungkan sisa makanan dan sampah di atas tali yang sudah dibuat agar tak diendus oleh omen.

Gue kembali ke tenda (kali ini dengan posisi tidur yang benar, kepala di tanah yang tinggi) untuk beristirahat dan terlelap. Tengah malam gue terbangun dengan badan mengigil, di sebelah gue ada Mas Ris, Achmadi dan Mas Achi yang sudah mengambil pose dengan sleeping bag masing-masing (dan gue tidur nggak pake sleeping bag #ckck).

Mas Ris yang masih terjaga akhirnya mengambilkan sleeping bag gue, namun tengah malam itu gue mendapat panggilan alam, lalu keluar menuju tolilet. Apa yang terjadi? Sepanjang berjalan menuju toilet gue merinding disko dan berjalan dengan gemeletukan karena kedinginan. Memang benar, di musim kemarau gunung akan lebih dingin di malam hari.

Selesai urusan belakang dan kembali ke tenda, tidurpun kembali dilanjutkan (kali ini sudah diselimuti sleeping bag). Sayang seribu sayang, gue kembali terbangun karena mendengar suara ngorok Mas Ris dan Achmadi yang konser sahut-sahutan di tenda #myears. Belum lengkap, di seberang tenda terdengar suara ngorok Babang yang nyahutin ngorok mereka #ohLord.

IMG_1457

Akhirnya gue kembali tertidur. Namun tiba-tiba dibangunkan (lagi) dengan suara yang sangat mengejutkan.

“Ada maling… ada maling.. jangan dikejar itu malingnya.. kejar itu maling..!!” (Aslinya, narasinya sangat panjang, tapi cuma ini yang gue inget)

Gue pun kembali melek gara-gara mendengar suara yang sangat jelas dan kencang itu. Ternyata di pojok tenda, Mas Achi tidur sambil mengigau tentang maling, entah dimana malingnya.

“Dia ngigo ya,” tanya Achmadi yang ikut terbangun ke Mas Ris.

“Iya, ngigo,” jawab Mas Ris yang kebangun juga.

Gue pun mencoba untuk tetap tidur dan nggak nimbrung, sambil berdoa semoga tenda kami nggak kemalingan atau digerebek karena ada maling #lho. Nggak nyangka, ternyata gue bisa dengar Mas Achi live bikin Fiksi Mini di atas gunung, bukan di hari kamis malam di grup KUBBU #wkwkwk.

Malam itu sungguh panjang dan melelahkan, ditambah dengan mendengar konser musik ngorok + fiksi mini dengan tema “MALING“, kurang bahagia apa coba kalau lu ada di posisi gue.

Anyway, besoknya gue mendapat cerita. Waktu Babang ngorok, Siska kaget terus bilang ke Titi dan Leni.

“Ada babi.. ada babi..”

#bolehketawanggakya
#wkwkwkkwkwkkw

CHAPTER 5: “Para Pendaki Manja”

Jam 5 subuh kami terbangun. Its time to hunt the sunrise! Katanya sunrise di hutan mati sangat indah. Dari pondok saladah juga dekat, sekitar 10 menit. Kamipun bersiap-siap kesana, namun Kal, Eva, Mas Ris dan Babang memutuskan untuk melanjutkan molor (dan mungkin “konser”-nya).

Kami berangkat dan menyaksikan sunrise di hutan mati untuk mengabadikan momen tersebut. Ada yang bergaya ala-ala winter di koreyah, ada pula yang seperti mendapat hidayah lalu hijrah dan berjilbab syar’i. Tak lupa menggunakan liptint biar bibir yang “katanya” udah merah tambah menor dan merona.

(Untuk lebih jelasnya, lihat foto-foto di bawah ini aja ya)

Waktu mulai beranjak, kamipun harus kembali untuk beres-beres, memasak sarapan, dan #ehem menghitung duit sharecost. Kebetulan, gue sudah meminta Kalena untuk menjadi bendahara dan sekretaris trip ini secara mendadak, untungnya dia mau #wkwk.

Selain itu, Babang mengusulkan agar keril kita dibawa turun menggunakan ojek motor. Satu keril Rp 25.000 dan satu motor maksimal bawa enam keril alias Rp 150.000. Tentu saja, kalau bisa ojek keril dibayar pake duit sharecost. Hahaha #ketawakecut.

Btw, masih ingat cerita di pos pondok saladah waktu gue ditanya berapa jumlah kami? Jadi, gue mau nagih Lia duit sharecost logistik + ojek keril, apalagi kita ketemu dia di basecamp yang artinya dia sudah bayar simaksi sendiri (karena sudah ditagih di pintu masuk/gerbang loket).

Yang mengejutkan, ternyata Lia masuk ke Papandayan nggak bayar simaksi #WTF. Jadi, dia dianterin sama keluarganya terus waktu masuk dia bilang kalau teman-temannya sudah di dalam. Jadilah Lia diperbolehkan masuk, tanpa membayar simaksi.

Yah, karena dia asli Garut dan mereka ngomong pake bahasa sunda, mungkin akhirnya dia lolos dan dikasih-kasih aja masuk ke Gunung Papandayan (dengan gratis, catat itu!).

IMG_1264

“Lah, jadi maneh asup kadieu henteu mayar kitu,” gue bertanya dengan penuh takjub.

“Henteu,” jawab Lia.

*terjemahan:*
“Jadi lu pake pelet apa sampe dikasih masuk gratis ama petugas?”
“Kepo deh.”

Oke, setelah urusan menagih biaya sharecost selesai, dan ternyata masih bisa buat bayar kang ojek, perjalanan turun dimulai. Probo bawa kerilnya sendiri, sementara Leni kerilnya nggak mau diojekin tapi minta dibawa sama Mas Ris #sangattjerdast. 12 keril diojekin, artinya kami bayar Rp 300.000 untuk ojek keril.

Dahsyatnya lagi, ternyata si kakang ojek malah mau bawa semua keril sekaligus dengan satu motor. Luar biasa! Namun ketika jalan, belum sampai 5 meter tiba-tiba motor oleng dan si kang ojek berhenti dan ngencengin iketan lagi #hallaaahh.

Anyway gue pun melapor ke pos kalau kami akan turun (noted, 13 orang ya #wkwk). Dan ternyata kami juga bisa menitipkan trashbag berisi sampah disana. Sungguh gunung yang memanjakan pendakinya. Ke-14 pendaki manja berangkat turun, tanpa harus membawa keril dan juga trashbag. Kami turun melewati hutan mati yang membuat gue ngedumel dalam hati.

“Bahhh, ternyata lewat hutan mati bisa tembus. Jalannya lumayan rapi pula dan lebih deket. Tahu gitu kemarin pas naik lewat sini aja daripada muter jauh-jauh sampe ke ghober hoet segala yang jalannya berbatu-batu.”

Tapi ada faedahnya juga sih, jadi kita ngelewatin semua jalur (walaupun katanya ada jalur lain menuju hutan). Jadi nggak penasaran kalau ke gunung manja ini lagi.

Meski sudah tidak membawa keril, ternyata kondisi badan tidak bisa dibohongi. Menuruni anak tangga, gue lumayan ngos-ngosan. Bahkan Pingkan bilang gue terlihat kepayahan. (Yah namanya juga my body is not delicious)

Setelah perjuangan melewati tangga dan jalan terjal berbatu-batu selama kurang lebih dua jam, akhirnya kami sampai di camp david dimana keril kami sudah digeletakin disana oleh kang ojek. Pendakian ke Papandayan pun selesai. Para pendaki manja, kalian luar biasa!

CHAPTER 6: “Money Talks”

Setelah sampai di camp david, ternyata urusan belum beres, apalagi kalau bukan urusan duit sharecost (SC). Kalau dihitung-hitung, kasarnya jumlah SC kami sekitar Rp 360.000/orang. Ini sudah termasuk tiket bus PP Jakarta-Garut, simaksi, biaya antar-jemput naik Avanza, sharing logistik dan ojek carrier.

Vivi memutuskan untuk pisah dengan kami karena mau mampir ke rumah Lia (artinya biaya SC-nya berkurang). Jadilah kami pulang hanya ber-12 saja. Setelah menagih semua orang dan gue sudah siapin duit buat bayar sewa Avanza, tiba-tiba Kalena nyamperin gue.

“Nih Den, duit sisa sharecost masih ada sejuta lebih,” kata Kal.

WWHHAAAATTTT…!!!

Gue tercengang, karena jika dipotong tiket bus sisanya masih seabreg-abreg. Koq bisa sih sampe nyisa sebanyak itu #iniserius.

“Hah, beneran?? Koq banyak amat yah??” tanya gue terheran-heran namun dengan hati sedikit gembira dan sorot mata membentuk simbol dollar, eh rupiah maksudnya.

“Iya, ini juga Achmadi masih kurang dan belum bayar sisanya. Nanti mau nyari ATM dulu di bawah.”

“Oke, coba kita hitung (gue membuka kalkulator). Sisa duit + SC sisa Achmadi = (jumlahnya sekitar sejuta lebih), terus – tiket bus prima jasa (sekitar 600k lebih). Lalu sisanya = 4xx.xxx.”

Gue menghela napas dan menelan ludah sedikit.

“Lhoo.. koq sisanya banyak amat yah. Wkwkwkwk,” kata gue.

“Kamu salah ngitung nggak?” tanya Kal.

“Ya udah, kalau gitu duit sisa SC kita tilep aja ya, wkwkwkkw,” ujar gue, dengan nada nggak serius tentunya.

“Wkwkkwkwkwwk.” 

Mas Achi yang melihat kami heboh sendiri bertanya ada apa, dan kami bilang sisa SC masih ada banyak (dan CP bisa menang banyak #eh #wkwk). Entah gue salah ngitung atau gimana, padahal kalau bener sisa ya bagus juga sih, kan lumayan buat bayar sharecost ikut trip ODT BPJ buat 2 orang #lho #wkwkkwkwk.

Akhirnya kami semua berangkat pulang menuju terminal. Di perjalanan dalam mobil, gue masih kepikiran soal duit sisa SC (ditilep jangan yah #wkwkwk). Bahkan masih menjadi perdebatan di mobil, sampe-sampe gue takut duit SC itu kecampur sama duit pribadi Kal.

“Gini aja, nanti dihitung aja berapa sisanya, terus dibagi rata aja,” Babang menyarankan.

“Atau nggak dicek di catatannya. Nanti ketahuan kenapa bisa lebih,” kata Mas Fiksi Mini, eh maksudnya Mas Achi.

Oke, kita memang membuat catatan pemasukan dan pengeluaran. Namun sudah banyak coretan sana sini dan butuh konsentrasi juga buat meriksain satu-satu. Sementara gue punya penyakit kepala gampang “puyeng & mabok” kalau main HP atau membaca pas lagi di mobil/bus/kendaraan lainnya, dan Kal punya penyakit yang sama.

Tak lama, kami sampai di terminal. Itupun juga salah TKP karena bus yang ingin kami tumpangi tidak ada yang dari sana (gue lupa nama terminalnya). Beruntung, petugas terminal menghubungi terminal lain dan mencari bus yang masih ada slot 12 kursi kosong, serta diarahkan untuk menjemput kami.

Bus kemudian datang dan kami akhirnya bisa pulang #finally. Saat itu sudah jam lima sore, nggak kebayang sampai Jakarta jam berapa, mungkin tengah malam. Kebetulan, perjalanan pulang cukup macet dan bus stuck di tempat. Di kesempatan itulah rasa penasaran gue muncul.

Meski kepala sedikit mabok, gue membuka catatan penuh coretan tersebut dan menghitungnya. Dan….gue ketemu letak kesalahan kenapa duit sc sisanya bisa seabreg-abreg. Mau tahu? Mau tahu aja atau mau tahu banget?? Kepoh deh ah, wkwk.

Jadi gini, gue sedang menghitung-hitung biaya logistik. Kami memang menlisting belanja logistik yang akan dibeli oleh salah satu dari kami, lalu mengembalikan uang yang dipakai untuk membeli logistik tersebut 100% (nanti biaya patungan logistiknya dimasukkan ke dalam biaya sharecost).

Ternyata ada salah perhitungan.
Pertama, Eva bilang belanjaannya sekitar 250k, kami kembalikan 250k tapi dia hanya mau diganti 200k saja, dan Kal lupa kasih tahu gue. Kedua, gue memasukkan biaya ojek keril ke dalam logistik, tapi kemudian menuliskannya lagi secara terpisah dan jadi dobel (pe’a kan CP-nya). Pantes aja sisa SC bisa seabreg-abreg, gue nulis duit 300k sampe dua kali #hadoh.

Belum lagi gue juga ada salah hitung biaya SC Lia dan Vivi yang nggak ikut full. Akhirnya gue langsung chat Kal (di bus kami duduk berjauhan).

“Kal, duit sc sisa berapa?”

“300an Den, tadi sebagian udah dipake buat beli cemilan dan minuman (buat kami semua,- red) di terminal.”

“Oke, nanti kalau udah sampe dihitung lagi berapa, terus balikin sisanya.”

“Iyaaaa.”

Finally, setelah perjalanan sekitar 7-8 jam kami sampai juga di ibukota tepat pukul 1 malam. Kami tiba di pool bus, hhmmm apa yah itu, pokoknya daerah Jaktim deh (nggak tahu namanya apa, maklum bukan anak Jaktim #wkwkkwk). Setelah turun dan mengambil barang-barang, gue meminta mereka untuk jangan pulang dulu.

“Teman-teman mohon maaf.. ehem, ternyata sc kita ada salah hitung,” kata gue.

Terlihat beberapa wajah yang mulai asem. Habis ngantuk dan capek di jalan, ternyata masih ditagih duit, mungkin begitu pikir mereka.

“Jadi duit sc kita kelebihan, dan sisanya akan dikembalikan,” ujar gue yang dibalas dengan senyum merekah di wajah mereka dengan mata bersimbol rupiah #wkwkkwk.

Sharecost masih tersisa Rp 322.000, dan dibagi kami ber-14, setiap orang dikembalikan Rp 23.000 (punya Lia dan Vivi dititipkan ke Achmadi). Lumayan bisa buat beli nasi padang pake rendang + kikil, asal belinya bukan di Rumah Makan Padang Sederhana karena harga makanan disana bisa membuat kita hidup sederhana seketika.

Setelah urusan bayar duit selesai, kami berpamitan dan pulang masing-masing. Ada yang naik busway, ada yang naik gojek, ada yang naik grab car. Perjalanan dan petualangan para pendaki manja akhirnya selesai.

Bye bye…

EPILOG

Papandayan memang terkenal sebagai gunung manja. Dan setelah mendaki beberapa gunung, gue mengakui kalau gunung di kota Swiss Van Java ini memang sangat cocok untuk pemula. Kemudahan akses transportasi, jalur trekking yang pendek dan bersahabat (kalau lewat hutan mati menuju pondok saladah), sanitasi yang baik serta banyaknya warung penjual makanan tentu sangat memanjakan pendaki.

Ditambah lagi, jika mereka lelah dan males bawa keril tinggal sewa ojek aja. Bahkan kalau nggak bawa tenda sekalipun, mereka masih bisa tidur di bangunan seperti bale-bale di pondok saladah (eh, ini nggak tahu boleh nggak ya #wkwk), asal kuat dingin aja karena bangunannya semi terbuka.

Gue sendiri masih punya PR karena belum ke tegal alun, entah kapan gue remedial dan kesana lagi. Namun kalau kesana sepertinya gue akan mendaki super manja. Maybe hanya membawa tenda saja dan makan tinggal beli di warung. Bahkan gue berencana mengajak sohib-sohib gue yang lebih hobi jalan-jalan cantik itu untuk mencoba camping di gunung.

Terima kasih Papandayan, untuk pengalaman yang tak mungkin bisa diberikan oleh gunung lain. Meski harga simaksinya cukup mahal, tapi sebanding dengan fasilitas yang diberikan. Suatu hari, si pendaki cantik dan manja ini akan menginjakkan kaki disana lagi dan membuat kenangan baru.

Salam manja dari si pendaki cantik..

IMG_9653 (1)

Advertisements

76 thoughts on “Para Pendaki Manja

  1. Wkwkwkw aku ngakak di banyak tempat nih. Dibagian ekspresi kecapean Mas Ris, Ngorok Babang dan terjemahan bahasa sunda~~
    Sungguh sebuah post yg ajaib dan menyenangkan untuk dibaca. It’s a nice reading experience. Literally which is good #terJaksel

    Like

    1. Thank you so much for nyisihin your time buat baca blog ini 🤭🤭
      Masih ada banyak cerita koq yang nggak ditulis disini karena takut kepanjangan 🤣

      Like

  2. Sepanjang baca nggak berenti ketawa hahaha
    Apalagi pas bagian saut-sautan ngorok, seru banget cerita kalian di sana. Itu jalur pas pendakian lumayan juga ya, udah nanjak berbatuan lagi. Nggak kebayang kalo jadi ikut mungkin mogok di jalan gue haha
    Btw apaan sih itu terjemahan Bahasa Sunda jauh banget artinya -_-

    Like

    1. Oiy, Antin ngerti nyunda ya.. 🤣🤣

      Sebenarnya sih pas jalur mendaki agak landai, cuman muter dan berbatu-batu. Gue baru ngeh kalau misal naik lewat jalur yg kita turun itu lumayan nanjak dan engap jg.. 😂😂

      Mungkin karena kemarin itu kita turun dan nggak bawa keril, jadi keliatannya nggak berat. Kalo naik lewat situ sambil gendong keril sih berasa jg.. 🤣🤣

      Like

    1. Waduh kaedah penulisan gimana ya Mbak Maria? karena blog ini saja tata cara penulisannya sengaja nggak EBI.. 😅😅😧

      Anyway thx sudah reading my story. Moga kapan² kita bisa nanjak bareng.. 😁

      Like

  3. Wkwkwk.. Puas banget ngakakk baca ceritanya..
    “Pas mau nyendok nasi, disela.. Itu kayak mau foto sama presiden di cegat paspampres” super lebay but real.. Wkwkwk..

    Trus.. Kalau bagian ngigo sama ngorok di sambung.. Jadi nya.. “Maling babi” wkwkwk..
    Hadugh.. Sumpe dah.. Ketawa mulu..

    Cukup kaget juga ngeliat banyak banget perubahan di Papandayan melalui foto yg di upload..

    Kita punya PR yg kebalik Den..
    Dirimu belum pernah ke tegal alun.. Aku belum pernah ke Pondok Saladah.. Masih wacana.. Hehe ..

    Like

    1. Lhoo..
      Mbak Evi emang ngecampnya dimana kemarin itu? Bukan di Pondok Saladah?

      Wkwkkwk.. bukan lebay tapi kemarin mau nyerok nasi susah banget gara² rebutan sama cewek² beringas.. 😂😂😥😤🙄

      Like

  4. Hahaa gokil yaa pendakian yg penuh drama, apalagi pas drama di bis yg marah2 sama kenek bis nyariin tas ternyata tasnya ada di bangku bis duhh kasian juga kenekny ga salah kena marah untung ga disuruh turun sama keneknya gegara abis marah2in tu kenek wkwk , lengkap banget deh ceritanya

    Like

    1. Nggak koq, kejadian pas marah² ama kenek bus itu di luar. Kan bagian bawah bus itu bisa jadi bagasi dan buat muat barang, disitulah Leni dan abang kenek berdebat mesra.. 🤣🤣😂

      Makanya pas tahu mereka lagi cari totes bag itu gue turun ke bawah, terus suruh mereka naik karena barangnya sudah ada di bus..🤭🤭

      Like

  5. Di lihat dari view nya is so very beautiful and awesome beda banget dulu pernah ke sana 2016, pertengahan tahun which is edelweiss lagi bermekaran yang htm nya 15k atau 25k gitu.. Papandayan sekarang banyak perubahan yaa

    Like

    1. Wah suhu gunung muncul nih 🙇🏻🙇🏻

      2016 itu lagi masa peralihan dari pihak pengelola. Sekarang papandayan dikelola sama pihak swasta dan banyak perubahan..

      Dari pos dengan bangunan gazebo permanen, toilet di tiap titik sampai tong sampah. Bahkan trek awal yang dulunya tanah sekarang sudah diaspal..

      Like

    2. Tiket masuknya 30k, kalo camping bayar lagi 35k. Jd total 65k, tapi ini harga weekend. Kalo weekday tiket masuk 20k, tapi camping tetep 35k.. 😁😁

      Btw sekarang disana sudah ada kolam renang dan pemandian air panas jg lho, harganya 25k. Mayan abis nanjak bisa langsung berendem.. 😂😂

      Liked by 1 person

    1. Bahahhahahah…
      Bukan kuncen, masi nubitol di gunung. 🤣🤣

      Cobalah sesekali naik gunung. Kalo soal dingin itu faktor musim aja sih, musim kemarau biasanya lebih dingin..

      Like

  6. Anak selatan bgt nih. Hehehe.. tbh, agak geli sih bacanya hahaha *piss bang

    Anyway, dulu gue sempet took a nap tuh di tegal alun. Sorenya langsung turun hehe

    Like

    1. Hahahha..
      Cmn nyadur kalimat anak jaksel, aslinya mah gw anak jakut.. 😂😂
      Weh, tektok yah cmn mampir ke tegal alun trus balik. Mantul.. 👍🏼👍🏼

      Like

  7. Ini dari awal cerita sudah ngakak duluan. CP yang tertarik acara musik di UI. Terus kak Ris, mas Achi yang live fiksi mini. Luar biasa. Salut bisa menceritakan kondisi seperti ini. Sisa SC nya ga masuk ke sekret BPJ seperti trip2 biasanya…wkwkwk

    Like

  8. Hai Bang Den…saya sangat terkesan dengan catatan para pendaki manja ke Papandayan. Tentang gunung cantik tsb sudah seringkali kita denger. Tapi, gaya penuturan Bang Den itu yang unik, segar, kadang sedikit ngeselin (karena saya keasyikan baca sampai beberapa kali) yang membedakan dari tulisan lain… hehehe ditunggu tulisan seru penuh narasi khas Bang Den berikutnya ya…

    Like

    1. Nuhun teh.. 🙏🏼😊
      Kebetulan aja pas ke papandayan kemarin banyak cerita menarik yang bisa diceritakan. Jadi saya tulis di blog ini..

      Like

  9. Ceritanya lengkap banget Kak Denyyy hehehe. Pas baca ceritanya jd punya keinginan lagi bt naik gunung. Soalnya belum pernah. Terus dilarang sama orangtua. Jadi sempet mengubur dalam2 keinginan bt naik gunung 😦

    Like

    1. Haduh, ini yg katanya mau naik gunung tapi gak dikasih² ya.. 😁
      Coba ke gunung² yang ringan dulu aja kaya lembu, bongkok sama parang di Purwakarta. Gak terlalu berat dan cocok untuk treking santai..

      Like

  10. Ahhh keren, bener2 sedih waktu itu ga ikut, apa daya sepupu ogut pake nikah di hari itu sih. Dan ngakak banget di bagian Penampilan Mas Ris kaya suami yang dimintain duit belanja sama istrinya ahahhaha

    Like

  11. Ya Allah Leni memang trouble maker sejati.. wkkwwk pas baca part bang kenek.gue kesel lagi.. zzzz.. btw gue mah nanjak itu gue bukan foto2 euy.. tapi ganti baju terus nungguin neng siska.. hahah.. lo harusnya ikutan ke tegal alun.. ada drama ftv lagi.. dengan kamu ber7 tokohnya 😂😂

    Like

    1. Oohh.. Nungguin Siska ganti baju, gw pikir masih foto².. 🤣
      Karena ada yg bilang (lupa siapa), mungkin Leni ama Siska masih foto² di gardu pandang..

      Like

  12. Tuhan mengizinkan gue untuk melihat keindahan dan kemegahan Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu dari kejauhan di puncak Gunung Prau terlebih dahulu. >>> aku terjebak bacanya, wkwkk.. Kirain udah naik banyak gunung itu, ternyata dari Prau.

    Like

  13. Seru banget sih perjalanan kalian haha.. Btw kalau tu carrier dibawain tukang ojek, yang punya carrier boleh juga kan? Menakutkan enggak? Asik tuh kalo tiba-tiba udah nyampe atas gitu.. maulah aku Den..

    Like

    1. Kemarin sih saya lihatnya kebanyakan bawa keril. Mungkin kalau bawa orang mereka mau aja angkut tapi tarifnya beda.. 😆😆

      Tapi kalau udah diojekin kerilnya mending jalan sendiri aja, kelewat manja sampe orangnya mau diojekin juga.. 🙊🙊

      Like

    1. Rata-rata ke Papandayan sekitar 350k. Itu bisa all in termasuk makan..
      Kalau kemarin kita jadinya 337k/org..

      Lebih baik mendaki pagi, jam 6-7 sudah berangkat. Paling lambat jam 11 sudah sampai camping ground baik di Pondok Saladah atau Ghober Hoet..

      Like

  14. Lengkap kap kap sekaleehh hahaha. Baca di awal2 seperti lagi sdg membaca ulang percakapan hehe.
    Btw ini udh boleh dipanggil mas drama atau blm? 😂 krn hidupnya dikelilingi oleh drama manjah yaah hahaha.
    Duh ini aku ngikiknya bwanyak sekali 😅😅

    Like

  15. Den…ngebius banget ini catper, bengong bacanyaa gilee, detail banget cakep memorimu den…ckckck, seru banget tripnya ya padahal ga banyak juga pesertanya..

    Like

  16. Ya ampun byk foto aku ternyata, senang liat dan bacanya. Bahagia adalah saat turun tanpa keril, bisa jeprat jepret bebas. Belum lagi uang SC yang masih kembalian… ahh suka bgt sm trip ini.

    Like

  17. wakakaka ini toh cerita lengkap ke papandayan
    pengen kesana dah kalo tau logistik bisa diojekin.
    Badan gw kan gendut den, kuat ga ya nanjak ke sana. Secara lo aja yg kurus gt udah kecapean ngedaki.

    Like

    1. Bukan logistik, tapi keril yg diojekin. Disana gk bawa logistik makanan jg bisa selamat, wong banyak kantin..

      Sangguplah kalo kakak Inez mau kesana.. 😁

      Like

  18. Kalian beruntung banget ke Gede di musim kemarau. Meski lebih dingin tapi ga kerepotan karena hujan yang merembes ke dalam tenda. Seru banget ya kalau perginya bareng temen-temen yang udah kenal lama. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s